
Sudah beberapa hari ini Galak tidak melihat Meta berulah. Entah apa yang perempuan itu lakukan saat ini. Sebenarnya, kekosongan ini melahirkan kejanggalan di hati Galak. Serasa ada yang kurang tanpa kehadiran Meta dan ulahnya.
Tidak ada amarah Galak atau pun tawon di telinganya ….
Oh, Galak …. Ayolah. Bukankah ini kehidupan yang kamu idamkan selama ini?
Kehidupan penuh ketenangan.
Sekarang kamu bahkan bisa tidur sepuasnya; menghirup napas legas; dan kamu tidak perlu terkejut kalau pintu kamarmu yang terkunci itu tiba-tiba terbuka dari luar.
Ah, sial! Ketenangan ini tidak membuat Galak merasa tenang. Galak malah tidak nyaman. Tidak bisa, tidak bisa! Sebelum Galak memastikan Meta benar-benar tidak merencanakan ulah baru lagi, Galak akan terus merasa janggal. Ia pun bangun dari ranjangnya.
Galak pergi mendekati pintu. Setelah membuka pintu itu, ia dikejutkan akan keberadaan perempuan yang mengganggu pikirannya sedari tadi. Siapa lagi kalau bukan Meta Felicia?
Dahi Galak berkerut. Ia keheranan melihat Meta yang terus tersenyum di depannya dengan menyembunyikan kedua tangan di belakang punggung.
“Sayang Gaaalaaak …,” panggil Meta bersikap manja.
Galak menyapu pandangannya ke sekujut tubuh Meta. Kini ia melihat kejanggalan lain di sana.
“Kamu … kamu ….”
“Meta cantik, ya?” celetuk Meta memotong ucapan Galak.
__ADS_1
Ya. Meta memang cantik dari orok. Namun, gaun dan sepatu yang ia kenakan, Galak yakin kalau itu baru ia miliki.
Gaun pendek berwarna kuning dan sepatu berwarna kuning itu terlihat mewah. Galak yakin benar kalau uangnya tidak ada yang berkurang selembar pun. Bagaimana perempuan ini bisa membelinya? Ia tidak mungkin berkeliling dari satu rumah ke rumah lain dengan membawa kaleng, kan?
“Kamu dapat dari mana gaun sama sepatu ini?” tanya Galak.
“Ya, belilah,” jawab Meta.
“Maksudku, kamu dapat dari mana uang buat beli semua ini?” jelas Galak.
Meta menyisihkan sedikit rambut yang menutupi wajahnya ke belakang telinga. Kemudian tangannya bergerak naik turun, mengusap rambut berwarna pirangnya. Ia tengah memamerkan betapa manisnya dirinya.
“Sayang Galak tenang aja. Meta enggak dapat uang dari kerja, kok,” tutur Meta menenangkan.
“Kan, Meta punya Sayang Galak. Dan Sayang Galak, kan, punya segalanya,” timpal Meta.
Sekali lagi dahi Galak berkerut. Apa itu sebuah kode? Memangnya apa artinya?
Sebelum Galak berhasil mendapatkan jawaban atas pertanyaannya sendiri, tiba-tiba Bu Astri datang terburu-buru. Perempuan paruh baya itu menunduk, tidak berani menatap tuannya. Tubuhnya terlihat bergetar. Seolah ada hantu yang hampir memakannya.
“Tuan.” Sapa Bu Astri.
Galak mengalihkan arah pandangannya dari Meta ke Bu Astri. “Ada apa, Bu?” sahut Galak.
__ADS_1
“Tuan … Tuan ….” Bu Astri benar-benar ragu mengatakannya. Itu malah membuat Galak merasa muak.
“Ada apa, sih, Bu? Yang jelas, dong!” seru Galak.
“Itu … Itu ….” Bu Astri belum bisa mengatakan dengan jernih. Dia hanya mengangkat telunjuknya ke arah samping.
“Kalau enggak ada yang dibicarain, aku mau masuk kamar,” ancam Galak.
“Sebenarnya semua piring di rumah ini hilang,” ujar Bu Astri sangat cepat.
“Apa?”
“Benar, Tuan. Semua piring yang digunakan untuk makan,” jelas Bu Astri.
“Lelucon macam apa ini? Siapa coba yang mau nyuri piring? Kalau ada banyak barang mewah lainnya, kenapa harus piring?” Galah bertanya-tanya.
Sebelum pertanyaan itu menemukan jawaban, suara ringisan keluar menengahi. Galak menoleh ke Meta. Rupanya suara itu berasal darinya. Meta malah tersenyum-senyum sendirian.
Ini tidak seperti yang Galak pikirkan, kan?
Tidak-tidak. Ini tidak mungkin. Pasti tawon sudah berpindah dari lidah ke otak Galak.
Benar-benar. Pasti tawon itu tengah menggigit pikiran Galak.
__ADS_1
-oOo-