
Asal ada Sayang Galak, Meta akan suka?
Sepertinya kalimat itu tidak cocok untuk ekspresi di wajah Meta sekarang. Mulutnya terbuka karena ia belum selesai terperangah. Tubuhnya membeku, bahkan tak mampu hanya untuk mengangkat sudut bibir kecil di wajahnya.
“Kamu mau pesan minum apa? Es teh atau es degan?” tanya Galak.
Meski lehernya terasa kaku, Meta berusaha keras menggerakkannya sehingga wajahnya menghadap Galak. “Kita beneran akan makan di sini, Sayang Galak?” tanya Meta masih tidak mau percaya.
“Kalau enggak, ngapain kita duduk di bangku ini?”
Meta menurunkan tatapannya. Ah, sial! Duduk di bangku ini adalah penyesalan terbesarnya!
“Ini, kan, udah malam. Kita tinggal makan, udah, deh, jadi makan malam. Meski bukan kursi, bangku kita udah berhadap-hadapan. Terus … oh, ya, lilin—“
Galak menoleh ke belakang, menuju toko yang bertengger di sana. Ia pun mengangkat tangannya. “Pak!” panggilnya kepada laki-laki tua yang sedari tadi hanya duduk di atas kursi kotak di samping pintu, “minta lilinnya!”
Usai mendengar seruan Galak, laki-laki tua itu akhirnya bangkit dan masuk ke dalam toko.
Galak malah meringis seolah tak menyesal. “Tuh, kan, udah jadi dinner,“ tuturnya.
“Tapi enggak di warung pinggir jalan juga, Sayang Galak,” rengek Meta.
“Pokoknya, kan, makan malam,” timpal Galak.
“Tapi enggak elite sama sekali, enggak kayak di drama-drama, enggak kayak yang Meta lakuin sama Gana,” elak Meta.
__ADS_1
Galak menoleh. Rupanya laki-laki tua tadi sudah berdiri di belakangnya dengan sebuah lilin putih. Galak pun mengeluarkan selembar uang merah dari dalam dompetnya, lalu menyerahkannya kepada laki-laki tua tadi.
“Enggak ada kembaliannya, Pak,” kata orang itu.
“Kalau gitu, aku beliin lilin semua, Pak,” jelas Galak.
Laki-laki tua tadi pun pergi masuk ke dalam tokonya.
“Kalau gitu, sana, dinner aja sama Gana. Lagian perempuan-perempuan cantik yang mau senyumin aku masih belum punah,” sindir Galak.
Meta mengembuskan napas beratnya. Jika Galak sudah berkata seperti itu, apa yang bisa ia lakukan selain mengalah?
“Ya udah, deh. Meta puas asal sama Sayang Galak aja, deh,” kata Meta dengan suaranya yang terdengar lesu.
“Baksonya tiga porsi sama es degannya dua gelas,” jawab Galak.
Meta memerhatikan perempuan itu yang belum menurunkan senyumnya saat melihat Galak.
“Mbak-mbak, jangan senyum-senyum, dong. Ini suamiku,” larang Meta merasa cemburu.
“Aku cuma bersikap ramah, Mbak,” timpal perempuan itu.
“Tapi ya enggak senyum-senyum kayak gitu.”
Kedua tangan perempuan itu mengepal dengan erat. Saat berbalik, senyumnya pecah, ia malah menggertakkan gigi. Ia pun bergegas mendekati ibunya yang berdiri di depan gerobak.
__ADS_1
“Ada apa, Nak?” tanya sang ibu.
“Pelanggan itu kok ribet, sih, Bu. Enggak disenyumin katanya cuek, tapi disenyumin dipikir ganjen,” dumel perempuan itu.
“Lagi-lagi, kalau ada yang kayak gitu, sedia air panas,” saran sang ibu.
Perempuan itu diam. Sepertinya saran ibunya ada benarnya.
Laki-laki tua tadi sudah berdiri di samping Galak. “Ini lilinya, Pak,” katanya sembari menyodorkan lima kardus berisi lilin penuh.
“Makasih, Pak,” sahut Galak sembari menerima kelima kotak lilin itu.
Laki-laki tadi pun pergi.
Galak mendorong kelima kotak lilin itu ke arah Meta. “Tuh, kalau mau dinner tinggal pasang lilin aja di meja makan,” katanya.
Meta memalingkan wajahnya sembari berdengus kesal.
Perempuan anak si penjual tadi kembali bersama sebuah nampan besar berisi tiga mangkuk bakso dan dua gelas es degan. Ia memindahkan isi nampan itu penuh kehati-hatian sampai tidak sempat tersenyum.
“Mbak marah ya sama aku. Jangan judes-judes dong, Mbak,” sindir Meta.
Perempuan yang sedang memindahkan semangkuk bakso itu menghentikan gerakannya. Ia melemparkan lirikan setajam tusuk sate ke arah Meta. “Ini kalau dilempar panas, lho, Mbak,” tutur perempuan itu dengan nada mengintimidasi.
Kini Meta malah cengar-cengir tak berdosa.
__ADS_1