
“Ini semua karenamu! Kalau bukan karenamu, Meta enggak akan menghilang seperti ini?”
“Jadi kamu berpikir Meta kabur bersamaku?” Ian tergelak.
“Skandal ini kamu buat dengan maksud yang buruk. Jadi katakan di mana Meta sebelum aku membunuhmu di sini?”
“Memang benar skandal ini dibuat dengan maksud yang buruk. Tapi kamu salah kalau berpikir akulah yang membuatnya. Aku enggak terlibat. Tapi aku ikutan terkait dampak buruknya.”
“Apa maksudmu?”
“Saras juga meninggalkanku karena skandal ini. Jadi bukan hanya kamu yang kehilangan di sini.”
“Apa kamu pikir aku bercanda?”
“Apa kamu pikir patah hati ini sekadar lelucon?”
“Lalu, siapa yang membuat skandal ini?”
“Kenapa bertanya? Ini semua karenamu?”
“Cepat katakan!”
“Aku sudah mengatakan. Kalau kamu tidak terima dan mau membunuhku di sini, maka silakan.” Ian kembali tertawa.
__ADS_1
Ian benar-benar berhasil memancing Galak. Galak tidak bisa tinggal diam dengan kekosongan ini. Dia pun memukuli Ian berulang-ulang. Memaksa laki-laki itu untuk bicara. Namun, Ian benar-benar sudah gila. Dia tidak menyerah menutup mulutnya.
Jika benar kalau skandal ini dibuat karena Galak, maka hanya ada satu nama yang terbersit di kepala Galak.
“Kak Arga.”
Galak menghubungi Pama. Meminta laki-laki itu untuk menyetir mobil yang membawanya ke tempat kerja Arga. Dalam keadaan Galak yang sekarang, dia tidak sanggup mengendarai mobil lagi.
Sesampainya di tempat kerja Arga, Galak langsung memasuki ruangan laki-laki itu. Tadinya Arga sibuk dengan pekerjaannya. Wajahnya seketika cerah mendapati adiknya berada di sana.
“Oh, adikku. Kenapa kemari tanpa mengabari dulu?” sambutnya.
Dengan wajah seperti itu, siapa yang akan menduga kalau Argalah dalang di balik semua ini.
“Kenapa Kakak melakukan semua ini?” tanya Galak dengan tatapan berapi-api.
“Haruskah aku mengatakan kebohongan dengan menjadi pengecut, atau mengatakan kebenaran dengan menjadi penjahat?”
Tidak perlu dipertegas. Jawaban Arga baru saja telah menjelaskan segalanya.
“Jadi, apa Kakak juga yang terlibat dalam hilangnya Meta?”
“Aku enggak melakukan apa pun sama istrimu. Aku hanya melakukan apa yang sudah kamu lakukan padaku. Maka kehidupan kita berdua telah adil.”
__ADS_1
Galak langsung menarik kerah Kakaknya. Baru kali ini dia menunjukkan wajah kesalnya tepat di hadapan orang yang masih dihormatinya. Matanya melotot dan giginya menggertak.
“Masalahmu itu sama aku. Jadi jangan sangkut pautkan sama orang lain!” Galak memperingatkan.
Arga melepaskan tangan Galak. Kemudian mengibas-ibaskan jasnya dengan tangannya. Seolah tangan Galak telah meninggalkan jejak kotoran.
“Aku hanya belajar dari nenekku tercinta. Bukannya dia sama sepertiku? “
“Tapi aku enggak akan seperti kalian berdua. Aku akan menjadi seperti Papa yang berani menghadapi lawannya tepat di hadapannya.”
Arga menyeringai. “Kalau begitu lakukan saja. Aku yang akan menunggu hasilnya.”
Galak pun pergi. Tidak ada apa pun yang bisa diharapkan pada kakaknya. Jika dia bertanya, Arga tidak akan menjawabnya. Jika Galak memelas, maka Arga akan semakin mengangkuhkan dirinya.
Sesampainya di depan kantor, Galak tidak melihat Pama. Mobilnya tertinggal begitu saja.
“Ke mana dia?”
Galak menoleh ke kanan kiri. Bahkan mencari ke sekitar. Namun, Pama tidak menunjukkan batang hidungnya sedikit pun. Berulang-ulang Galak menghubungi laki-laki itu. Namun tidak ada yang mengangkatnya.
Entahlah. Ke mana perginya Pama di kala Galak begitu membutuhkannya seperti sekarang.
Akhirnya Galak melajukan mobilnya sendiri. Di tengah perjalanan, dia menanyakan keberadaan Pama pada Neneknya. Namun, Neneknya sendirian saja di rumah.
__ADS_1
“Oh, Pama. Ke mana kamu sebenarnya?”
-oOo-