Suamiku Galak

Suamiku Galak
56. Di Balik Seorang Kasman 2


__ADS_3

Pengen banget bisa update 6 part per hari kayak dulu. Tapi aku malah notok di 4 part 😭😭😭 sore ujan, siang sibuk ama panen kacang. Semoga aja kalian enggak ada bosen-bosennya nunggu Babang Galak.


Cuz ....


💃💃💃


“Apa itu?”


“Galak Dirga Anggara, telah jatuh cinta kepada Meta Felicia.”


Arga tersenyum senis. Apa Kasman sedang melawak?


Seorang Galak yang setiap malamnya dihiasi para perempuan secara bergantian, malah jatuh cinta dengan mudah?


Tidak perlu bertanya, Arga sudah tahu kalau pernikahan ini hanyalah jembatan yang dibuat nenek tua itu, untuk menyerahkan istana keluarga Anggara kepada cucu kesayangannya seorang. Entah bagaimana nenek tua itu membagi hatinya. Padahal ia juga tahu kalau darahnya juga mengalir di tubuh Arga.


“Bagaimana kamu yakin?” tanya Arga.


“Aku sudah mengujinya, Tuan. Aku memeluk Meta tepat di depan Galak. Hanya butuh waktu beberapa menit saja sampai dia memecatku,” jawab Kasman.


“Bagaimana kalau kamu salah?” tanya Arga lagi.


“Apa Tuan berpikir hanya Tuan sendiri yang menginginkan hati Galak jatuh ke Meta?” sahut Kasman.

__ADS_1


Arga mengangkat alis kanannya.


“Masih ada satu orang lagi yang memiliki keinginan sama seperti Tuan,” imbuh Kasman.


“Maksudmu Meta?” tebak Arga.


“Benar, Tuan,” timpal Kasman.


“Bagaimana kalau perempuan itu tidak berhasil?” Arga terus memberikan pertanyaan untuk mengukur seberapa besar keyakinan Kasman. Karena besar kecinya keyakinan selalu menentukan keberhasilan.


“Tidak mungkin, Tuan. Aku tidak tahu itu, tapi aku yakin kalau ada yang sedang dia pertaruhkan dalam pernikahan ini. Makanya dia tidak akan menyerah. Lagi pula Meta tidak mungkin mau begitu saja tanpa mendapatkan ancaman,” jelas Kasman.


Kini Arga merasa puas. Inilah kenapa dia menaruh kepercayaan besar kepada laki-laki di hadapannya. Kasman selalu tahu segalanya, bekerja dengan baik, dan menghasilkan sesuatu yang memuaskan. Meski sebenarnya, laki-laki seperti Kasmanlah yang paling berbahaya.


“Baiklah. Aku puas dengan itu,” ujar Arga. Kemudian menarik sesuatu dari dalam sakunya dan melemparkannya setinggi mungkin.


“Itu kunci garasi di rumah. Kamu bisa pilih terserah mobil yang mana,” ujar Arga.


Kasman menaikkan sudut bibir kirinya. Ia cukup puas dengan imbalan yang ia dapatkan. Kemudian ia pamit dan masuk ke dalam mobil yang baru ia dapatkan bulan lalu.


Apa hidup semudah ini?


Karena setiap bulan mendapat mobil, Kasman sampai membangun garasi rumahnya seolah hotel.

__ADS_1


Usai mobil merah Kasman melesat dari lapangan, Arga masuk ke mobil bagian penumpang. Di depannya sudah ada Putra yang stay di posisi duduk pengendara sedari tadi. Putra pun melirik melalui kaca spion di atasnya. “Tuan,” akhirnya ia mengangkat suara.


“Apa?” sahut Arga.


“Apa Tuan merencanakan untuk menghentikan penobatan Galak sebagai ahli waris tunggal?” tanya Putra memberanikan diri.


Arga malah tertawa pelan. Menghentikan penobatan Galak hanya membuat kisah hidupnya terasa hambar. Tidak ada serunya.


“Aku tidak tertarik dengan warisan itu,” ujar Arga.


Putra mengernyitkan dahinya. Rupanya tuannya tengah memainkan alur plot twist.


“Bukankah warisan itu juga bagian milik Anda?” tanya Putra lagi.


“Aku hanya tidak tertarik,” jawab Arga.


Putra semakin heran. Memangnya ada orang yang tidak tertarik pada harta dan kekuasaan?


“Boleh kutahu kenapa, Tuan?”


“Kamu semakin lancang saja, ya,” sindir Arga.


Putra menunduk. Tidak lagi berani melihat wajah tuannya melalui kaca spion. “Maafkan aku, Tuan,” katanya.

__ADS_1


“Satu-satunya hal yang berharga dalam hidupku hanya ibuku, tapi ibunya Galak sudah mengambil apa yang berharga bagi ibuku. Kini Galak bahkan berusaha mengambil apa yang menjadi milikku. Maka kubiarkan saja. Lagi pula aku sudah memiliki kekuasaanku sendiri,” jelas Arga.


“Apa ada lagi yang membuatmu penasaran?” tanya Arga.


__ADS_2