
Tadinya sebuah undangan berwarna putih berhias emas tergeletak di atas meja kerja. Arga yang tadinya sibuk memerhatikan dokumen, kini menutup mapnya dan meletakkan di atas tumpukan map di sampingnya. Perhatiannya tertarik pada undangan yang sudah mengisi meja sekian lama. Ia baru bisa menyentuh undangan itu karena disibukkan oleh pekerjaannya. Itu adalah undangan pesta untuk pengangkatan Galak sebagai ahli waris keluarga Anggara.
Seketika sudut bibir kiri Arga terangkat. “Rupanya nenek tua itu sudah mempersiapkan satu-satunya singgasana emas untuk Galak di perusahaan dengan baik,” gumamnya. Kemudian ia malah tertawa. Seolah-olah kekhawatiran Vera akan singgasana yang akan direbut Arga adalah lelucon.
Tok tok tok, terdengar suara ketukan pintu.
“Masuk!” seru Arga. Ia pun menurunkan senyum beserta undangan itu.
Seorang laki-laki tampan masuk dari sana. Kemeja abu-abu dengan dua kancing terbuka, itu pun masih dihiasi kacamata, rupanya laki-laki itu datang bukan karena pekerjaan di kantor.
“Ada apa, Ian?” tanya Arga langsung.
Ian menarik kursi di depan meja kerja Arga. Ia pun duduk di sana tanpa dipersilakan. Jika seperti ini, dibanding majikan dan bawahan, dua orang ini lebih terlihat seperti rekan.
“Sepertinya Galak sudah mencurigaiku,” tutur Ian.
Dahi Arga berkerut. “Memangnya sepenting apa dirimu?” sindir Arga.
“Aku juga tidak tahu. Aku hanya memberitahumu. Meta mengatakan Galak sedang mencari tahu sesuatu tentangku,” timpal Ian.
“Meta?” Sekali lagi Arga dibuat keheranan. “Untuk apa Meta memberitahumu? Apa kamu bekerja sama dengannya?”
Ian malah tertawa pelan. Setiap mengingat Meta wajahnya selalu berubah menjadi cerah.
“Nyonya Vera seharusnya orang yang bijaksana. Tapi dia malah salah dalam mencari menantu. Menantunya ini tidak sekadar bodoh, tapi aneh. Bukan karena otaknya kosong, tapi karena dipenuhi banyak hal tidak berguna,” ujar Ian.
__ADS_1
“Rupanya kamu cukup mengenalnya,” tuduh Arga.
“Dia memang orang yang selalu berterus terang,” elak Ian.
“Bukan karena perhatianmu mulai tertarik olehnya?”
“Ayolah, Tuan ….”
Arga malah tertawa pelan.
Penglihatan Ian mengarah ke undangan putih emas di atas meja. Nama Galak yang tertera di sanalah yang membuatnya tertarik.
“Apa mereka benar-benar mengundang Tuan untuk pesta ini?” tanya Ian. Ia keheranan. Bukankah ini seperti penghinaan?
“Aku?” Ian menunjuk dirinya sendiri. “Untuk apa? Maksudku ke mana?”
Ini tidak seperti yang Ian pikirkan, kan?
“Ke pesta itu,” jawab Arga.
“Ke-kenapa aku?”
“Karena aku malas harus bertemu nenek tua sialan itu.”
“Bukannya Tuan harus menghentikan pesta ini?
__ADS_1
“Menghentikan?” Alis kanan Arga terangkat. “Untuk apa?”
“Galak kan sudah merebut apa yang seharusnya Tuan miliki,” ujar Ian.
“Maka biarkan begitu,” timpal Arga.
Bola mata Ian melebar. Meski Arga bersikap ikhlas, tidak begitu dengannya. Arga adalah tuannya!
“Tapi, kan ….”
“Dan biarkan aku menghancurkan apa yang seharusnya dia miliki,” imbuh Arga memotong ucapan Ian.
Ian mengernyitkan dahi. Ia masih tak mengerti apa maksud ucapan tuannya. Arga memang penuh dengan misteri.
-oOo-
Terima kasih buat yang setia menunggu, apalagi yang selalu menyisihkan waktunya buat tinggalin jempol, komen, ama poin 🤗🤗
Saat kegabutan melanda, marilah membaca storyku yang lainnya ...
Buat yang punya akun wp, mampirlah di akunku @penggemarfanatik
Sebatas follow doang gapapa kok 😥
makasih ....
__ADS_1