Suamiku Galak

Suamiku Galak
35. Pahlawan Kampret


__ADS_3

Vera hanya melirik sinis. Pama selalu bertindak serius. Namun, ia tidak mungkin tidak bercanda, kan?


“Maksudku, aku terus teringat cucuku. Aku merasa khawatir tiba-tiba. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?” Vera menjadi khawatir. Ia memang nenek, tetapi ia juga seorang ibu. Katanya, feeling ibu adalah yang terkuat.


“Sesuatu memang terjadi pada tuan muda, Nyonya,” timpal Pama.


“Benarkah? Apa yang terjadi?” Vera menjadi semakin panik.


“Nyonya tenang saja. Itu bukan sesuatu yang buruk,” ujar Pama.


“Apa maksudmu?” Vera tidak mengerti.


Pama mengangkat tangannya. Ia menyalakan tablet yang sedari tadi hanya dipegangnya. Kemudian disodorkan kepada nyonya besarnya.


Alis kanan Vera terangkat. Tablet itu menampilkan foto yang berisi dua wajah yang sudah lama tak ia lihat: cucu dan menantunya.


PAHLAWAN BARU DI TENGAH PERNIKAHAN BAHAGIA—itu adalah judul yang terpampang di atas foto itu.


Vera mengalihkan perhatiannya dari tablet itu ke Pama. “Apa yang terjadi?” tanyanya keheranan.


“Persis seperti yang tertulis di sana,” jawab Pama sembari menunjuk tablet itu.


Pahlawan? Siapa yang jadi pahlawan? Dua manusia pencipta masalah itu, kah?


Bagaimana bisa?


-oOo-

__ADS_1


Beberapa jam yang lalu ….


Akhirnya Meta benar-benar pergi berolahraga dengan penampilan awalnya: baju monyet dan high heels. Galak begitu cuek. Terserah, bahkan jika istrinya sampai mengenakan karung goni keluar rumah. Sedangkan Galak tampil keren meski hanya dengan gaya sederhana. Ia mengenakan celana training berwarna biru tua dan kaus kasual berlengan pendek yang senada. Eits, jangan lupakan kacamata hitamnya juga.


Galak berjalan mendekati mobilnya. Berniat pergi dengan menaiki kendaraan itu.


“Sayang Galak!” panggil Meta.


Galak menoleh. “Apa?” sahutnya.


Meta berlari kecil mendekati Galak. “Sayang Galak mau ke mana?” tanya Meta.


“Ya, berangkat, lah,” jawab Galak.


“Kita enggak akan naik mobil ini, kan?” tanya Meta.


Alis kanan Galak terangkat. Meta bertanya bukan karena tidak tahu, kan?


“Apa?” tanya Galak setelah langkah Meta berhenti dan Meta melepaskan tangannya.


“Kita, kan, mau pergi olahraga, masak naik mobil, sih?” protes Meta.


“Kan, pergi olahraga, berarti kita pergi buat olahraga. Jadi perginya enggak perlu olahraga. Nanti aja kalau sampai,” jelas Galak.


“Pergi olahraga, ya, berarti perginya olahraga. Nanti kalau sampai enggak mungkin olahraga. Paling selfie-selfie atau ngerumpi.” Meta tidak mau kalah.


“Ogah!” tolak Galak.

__ADS_1


Galak langsung berbalik hendak mendekati mobil. Namun, Meta malah melompatinya sehingga memaksanya menggendongnya.


“E-e-e-eh ….” Karena terkejut, Galak tidak siap dan malah lehernya yang kesakitan.


“Pokoknya Meta enggak mau turun kalau Sayang Galak masih pengen naik mobil!” ancam Meta.


“Iya-iya-iya,” kata Galak setuju sembari menepuk-tepuk tangan Meta. Memaksa agar perempuan itu melepaskan dirinya.


Meta tersenyum semringah. Ia menebarkan bendera kemenangan di wajahnya. Sedangkan Galak berdengus kesal. Sampai kapanpun, ia takkan menang dari Meta. Terus saja begini ….


Di tengah perjalanan, tangan Meta bergerak. Ia berniat untuk memegang tangan Galak.


“Ogah!” tolak Galak,meski Meta tidak mengatakannya. Galak langsung melipat kedua tangannya di depan dada.


“Ih …. Sayang Galaknya Meta, kok, gitu, sih? Tangan Meta kedinginan, nih. Minta dipeluk.” Meta menunjukkan telapak tangan kanannya.


Galak melirik. Wajah Meta yang diimut-imutkan itu malah terlihat menyebalkan. Galak pun membuka ketiaknya. “Kalau gitu, sini … biar kupeluk.”


.


.


.


Apa sih yang sebenarnya terjadi? 🤔


pengen update malam ini, tapi ternyata aku salah ngetik 😣😣

__ADS_1


terpaksa, hari ini 5 bab dulu, ya, Guys.


Selalu tinggalkan jempol dan komen 😉


__ADS_2