Suamiku Galak

Suamiku Galak
24. Pengantin Bahagia 2


__ADS_3

PERNIKAHAN BAHAGIA: Meta Felicia Terpergok Bermesraan Dengan Suaminya Saat Tengah Menyamar Di Sebuah Pasar—itu adalah judul sebuah situs berita pagi ini.


Kedua sudut bibir Vera terangkat saat membacanya. Foto cucu dan menantunya benar-benar terpampang di layar tabletnya. Entah apa yang mereka lakukan, Vera benar-benar puas dengan itu. Ia pun menyodorkan tablet itu ke samping, ke arah Pama yang berdiri tegak di sampingnya.


“Bagaimana mereka bisa segenius ini?” gumam Vera.


“Kenapa Nyonya berpikir begitu?” Pama menyahuti.


“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya mereka rencanakan untuk membersihkan rumor mereka. Tapi aku sangat puas dengan itu,” jelas Vera.


“Tapi, bagaimana kalau mereka melakukan itu bukan untuk membersihkan rumor, Nyonya?” tanya Pama.


“Apa maksudmu?” Vera melirik.


“Seperti menjadi pasangan suami istri sungguhan?” timpal Pama.


Vera malah tertawa pelan. “Apa kamu pikir cucuku akan mampu menjadi suami sungguhan?” tanya Vera.


Pama tidak menjawab. Ia hanya menggaruk-garukkan kepala.


“Dia bahkan tidak bisa bertahan dengan satu pun perempuan. Tiba-tiba dia menjadi suami ….


Keajaiban apa ini?”


Pama hanya meringis. Nyonya besarnya memang benar. Apa yang sebenarnya kamu pikirkan ini Pama? Sepertinya kamu terlalu banya membaca komik China ….


-oOo-

__ADS_1


Sudut bibir kiri Arga terangkat. Sepasang pengantin baru itu yang terlihat bahagia dalam foto yang beredar. Namun, malah ia yang tersenyum.


“Kupikir itu mustahil, tapi ternyata benar. Perempuan ini benar-benar menarik,” gumam Arga.


“Apa, Tuan?” Putra, laki-laki yang berdiri di samping Arga, yang tak lain adalah sekretaris Arga, menyahut. Ia mendengar sesuatu, tetapi tidak yakin isinya.


Arga melirik. “Oh, tidak apa-apa. Tidak perlu dipikirkan,” tutur Arga.


“Baik, Tuan,” timpal Putra.


Arga meletakkan tablet yang ia pegangi tadi ke atas tumpukan kertas yang berisi data diri seseorang dan beberapa fotonya.


“Sebenarnya ada sesuatu yang menarik dalam kehidupan perempuan ini,” tutur Arga.


“Apa maksud Tuan?” sahut Putra.


“Siapa yang Tuan maksudkan?” sahut Putra.


“Alma Benita ….”


-oOo-


Galak benar-benar lelah, tetapi ia bahkan tidak bisa beristirahat dengan tenang. Siapa lagi kalau bukan karena rubah betina yang menciptakan neraka di mana-mana?


Ranjang di kamar begitu lebar. Sangat luas, bahkan jika ada empat orang yang berada di atasnya. Namun, ranjang itu tak terbentuk lagi. Meta menutupinya dengan tumpukan baju. Sedangkan perempuan itu malah sibuk melihat pantulan dirinya dengan memasang baju-baju itu di depannya.


Entah apa yang perempuan itu rencanakan. Ini bahkan sudah malam. Ia tidak berniat mengenakan baju pesta hanya untuk tidur, kan?

__ADS_1


“Om Galak-Om Galak,” panggil Meta.


“Jangan panggil aku om!” seru Galak. Ia benar-benar sebal mengingat apa yang terjadi tadi pagi.


Apa? Ayah?


Galak bahkan belum menikah. Memangnya anak siapa yang akan Galak rawat. Lagi pula mana ada anak-anak sebesar Meta. Apa penjual tadi sudah terlalu tua?


“Terus Meta harus panggil apa?” tanya Meta sembari mengedip-edipkan kepala.


“Terserah,” sahut Galak.


“Honey Galak….” Meta mengganti panggilannya dengan suara manja.


Galak malah begidik geli. Nama itu terdengar aneh di telinganya.


“Yeobo Galak….” Kini Meta menirukan drama Korea.


“Yang lokal aja, bisa?” tolak Galak.


“Kalau gitu, Sayang Galak, gimana?” tanya Meta.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih jempol dan komennya 🤗


__ADS_2