Suamiku Galak

Suamiku Galak
18. Pergi Bulan Madu 2


__ADS_3

Hati Meta seketika patah saat melihatnya. Ingin menahan Galak, tetapi tubuhnya serasa membeku.


Brek! Pintu mobil bagian depan menutup. Meta berbalik. Rupanya Galak sudah duduk di depannya, di depan setir.


“O-om Galak …. Apa yang Om lakuin?” protes Meta.


Galak melirik sedikit. “Kayaknya udah jelas,” sahutnya.


“Kalau koper Meta dibuang, terus gimana liburannya Meta? Meta, kan, butuh ganti, butuh dandan, butuh segala hal …,” rengek Meta.


“Ya, itu urusanmu.”


Galak mulai menyalakan mobilnya.


“Om Galak! Jangan berangkat dulu! Koper Meta gimana?” Meta terus merengek. Berulang-ulang menoleh ke belakang. Kedua matanya berkaca-kaca. Pada akhirnya hanya bisa pasrah. Ia pun mengerucutkan bibirnya sepanjang perjalanan.


Meta berpikir Galak begitu jahat dan tidak memedulikannya. Padahal, beberapa kali Galak melemparkan lirikan. Ia melihat ke arah spion. Menemukan wajah marah yang terlihat begitu imut. Tanpa ia sadari, kedua sudut bibirnya mampu menaik tinggi.


-oOo-


Pesawat akan lepas landas sebentar lagi, sedangkan Meta masih gelisah dalam duduknya. Ia akan berlibur selama sebulan tanpa membawa apa pun selain pakaian yang ia kenakan ….


Apa itu bisa dipercaya?


Meta tidak bisa seperti ini. Ia pun bangun. Namun, Galak lebih sigap menahan tangannya.

__ADS_1


“Apa yang mau kamu lakukan?” tanya Galak. Ia menarik keras tangan Meta sehingga perempuan itu terpaksa duduk kembali.


“Enggak, Om. Meta enggak bisa pergi sekarang,” jawab Meta.


“Apa kamu gila? Pesawat akan terbang sekarang,” tegas Galak.


“Om Galak yang gila!” Meta lebih menegaskan, “gimana Om Galak bisa ninggalin semua barang-barang Meta? Terus gimana Meta tinggal di sana selama sebulan?”


“Enggak papa. Udah. Nurut aja,” timpal Galak.


Galak melepaskan tangan Meta. Perempuan itu tidak terlihat akan kabur sekarang juga.


“Om Galak yakin?” tanya Meta.


“Iya,” jawab Galak singkat. Kemudian ia membuang muka ke arah samping.


“Lepasin!” seru Galak. Ia berusaha menarik tangannya, tetapi Meta begitu erat memegangi.


“Enggak mau!” tolak Meta.


“Lepasin, kok!” Galak semakin menegaskan. Namun, Meta tak lagi bersuara. Ia malah memejamkan matanya.


Terpaksa Galak menghentikan gerakannya. Ia menyerah dan membiarkan Meta melakukan apa saja. Lagi pula perempuan itu tidak terlihat akan terus mengganggunya.


Galak mengembuskan napas berat. Tiba-tiba rasa kantuk turut melandanya. Ia pun meletakkan kepalanya di atas kepala Meta. Pesawat pun mulai menjalankan rodanya.

__ADS_1


-oOo-


Tidak apa-apa? Apa Meta benar-benar tidak apa-apa tanpa barang-barangnya? Bagaimana Galak tahu? Laki-laki itu bahkan tidak peduli kalau udara masih masuk ke dalam hidung istrinya.


Meta terus merengut kesal. Apalagi, sesampainya di vila, Galak langsung merebahkan tubuh di atas ranjang. Matanya terpejam. Enggan menanggapi aksi Meta selanjutnya.


“Om Galak. Meta mau mandi,” tutur Meta.


“Ya udah. Mandi sana. Aku enggak tertarik mandiin kamu.” Galak berbalik sehingga tubuhnya yang terbaring membelakangi Meta.


“Terus baju ganti Meta gimana?” rengek Meta.


“Gak usah ganti. Pakai aja bajumu itu,” sahut Galak.


“Tapi bajunya Meta udah bau, udah banyak keringet, udah banyak kuman,” Meta semakin merengek.


“Terserah kamu, deh. Terserah!”


“Om Galaaak ….”


Akhirnya Meta hanya mampu berdengus kesal. Galak sudah diam. Entah dia sudah masuk dalam dunia mimpi atau tidak.


Tidak ada pilihan lain ….


Meta pun menjauhi ranjang untuk pergi mandi.

__ADS_1


-oOo-


__ADS_2