
Galak melemparkan handuknya begitu saja. Kemudian bergegas melangkah pergi mendekati perempuan itu. Galak langsung menarik lengannya sampai perempuan itu berbalik.
“Eh. Sayang Galak!” pekik perempuan itu yang tak lain adalah Meta.
Galak menyipitkan matanya. Memerhatikan baik-baik kemeja yang membalut tubuh Meta dengan keadaan kebesaran.
“Kenapa kamu pakai kemeja aku?” tanya Galak dengan tatapan setajam pisau seakan menusuk masuk ke dalam mata Meta.
Bukannya takut, Meta malah meringis. Memang dasar Meta itu!
“Biar kayak di film-film. Kalau di film, kan, habis gitu-gitu, si cewek pasti pakai kemeja putih biar cool,” bela Meta dengan bangganya.
“Tapi kenapa harus pakai kemeja aku?” Galak mengulangi pertanyaannya.
“Kan, Meta sama Sayang Galak udah jadi satu. Berarti barangnya Sayang Galak, kan, barangnya Meta juga,” jelas Meta.
“Jadi satu?” Alis kanan Galak terangkat.
Meta menganggukkan kepala penuh percaya diri.
“Enggak akan pernah!” tegas Galak.
“Tapi, kan, kemarin malam kita udah jadi satu,” bela Meta.
__ADS_1
“Cukup kemarin malam dan enggak ada lagi!” tegas Galak.
“Kalau Meta enggak cukup, gimana?” tanya Meta.
Galak tidak menyahut. Ia hanya meninggalkan lirikan ketus, lalu pergi dari kamarnya dan malah masuk ke kamar Meta. Meta yang melangkah terburu-buru karena mengikuti kaki panjang Galak, terkejut akan tindakan Galak.
“Sayang Galak ngapain ke kamarnya Meta? Penasaran sama ranjangnya Meta? Sama aja, kok. Sama-sama nyaman asal ada Sayang Galak di samping Meta.” Meta malah bertanya dan menjawabnya sendiri.
Dasar Meta! Berapa banyak mercon yang ibunya makan saat masih hamil dirinya?
Galak tidak menyahut. Ia malah menadahkan telapak tangannya.
Meta tidak mengerti apa maksud Galak melakukan itu. Dengan bodohnya ia malah meletakkan tangan kanannya di atas tangan Galak. “Sayang Galak mau main, ya?” tanyanya.
“Kunci maksudnya,” jelas Galak.
“Kunci apa? Kunci masuk ke hatinya Meta? Sayang Galak tenang aja. Hatinya Meta enggak terkunci, terbuka lebar buat Sayang Galak. Jadi, kalau Sayang Galak mau masuk, enggak pakai permisi enggak papa, kok,” timpal Meta.
Galak mengembuskan napas, lalu menggeleng-gelengkan kepala. Sebenarnya ia tidak yakin kalau Meta memang bodoh sampai akar-akarnya. Akan tetapi, Galak sudah muak berbicara dengan perempuan yang selalu menyahuti ucapan Galak dengan mercon. Galak pun bergegas pergi menjelajahi setiap tempat di kamar ini. Ia menggeledahi setiap barang yang ada di sini. Mencari di mana saja kunci kamarnya yang sudah Meta simpan. Akan tetapi, Galak tidak menemukan satu pun. Padahal ia sudah mencarinya ke setiap benda, kecuali laci yang berisi celana dalam. Entah apa yang akan Meta pikrikan tentangnya kalau sampai menyentuh benda keramat itu.
Galak yang putus asa akhirnya mendekat ke Meta lagi.
“Mana kunci kamarku?” pinta Galak.
__ADS_1
“Kan, udah Meta kasih ke Sayang Galak,” timpal Meta.
“Maksudnya kunci lain kayak yang kamu pakai masuk ke kamarku kemarin malam,” jelas Galak.
Meta malah mengernyitkan dahi. “Meta enggak masuk ke kamar Sayang Galak pakai kunci, kok. Kan, pintu kamarnya Sayang Galak emang enggak dikunci,” elak Meta.
Galak menyipitkan matanya. Memerhatikan ekspresi yang terpampang di wajah Meta baik-baik. Galak tidak percaya dengan apa yang Meta katakan. Sialnya, bagaimana Galak bisa lupa dengan siapa ia berhadapan saat ini?
… Seorang rubah betina!
Percuma saja Galak memaksa. Perempuan itu terlalu licik untuk menipu siapa pun.
Galak benar-benar menyerah. Ia tak mau kena struk di tempat ini. Kasihan neneknya yang sudah tua. Vera pasti kesulitan untuk bepergian jarak jauh. Galak pun memutuskan untuk pergi dari tempat terkutuk ini!
Akhirnya Meta tersenyum. Sebenarnya ia ingin tertawa malah. Akan tetapi, ia khawatir kalau suara tawanya akan terdengar masuk ke telinga Galak.
Benar, kan ….
Tempat persembunyian terampuh adalah kotak celana dalam ….
-oOo-
Komen positifnya, please 🤗🤗
__ADS_1