
Mobil sport hijau Ian berhenti di depan hotel, di mana pesta penobatan Galak akan digelar. Entah, sejak kapan dia mendapatkan mobil baru lagi. Dia membuka pintunya. Kemudian mengitari untuk membuka pintu lainnya. Seorang perempuan bergaun kuning pendek berkilauan tertimpa cahaya lampu. Rambutnya menjadi keriting. Dihiasi tusukan rambut di kepala bagian belakang.
Pintu mobil menutup dan perempuan itu pun berjalan beriringan dengan Ian. Sebelum membiarkan kakinya memijaki tangga, Ian melemparkan kunci mobilnya dahulu pada seorang laki-laki berseragam hitam. Orang itu yang akan bertanggung jawab atas mobil hitamnya.
Kedua pasangan itu tersenyum menyalami setiap orang yang mereka temui. Ian bersikap bahwa penipuannya sebagai Kasman sekadar masalah sepele. Lagi pula, ada Arga di belakangnya, yang akan bertanggung jawab jika sesuatu sampai terjadi padanya. Entah, apa rencana Arga sebenarnya. Tanpa memberikan penjelasan, dia menurunkan titahnya agar Ian kemari.
Perhatian Ian dan Saras sama-sama berhenti pada seorang perempuan yang terus melambaikan tangannya. Perempuan itu tampil tak kalah cantik dari Sarah. Dia mengenakan gaun kuning panjang tanpa berlengan. Di bagian atas dadanya terbalut kain lace. Rambutnya kriting, terurai, berkilau tertimpa seluruh cahaya lampu, sehingga dia terlihat semakin bersinar, apalagi disertai senyumnya.
“IAN! IAN! IAN!” teriaknya tanpa memedulikan para tamu di sekitarnya.
“Dia siapa?” tanya Saras sinis. Tingkah perempuan itu terlihat rendah di matanya.
“Apa kamu enggak tahu? Dia itu Meta Felicia. Artis papan atas sebelum dia menikah,” jawab Ian.
Saras mengembalikan perhatiannya pada perempuan itu sembari menyipitkan matanya. Memperjelas wajah yang sempat tidak dikenalinya.
Ah, sebenarnya bukan wajah, tapi tingkah. Siapapun akan seperti Saras: terkejut melihat tingkah seorang artis yang aneh seperti itu.
Sedangkan Ian, dia justru melambaikan tangan sambil menjijitkan kaki. Dia menyambut Meta penuh antusias. Meta pun berlarian untuk mendekati Ian dan Saras.
Karena terus berlari, Meta tidak bisa memperhatikan sekitarnya. Akibatnya, dia tersandung sesuatu sehingga terjungkal ke depan, dan justru menjatuhi tubuh Ian. Karena terkejut, Meta sampai memeluk Ian. Sedangkan Ian hampir saja terjatuh. Untung saja ada meja bundar di belakangnya yang mampu menahannya.
Untuk beberapa detik, Ian terpaku merasakan getaran yang menabrak dadanya. Lalu embusan napas yang menggelitik di lehernya. Juga sedikit jeritan Meta yang terdengar manis di telinganya. Kalau bukan karena Saras cepat-cepat melerai, Ian tidak tahu apa yang akan terjadi padanya nanti.
“Ian. Maaf ya, gara-gara Meta, Ian jadi nabrak meja tadi,” pinta Meta dengan wajah memelas. “Tapi, Ian enggak papa, kan?”
Ian menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari memamerkan giginya. “Enggak, kok. Cuma punggung sakit. Tapi, sedikit, kok. Aku kan, kuat orangnya. Jadi, kamu tenang aja.” Ian mengedipkan sebelah matanya untuk membuktikan keadaannya.
__ADS_1
Senyum Meta mengembang. Ia puas dengan jawaban Ian.
“Tapi, Ian kok ada di sini?” tanya Meta setelah menyadari tuksedo hitam yang terbalut rapi di tubuh tinggi Ian.
“Oh, iya. Bos Besarku nyuruh aku kemari menggantikannya,” jawab Ian.
