
“Sayang Galak habis patah hati? Apa karena kemarin malam kita enggak ketemu? Jadi sayang Galak udah rindu sama Meta? Cie ….” Meta malah menyalah artikan maksud Galak.
“Enggak-enggak!” seru Galak.
Meta melirik kesal. “Tuh, kan. Ramah dari mananya?” sindirnya.
Rupanya Meta tidak tahu, bukan hanya Galak, siapapun akan berubah menjadi galak kalau punya istri sepertinya.
Galak menadahkan tangannya.
“Apa?” tanya Meta tidak mengerti maksud Galak. “Sayang Galak mau beli permen? Meta, kan, enggak bawa uang.”
“Kunci!” jelas Galak.
“Kunci apa? Kunci masuk ke hati Meta? Tapi hati Meta udah terbuka lebar, kok, buat Sayang Galak,” timpal Meta.
“Kunci kamar ini maksudnya,” terang Galak. Lama-lama ia jadi gemas sendiri kalau bicara dengan Meta.
“Tapi ini, kan, kuncinya Meta,” tegas Meta.
“Dan ini kamarku!” Galak lebih menegaskan.
Meta berdesah berat lalu mengunci mulutnya rapat-rapat. Sebenarnya ia tengah berpikir. Akhirnya ia malah menyerahkan kunci itu dengan pasrah.
“Iya, deh. Karena Meta ini istri yang baik, berhati mulia, dan tidak sombong … enggak papa, deh. Buat Sayang Galaknya Meta, apa, sih, yang enggak?”
Galak yang menerima kunci itu malah berdengus. Kalau seluruh istri baik seperti Meta, entah berapa banyak laki-laki yang akan mati muda.
__ADS_1
Usai menerima kunci itu, Galak beranjak dari ranjang. Ia memasukkan kuncinya ke dalam laci kecil di samping ranjang. Kemudian bergerak ke arah lemari untuk mengambil pakaian.
“Sayang Galak mau ke mana?” tanya Meta.
“Katanya mau olahraga,” timpal Galak. Ia menutup lemari dan mengarahkan langkahnya ke arah kamar mandi.
“Iya-iya. Meta tahu. Tapi Sayang Galak enggak mandi dulu, biar wangi?” tanya Meta lagi.
“Ini, mau mandi.” Galak mengangkat handuknya.
“Oh ….” Meta manggut-manggut. Kemudian ia menaikkan kedua pipinya. “Meta boleh ikut, enggak?”
“ENGGAK!”
Brak! Galak membanting pintu kamar mandinya.
“Oh, nenek …. Kutukan apa yang nenek lemparkan kepadaku ini?”
-oOo-
“Hatchi! Hatchi!” Tidak biasanya Vera terkena flu seperti ini. Ia memang tua, tetapi ia menjaga kesehatannya dengan baik. lalu kenapa tiba-tiba ia seperti ini?
Ah, sial! feeling Vera juga tidak enak. Ada apa ini?
Tok-tok-tok! terdengar suara ketukan dari pintu.
“Siapa?” sahut Vera.
__ADS_1
“Aku, Nyonya: Pama,” jawab pengetuk pintu itu yang tak lain adalah Pama.
“Masuk,” sahut Vera.
Pintu itu terbuka. Seorang laki-laki bertubuh tegap dengan setelah jas rapi masuk dari luar. Ia datang dengan menenteng sebuah tablet.
“Sudah kubilang, tidak perlu mengetuk kalau itu kamu,” tutur Vera mengingatkan.
Pama menunduk. “Maaf, Nyonya. Tapi aku adalah pekerja Nyonya yang masih berada di bawah Nyonya,” tolak Pama.
“Kalau seperti ini, baru kamu bertingkah sebagai pekerjaku. Biasanya nyahut ini nyahut itu,” sindir Vera.
Pama hanya tersenyum. Ia memang sudah lancang, tetapi ia tak pernah menyesal.
“Apa sesuatu sudah terjadi pada cucuku?” tutur Vera khawatir.
“Kenapa Nyonya berpikir seperti itu?” sahut Pama.
“Tiba-tiba aku merasa tidak nyaman,” jelas Vera.
“Mungkin karena Nyonya sudah lama hidup sendiri. Maklum, sejak kepergian Tuan Besar, Nyonya tidak mau melepaskan status janda milik Nyonya. Perlukah kucarikan pendamping?” tawar Pama.
.
.
.
__ADS_1
Ditunggu jempol ama komennya 🤗🤗