Suamiku Galak

Suamiku Galak
7. Menolak Pernikahan


__ADS_3

“Kenapa, sih, kamu enggak juga dipecat sama nenek?” tanya Galak.


“’Apa kamu laki-laki simpanan nenek?’ biasanya Tuan juga menambahkan itu,” sahut Pama.


Ah, sial! Galak mengacak-acak rambutnya sendiri. Kenapa neneknya yang cerdas itu harus menyiksanya dengan hidup bersama laki-laki aneh ini, sih? Kapan sekretarisnya akan pergi dari hidupnya?


Galak melangkah cepat ke arah ponsel yang tergeletak di atas lemari kecil, di samping ranjangnya. Ia menghubungi neneknya dengan cepat.


“Halo, Nek. Tolong pecat Pak Pama,” titah Galak.


“Maaf, Sayang. Aku memang sayang kamu, tapi aku juga sayang dia,” jawab Vera dengan entengnya.


“Tuh, kan! Nenek ada apa-apanya sama si laki-laki purba itu!” tuduh Galak. Namun, neneknya langsung mematikan panggilannya.


Galak melirik kesal ke arah Pama. Namun, Pama langsung menurunkan tatapannya. Galak kembali menghubungi neneknya.


“Kalau gitu, hentikan pernikahan ini. Aku enggak mau menikah, Nenek!” tegas Galak.


“Itu adalah keputusan Nenek yang takkan pernah runtuh,” Vera lebih menegaskan.


“Kalau gitu, pilih: menikahkan aku atau menjauhkan Pak Pama dari hidupku,” ancam Galak.


“Menikahkanmu. Karena setelah menikah, istrimu yang akan menggantikan posisi Pama,” jawab Vera.

__ADS_1


“Neneeek …,” akhirnya Galak hanya bisa merengek.


“Cepatlah kemari. Sebentar lagi Meta akan kemari!” titah Vera dengan suara meninggi.


“Meta? Siapa Meta?” Galak tidak mengerti.


“Calon istrimu. Masak nama calon istri sendiri saja tidak tahu.”


Tit.


Jangankan namanya, Galak bahkan baru tahu soal perjodohan ini tidak lebih lima belas menit lalu.


“Jadi, Tuan ….” Pama menunjukkan satu set jas tadi.


Galak mengabaikannya. Ia malah melempar tubuhnya ke atas ranjang. Berniat tidur tanpa melepaskan mantel mandinya.


Galak mengangkat ponselnya. Itu pesan dari neneknya.


Nenek Manja:


Tolong datanglah. Ini adalah permintaan pertamaku yang mungkin menjadi permintaan terakhirku.


Galak mengembuskan napas berat. Kemudian ia bangun. “Apa-apaan, sih, Nenek itu,” gerutunya.

__ADS_1


Meski tahu kalau neneknya hanya menciptakan drama, Galak tetap bangun. Ia mengenakan jas yang Pama pegang sedari tadi seperti yang neneknya inginkan. Kemudian pergi ke tempat yang neneknya perintahkan.


Dua perempuan sudah duduk berhadapan dalam kediaman. Sepertinya Galak sudah terlambat cukup lama.


Melihat kedatangan Galak, Vera langsung bangun. “Kamu sudah datang?” sapanya.


Perempuan di hadapan Vera turut bangun dan menoleh. Seketika kaki Galak memaku di tempat.


“Ka-kamu … bagaimana kamu ada di sini?” Galak menjadi gelagapan.


-oOo-


Ini sudah satu jam sejak Meta duduk bersama Vera. Ia bahkan sudah menunggu satu jam sebelum kedatangan Vera. Namun, perempuan tua itu tidak mengatakan sepatah kata pun untuk mencairkan suasana. Meta sampai tidak yakin kalau perempuan itu benar-benar mencari keluarga.


Tiba-tiba Vera bangun. Bola matanya tampak mengeluarkan kilatan kebahagiaan.


“Kamu sudah datang?” sapa Vera kepada seseorang di belakang Meta.


Meta turut bangun. Pandangannya turut mengikuti arah pandang Vera, menuju seorang laki-laki bertubuh tegap yang berdiri di sana. Meta langsung menghadap Vera lagi dan bertepuk tangan.


“Wah, Nyonya keren sekali. Bisa punya pacar setampan om itu,” puji Meta.


“Pa-pacar?” Vera terperangah mendapati reaksi Meta. “Tapi itu cucuku.”

__ADS_1


Meta kembali berbalik. Kini ia memerhatikan laki-laki yang belum bergerak itu, dengan saksama. Jelas-jelas dia laki-laki dewasa, alias om-om. Kalau cucunya sedewasa itu, lalu bagaimana dengan neneknya?


Meta kembali menghadap Vera. Ia bertepuk tangan lebih meriah.


__ADS_2