Suamiku Galak

Suamiku Galak
47. Perang Dunia Ketiga


__ADS_3

Babang Galak balik lagi ....


Cuz ....


💃💃💃


Galak langsung terbangun. Ia terperanjat melihat Meta sudah berada di tengah pintu. Bagaimana perempuan itu bisa masuk? Galak yakin benar sudah mengunci pintu kamar sebelumnya.


“Bagaimana kamu bisa masuk?” tanya Galak.


Kedua tangan Meta berkacak di samping pinggang. “Sama seperti saat kamu masuk ke kamarku,” timpal Meta.


“Aku menyuruh Bu Astri membukakan pintu kamarmu,” tutur Galak.


“Dan Meta menggunakan kunci ini untuk membukakan pintu kamar Calon Mantan Sayang Galak,” timpal Meta sembari menunjukkan sebuah kunci yang terlihat tidak asing..


Dahi Galak mengeluarkan kerutannya. “Lalu di mana persamaannya?”


Jelas-jelas kedua jawaban itu berbeda.


“Kita sama-sama masuk tanpa izin,” jawab Meta.

__ADS_1


Sebenarnya Meta benar juga, tapi—


“Bukannya kamu udah kasih kunci kamarku? Lalu dari mana kamu dapat kunci itu lagi?” tanya Galak. Lama-lama dia merasa tidak aman tinggal di dalam kamarnya sendiri.


“Kunci ini?” Meta kembali menunjukkan kunci kamar Galak. “Huh! Cuma kunci kayak gini aja ….”


Meta langsung melemparkan kunci itu entah ke mana. Galak hanya bisa mendengar suara benturannya. Tidak apa. Setidaknya kunci itu tidak berada di tangan Meta lagi.


Galak mengembalikan perhatiannya ke arah Meta. “Terus ngapain kamu di sini?” tanyanya.


“Meta enggak butuh barang-barangnya Calon Mantan Sayang Galak! Gara-gara isi gudang itu, kamar Meta jadi sempit!” seru Meta penuh percaya diri.


“Itu hadiah dariku. Lihat saja kakimu yang terus bertelanjang itu,” jelas Galak.


“Tapi, Meta enggak butuh simpati dari Calon Mantan Sayang Galak!” tegas Meta.


“Lagi-lagi rasa percaya dirimu yang berlebihan itu,” gumam Galak. Ia memalingkan wajahnya ke samping. Muak melihat tingkah Meta yang memalukan itu. Entah bagaimana Meta tidak pernah merasa malu ….


Meski hanya gumaman, pendengaran Meta sangat sensitif. Ia pun berjalan mendekati Galak. Langkahnya berhenti hanya dalam jarak dua langkah dari ranjang.


“Apa Calon Mantan Sayang Galak bilang?” tanya Meta.

__ADS_1


Galak berdesah sinis. Lihat saja bagaimana Meta terus menyebut namanya yang singkat dengan begitu panjangnya! Bukankah ini pemborosan kata namanya?


“Calon Mantan Sayang Galak!” jerit Meta memanggil Galak yang belum menjawab pertanyaannya.


Akhirnya Galak kembali memusatkan perhatiannya ke arah Meta. “Makanya beli sepatu!” sentaknya.


“Aku pakai sepatu atau enggak pakai sepatu itu bukan urusannya Calon Mantan Sayang Galak,” tegas Meta.


“Kenapa itu bukan urusanku? Kalau para pekerja sampai membicarakannya keluar, ini akan menjadi masalah buatku. Bukannya masalahku adalah masalah terbesarmu?” Galak lebih menegaskan.


Meta berdengus kesal. Selalu saja ia kalah. Kedua tangan Meta mengepal di bawah. Ia terlalu lemah sampai tidak bisa melayangkan kepalan itu ke wajah Galak.


“Lihat aja: Meta pasti bisa beli sepatu sendiri! Saat sepatu Meta meninggalkan jejak di rumah ini, semua isi gudang di kamar Meta harus bersih!” seru Meta melontarkan tantangannya.


Galak malah tersenyum sinis. Ini tidak akan mudah Meta ….


Meta hanya tidak tahu dengan siapa ia berhadapan.


-oOo-


Boleh minta komentarnya, kan 🤗

__ADS_1


__ADS_2