Suamiku Galak

Suamiku Galak
41. Kejutan Dari Galak


__ADS_3

Galak pun bangun. Ia pergi ke kamar mandi. Lalu kembali dengan sebuah handuk basah.


“Bersihkan wajahmu pakai ini,” titah Galak.


Meta terperangah. Kenapa Galak bisa seperhatian itu kepadanya? Biasanya, kalau belum mengancam, Galak tidak akan menuruti keinginannya.


Meski keheranan, Meta tidak bersuara. Dengan ragu-ragu ia menarik handuk itu. Kemudian membersihkan wajahnya sendiri.


Galak mengambil kembali handuk itu. Kemudian meletakkannya di atas meja rias, di samping ranjang Meta. Kemudian ia menggantinya dengan sebuah sisir.


Galak duduk di samping Meta. Kemudian menyuruh Meta untuk memajukan kepalanya.


“Buat apa?” tanya Meta.


“Biar kusisirin,” jawab Galak.


Meta mengikuti saja apa kata Galak. Ia memajukan kepalanya. Benar saja, Galak sungguh menyisir rambutnya. Begitu pelan sampai Meta tidak merasakan kesakitan.


Tiba-tiba wajah Meta terasa panas. Andai ada cermin, ia akan tahu kalau wajahnya memerah. Meta terus terdiam. Ia tersentuh atas perlakuan Galak.


Ada apa ini?


“Udah,” tutur Galak. Ia bangun untuk meletakkan sisirnya.


Meta menyentuh rambutnya yang masih terurai. Benar-benar halus dan rapi. Tidak acak-acakan seperti tadi.

__ADS_1


Bagaimana bisa Galak memperlakukan seseorang dengan selembut itu? Apa ia memang selalu begini kepada setiap perempuan? Kalau tidak, belajar dari mana dia?


“Kalau gitu, ayo bangun. Kita sarapan dulu,” ajak Galak.


Galak mendekati Meta lagi. Ia menarik kruk yang bersandar di dekat ranjang. Kemudian membantu Meta bangun, bahkan berjalan. Galak terus menuntun sampai di ruang makan.


Meja makan kini dipenuhi makanan lezat: piza dan udang ….


Piza di pagi hari?


Meta mulai tersipu. Rupanya Galak sengaja menyiapkan makanan-makanan kesukaannya.


Ada apa ini? Apa Galak sudah memutuskan untuk menjatuhkan hatinya kepada Meta?


Meta tidak bertingkah seperti biasa. Bukannya langsung melahap makanan-makanan itu, ia malah menggigit bibit sendiri. Ia bertingkah seperti seorang perempuan sewajarnya.


Tuh, kan ….


Beneran ….


Meta tidak salah lagi ….


Kini Meta melahap semuanya dengan semangat.


Meta melirik ke sekitar. Ada beberapa pekerja yang melihatnya. Meta yang diperlakukan romantis, malah mereka ikutan tersipu. Dalam hati iri atas perlakuan yang Meta dapatkan. Mengira Meta pasti sedang bahagia dan begitu pun seterusnya.

__ADS_1


Meta memang bahagia sekarang ….


… Tapi seterusnya?


Benarkah demikian?


-oOo-


Meta menggenggam kedua tangannya erat-erat. Ia menerka-terka apa yang akan dilakukan oleh Galak selanjutnya. Usai sarapan, laki-laki itu mengantar Meta ke kamarnya. Menyuruh Meta untuk menunggu dirinya di sana. Kemudian ia keluar.


Tak lama, pintu kamar Meta terbuka lagi. Orang yang ditunggunya telah kembali. Senyum Meta semakin semringah saja.


Galak masuk dengan sebuah dokumen. Entah dokumen apa itu, Meta tidak tertarik sama sekali. Ia hanya tertarik pada Galak.


“Ada apa Sayang Galak?” tanya Meta antusias. Kemudian menyisihkan sedikit rambutnya ke belakang telinga. Seolah bertingkah manis.


Galak menyodorkan dokumen itu kepada Meta.


Alis kanan Meta terangkat. Apa itu sertifikat berlian, rumah, atau tanah?


“Apa ini?” tanya Meta keheranan.


“Aku tidak tahu perjanjian apa yang udah kamu sepakati sama nenekku. Tapi aku yang jadi suamimu dan aku yang menikahimu. Jadi, kamu cukup berurusan denganku saja,” ujar Galak.


“Meta tahu itu, kok,” timpal Meta.

__ADS_1


“Jadi ….” Galak mengembuskan napasnya. Ia tidak yakin dengan apa yang akan diucapkannya. Mungkin terdengar tidak sopan dan menyakitkan ….


__ADS_2