Meta mengerutkan dahinya. “Bos Besar? Ian udah dapat kerjaan lagi?”
“Iya, dong. Calon bini mau dimakanin apa kalau enggak kerja?”
“Kan, masih calon. Bukan bininya. Malu dong, porotin duit orang yang belum jadi keluarganya?”
Ian melirik ke perempuan yang masih berdiri di sampingnya. Perempuan itu tidak terlihat baik-baik saja. Wajahnya sedikit memerah, sedangkan pandangannya terbuang ke arah lain. Ian pun tertawa sangat keras untuk memecahkan kecanggungan ini. Ia terpingkal-pingkal sembari menjatuhkan lengannya di atas pundak Saras.
“Kamu lucu!”
Akhirnya, perhatian Meta pun jatuh pada perempuan cantik yang terus berdiam sedari tadi.
“Oh, ini, kenalin, Saras,” jawab Ian.
“Jadi, Ian udah menemukan cinta sejati Ian yang mau menerima Ian apa adanya tanpa melihat dari hartanya? Wah, hebat sekali bisa ada perempuan yang seperti ini!” Meta bertepuk tangan kegirangan.
“Emangnya, perempuan normalnya gimana?” akhirnya Saras bersuara.
Sejujurnya, Ian tidak berpikir kalau suara Saras adalah pertanda bahwa sesuatu yang baik akan terjadi.
“Ya, kayak Meta, dong. Yang pilih suami dengan mengutamakan hartanya dulu,” jawab Meta membanggakan diri.
__ADS_1
“Bukannya itu perempuan matre?”
“Matre yang wajar dong. Seorang perempuan, harusnya mencari seorang laki-laki berduit. Kalau laki-lakinya enggak punya duit, mau dikasih makan apa? Makan cinta? Sorry, Mbak. Beras belinya pakai duit.”
“Itu namanya mata duitan!”
“Enak, dong. Kalau mau jajan tinggal colok.”
Saras begitu gemas pada Meta sampai mengeratkan genggaman tangannya. Dia sangat berharap bahwa leher Meta berada di antara jemarinya. Pasti, dia akan puas terus mengeratkan kepalannya.
“Kalau aku ya, Mbak, aku enggak mau nikah asal cinta. Kalau ada cinta ya syukur. Kalau enggak ada, asal laki-lakinya pekerja keras, bertanggung jawab, dan mau mencukupi kebutuhan keluarga kayak Sayang Galak. Apalagi, Meta tuh enggak bisa dicukupin pakai hasrat aja. Meta tuh cukupnya sama berlian, jet pribadi, lamborgini; jadi, ya Meta cari yang mampu, dong.” Meta menyisihkan sedikit rambutnya—yang kabur dari barisan—ke belakang telinga.
Sudah! Saras sudah tidak kuat lagi berhadapan dengan perempuan aneh ini! Saras pun pergi dengan bibirnya yang mencebik. Mulutnya tidak mengeluarkan suara apa pun meski sekadar pamitan.
Ian meringis. Ia kebingungan harus bagaimana. Di satu sisi, dia harus mengikuti pesta ini sampai akhir. Sedangkan di sisi lain, ia belum mau kehilangan Saras.
Ah, sial! Kenapa Ian jadi terhimpit di antara dua orang menyebalkan, sih? Maksudnya Saras dan Arga.
“Aku nyusulin Saras dulu, ya,” pamit Ian tiba-tiba. Ia langsung berlari mengejar Saras.
Meta mengembuskan napas berat. Kini, ia sendiri lagi. Memang sih, ada banyak orang di sini. Namun, Meta tidak terlalu akrab dengan mereka. Lama meninggalkan dunia hiburan, ia merasa asing dengan keramaian ini.
“Apa kamu puas sudah menggoda laki-laki lain?”
Meta menoleh. Binaran dari matanya muncul. Senyumnya mengembang lebar.
“Sayang Galak!”
__ADS_1
“Bukannya Sayang Ian?”
-oOo-