
Bagi like ama komennya, euy!
Tiap hari scroll-scroll komen, seneng banget tiap kali liat angkanya nambah. berasa episodenya drama Korea Love Alarm nambah 😍😍😍
Cuz ...
💃💃💃
Putra tetap tidak mengangkat kepalanya. Sebenarnya masih ada yang membuat Putra penasaran: apa rencana Arga sebenarnya. Namun, usai mendengar sindiran Arga tadi, sepertinya Putra harus menimbun rasa penasarannya itu dahulu.
“Tidak ada, Tuan,” jawab Putra akhirnya.
“Lalu bagaimana hasil penyelidikanmu tentang Alma Benita?” Arga merubah topik obrolannya.
“Maaf, Tuan,” ujar Putra penuh peyesalan, “sampai sekarang aku belum menemukan sedikit pun jejak dirinya.”
Arga merebahkan kepalanya ke punggung kursi mobilnya sembari mengeluarkan napas melalui mulutnya. Kemudian sudut bibir kirinya menaik kembali.
“Rupanya ini masih jauh sebelum mencapai puncak,” gumam Arga.
-oOo-
Baru saja memasuki halaman, Meta sudah disambut oleh Bu Astri.
“Nyonya dicari ke mana-mana ada di sini, tho,” ujar Bu Astri yang rupanya memang mencari Meta.
“Emangnya ada apa, Bu Astri?” tanya Meta penasaran.
“Tadi ada telepon buat Nyonya,” jawab Bu Astri.
“Tapi, kan, Meta enggak bawa ponsel,” ujar Meta.
__ADS_1
“Pakai telepon rumah di ruang tamu,” timpal Bu Astri.
“Emangnya dari siapa, Bu Astri?” tanya Meta.
“Dari kantor majalah. Kalau enggak salah, dari majalah Maha Dewi, Nyonya,” jawab Bu Astri.
Seketika bola mata Meta membelalak. Itu, kan, majalah nomor satu se-Asia.
Tanpa mengeluarkan kata lebih banyak lagi, Meta langsung mengambil langkah seribu. Pokoknya Meta tidak boleh sampai melewatkan kesempatan ini!
Ini adalah impian Meta sedari dulu ….
… Bisa bekerja sama dengan majalah itu.
-oOo-
Galak mengembuskan napas berat. Ingin sekali ia menutup telepon yang menempel di telinganya, lalu membuangnya ke lautan. Ia muak mendengar ceramah ini sejak tadi.
Kalau bukan karena Pama adalah satu-satunya pekerja kesayangannya Vera, Galak mungkin akan melemparkan Pama beserta telepon ini sedari tadi.
“Tenang saja,” tutur Galak berusaha menenangkan Pama.
“Tidak ada apa-apa yang terjadi di antara kami.”
“Aku malah mempercepat pernikahan ini. Setelah tiga bulan, kamu bahkan akan berpisah.”
“Aku tidak tahu apa yang nenek inginkan, tapi aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi bersama rubah betina itu. Memang benar kata orang, saat berada di neraka, waktu akan terasa sangat lambat dibandingkan waktu biasa. Seperti itulah aku saat ini.”
“Soal ciuman itu …. Ah, ciuman sialan itu! Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi.”
“Cinta? Sudahlah, Pama. Teruslah bekerja. Jangan menyempatkan dirimu untuk menonton drama.”
__ADS_1
Setelah memberikan banyak jawaban untuk Pama yang hampir mati karena penasaran, Galak pun memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak.
Saat Galak mengangkat kepalanya, tiba-tiba Meta sudah berdiri di dekatnya dengan napas ngos-ngosan. Ada apa dengan perempuan ini? Apa ia baru melihat laki-laki yang lebih tampan dari Galak?
Ah, mana mungkin itu! Galak, kan, yang paling tampan!
“Telponnya Meta … mana telponnya Meta?” Meta melihat Galak dengan tanda tanya membalut wajahnya.
“Apa maksudmu?” tanya Galak tidak mengerti.
Meta mendorong telunjuknya ke arah belakang. “Tadi, kan, ada yang nelpon Meta. Katanya Bu Astri, itu dari kantor majalah Maha Dewi: majalan nomer satu se-Asia.”
“Oh, telpon itu ….” Galak manggut-manggut karena mengerti. “Iya, tadi ada. Mereka mau nawarin kita ngisi sampul depan majalah mereka bulan depan.”
“Terus kapan kita mulai melakukan pemotretan?” tanya Meta penuh antusias.
“Enggak kapan-kapan,” jawab Galak.
“Apa maksudnya Sayang Galak?” Meta tidak mengerti.
“Aku udah nolak.”
A-a-apa?
Meta tidak salah dengar, kan?
… Atau Galak yang salah bicara?
Benar-benar. Si tawon pasti telah berpindah tempat dari telinga Galak ke lidahnya.
Iya. Itu pasti ….
__ADS_1