Suamiku Galak

Suamiku Galak
15. Tertangkap Basah 2


__ADS_3

Hampir saja Pama tertawa. Akhirnya ia hanya menahannya dengan telapak tangan yang menutup bibirnya. “Itulah Tuan, Nyonya. Setiap ada perempuan di dekatnya, ia takkan membiarkannya lewat begitu saja,” sahut Pama.


Vera mengernyitkan dahi. Benarkah itu? Pakaian keduanya bahkan masih menempel. Sudah jelas yang terjadi di antara mereka sebatas itu.


“Baiklah. Kuharap ini akan menjadi sesuatu yang baik untuk cucuku. Setidaknya dia akan berhenti berkeliaran malam-malam, kan?” Vera menoleh. Berharap jawaban memuaskan bisa ia dapatkan dari Pama.


Pama hanya tersenyum tanpa mengatakan apa pun. Kecuali Meta adalah pahlawan, Galak tidak akan pernah berubah.


Tiba-tiba Galak duduk terperanjat. Entah sejak kapan ia terbangun. Padahal Vera dan Pama tidak mengeluarkan suara apa pun, kecuali bisikan lirih saja.


“Kamu sudah bangun?” sambut Vera.


“Ne-nenek!” seru Galak dengan wajah merengut. “Kenapa Nenek bisa ada di sini?”


“Memangnya kenapa? Aku, kan, hanya berkunjung ke kamar cucuku,” sahut Vera.


“Tapi aku, kan, udah besar, Nek.” Galak melirik ke Meta yang masih terlelap. Entah terbuat dari apa dia. Kalau rumah ini sampai terbakar, mungkin dialah yang pertama kali menjadi daging panggang.


“Dan dia …” Galak menunjuk Meta “… aku, kan udah nikah, Nek,” Galak merengek.


“Memangnya kenapa kalau kamu sudah besar dan menikah? Kamu masih anak kecil bagiku. Atau ada sesuatu yang tidak bisa kuketahui?”


Ah, sial! Neneknya Galak itu selalu berhasil membuat Galak terpojok sampai kehilangan kata-kata.

__ADS_1


“Tidak-tidak. Nenek bisa melakukan apa pun yang Nenek mau.” Galak hanya bisa pasrah.


“Kalau begitu, keluarlah. Ayo kita makan siang. Ada yang harus aku katakan,” titah Vera.


Galak menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Makan siang? Kenapa cepat sekali? Galak bahkan belum sarapan.


“Oh, ya. Bangunkan menantuku juga,” imbuh Vera. Kemudian ia melangkah pergi tanpa melupakan Pama yang setia berdiri di belakangnya.


Galak mengembuskan napas berat. Kini ia bahkan harus membangunkan kura-kura ini? Bagaimana caranya?


Brak!


“Aaah …,” Meta langsung menjerit kesakitan. Galak sialan itu membangunkannya dengan mendorong tubuhnya sampai terjatuh dari ranjang.


Meta mengusap-usap tubuhnya yang kesakitan, sembari melirik sinis ke punggung yang lenyap ditelan oleh belokan.


Semua ini benar-benar menyebalkan. Om Galak benar-benar sesuai dengan namanya.


Setelah rasa sakitnya mereda, Meta bangun. Ia membenahi rambutnya yang acak-acakan lebih dulu. Kemudian keluar tanpa mengganti pakaiannya.


“Hai, Nyonya, eh, maksud Meta: Nenek Mertua,” sapa Meta. Kemudian ia duduk di kursi di sebelah Galak.


“Hai, Pama,” Meta beralih menyapa Pama yang duduk di kursi antara Vera dan Galak. Kemudian Meta menoleh ke arah Galak. “Hai, Sayang.” Meta mengedipkan sebelah mata dengan genit.

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Galak dengan nada mengintimidasi.


Meta hanya menyahutinya dengan ekspresi tidak mengerti. Memangnya apa yang salah dari Meta?


“Meta cuma duduk buat ikut makan sama keluarga,” jawab Meta.


“Setidaknya gantilah pakaianmu itu?’ Galak melirik gaun tidur pendek Meta.


“Emangnya apa yang salah dari pakaian Meta?” sahut Meta.


“Apa kamu enggak lihat ada Nenek di sini? Gantilah gaunmu dengan pakaian yang sopan!” titah Galak.


“Nenek, kan, keluarganya Meta. Enggak ada yang salah, dong,” dalih Meta.


“Lalu Pak Pama?”


Meta melirik ke arah Pama yang hanya tersenyum tipis karena namanya disebut.


“Pak Pama, kan, keluarganya Nenek Mertua. Nenek Mertua keluarganya Meta. Otomatis Pak Pama juga keluarganya Meta, dong,” jelas Meta.


“Sejak kapan Pak Pama jadi keluarganya Nenek?” protes Galak.


“Sejak benih-benih cinta terasa di hati mereka ….” Meta malah nge-drama.

__ADS_1


__ADS_2