Suamiku Galak

Suamiku Galak
69. Membangun Kenyataan Di Luar Mimpi 3


__ADS_3

“Sayang Galak …,” panggil Meta.


Galak menghentikan gerakan tangannya. Ia mengangkat kepala sehingga pandangannya langsung mengarah kepada Meta. “Apa?” sahutnya ketus.


“Ciuman … enggak ada ciuman yang payah …. Hanya ada … apa kita bisa nyaman dan menikmati atau tidak. Itu aja,” tutur Meta.


Galak terdiam sembari mengedip-edipkan mata. Ia berusaha menelaah kata-kata Meta yang terdengar mudah tetapi rumit dimengerti.


Meta bangun. Untuk kesekian kalinya ia beranjak dari ranjang. Kemudian ia berjalan mendekati Galak. “Itulah kenapa kita enggak bisa mencium sembarang orang. Ada kalanya seseorang lebih menyukai ciuman yang biasa atau berbeda. Dan Meta pasti nyaman bagaimanapun ciuman yang Sayang Galak berikan,” imbuh Meta.


Galak terperangah. Apa perempuan ini benar Meta yang sudah mengejek dirinya malam itu?


Apa Meta memiliki seorang kembaran satu lagi?


“Enggak usah aneh-aneh. Kamu enggak bakal cukup dengan ciumanku karena aku enggak akan bisa menyeimbangi kemampuanmu,” timpal Galak.

__ADS_1


“Tidak semua hal terasa nyaman seketika. Ada kalanya kita harus mencoba, bertahan, dan menikmatinya sebagai kebiasaan. Lagi pula kemampuan apa yang Sayang Galak ini bicarakan? Aku enggak sehebat itu. Meta bahkan baru belajar berciuman dua tahun yang lalu, bersama mantan kakak kelasnya Meta waktu sekolah, soalnya Meta harus beradegan ciuman sama Nicholas Saputra, tapi enggak jadi. Soalnya film Ada Apa Dengan Cinta KW enggak jadi tayang. Tentunya, karirnya Sayang Galak lebih lama dari Meta. Pastinya juga, kemampuan Sayang Galak lebih mumpuni dari Meta,” jelas Meta.


Galak terperangah. Entah kenapa ia tak memikirkan itu selama ini. Karena ejekan Meta yang mabuk, Galak terus melihat ciumannya sendiri. Ia sampai tak mengingat sehebat apa bibir Met bergerak.


Ah, sial! Kenapa Galak bisa semudah itu dipengaruhi orang mabuk, sih?


Orang mabuk, kan, sama aja kayak orang enggak waras ….


“Sayang Galaaak …,” panggil Meta dengan tatapan sayu, bibir mengerucut, dan suara manja. Ekspresinya itu membuat tatapan Galak tertarik dan tidak kuat melepaskan.


Sebenarnya Galak tertarik. Bibir merah muda itu amat dekat dengan dirinya. Akan tetapi, Galak masih merasa tidak yakin.


Galak berusaha menggerakkan wajahnya mendekati Meta. Hanya tinggal sedikit lagi kedua pasang bibir itu bersua, bahkan hidung mereka bertabrakan lebih dulu. Akan tetapi, Galak menghentikan tiba-tiba. Napasnya tidak terarur. Terasa jelas saat menabrak kulit Meta.


“Cukup tutup mata Sayang Galak dan rasakan kenikmatannya,” kata Meta dengan suaranya yang lirih.

__ADS_1


Entah apa yang merasuki Galak saat ini, ia menuruti Meta begitu saja. Matanya terpejam dan telinganya hanya terbuka untuk udara saja. Kini hanya keheningan yang ia dengar. Sedangkan pikirannya terfokuskan pada gerakan yang ia lakukan ke depannya ….


… Mencium ….


Setelah melalui banyak keraguan, akhirnya Galak berhasil mencium bibir Meta, merasakan kemanisan yang tak pernah ia duga, bahkan dalam lamunan. Gerakannya begitu pelan, seolah-olah pengalaman mencium banyak perempuan selama bertahun-tahun tak pernah ada, seperti pemula saja.


Kurang agresif kamu, dasar payah!


Kurang agresif kamu, dasar payah!


Kurang agresif kamu, dasar payah!


Ah, sial! Tawon itu kembali berdengung di telinga Galak.


Kelopat mata Galak menutup sangat erat, seolah memaksakan diri untuk tidak membuka. Sedangkan bibirnya ….

__ADS_1


Meta mulai merasakan getaran yang menghancurkan ketenangan.


__ADS_2