
Dengan ekspresi merasa tak bersalah, Meta mengangkat tangan kanannya. Namun, mulutnya tak mengeluarkan suara apa pun selain suara ringisan saja.
“YAAA!” teriak Galak seketika.
Lirikan ramah Meta berubah menjadi kesal. “Sayang Galak apaan, sih? Bicara yang tenang aja, bisa enggak, sih? Tenang aja, telinga Meta masih sehat, kok,” protes Meta.
“Emang bukan telingamu yang rusak, tapi otakmu!” seru Galak.
Meta mengerucutkan bibirnya. Galak tadi benar menghinanya, kan?
Galak mengalihkan pandangannya menuju Bu Astri. “Bu Astri,” panggilnya.
“Iya, Tuan,” sahut Bu Astri kembali menunduk. Sedari tadi ia terlalu sibuk menonton drama keluarga di depannya: Pertengkaran Istri Yang Mencuri Dan Suami Yang Dicuri.
“Silakan pergi!” titah Galak.
“Baik, Tuan,” sahut Bu Astri. Ia menurut begitu saja. Ia pun berbelok dan mulai melangkah untuk kembali ke dapur.
Kini perhatian Galak tertuju ke Meta seorang. “Masuk!” Galak mengangkat telunjuknya sehingga mengarah ke kamar.
Semringah di wajah Meta kembali hadir. Menyurutkan tinggi bibirnya. “Sayang Galak mau apa, hayo?” goda Meta. Kedua matanya berkedip-kedip dengan genitnya.
“MASUK!” sentak Galak akhirnya.
__ADS_1
Meta mengerucutkan bibirnya lagi. Semua ini tidak lucu. Ia jadi ikutan kesal. Ia pun masuk ke dalam kamar. Kemudian langsung duduk di atas ranjang.
“Sayang Galak apaan, sih? Teriak-teriak mulu!” ujar Meta merasa sebal.
Usai menutup pintu, Galak bergegas mendekati Meta. “Kamu yang apa-apaan!” balas Sayang Galak, “menjual semua piring di rumah ini untuk melayani hasrat enggak bergunamu itu, apa kamu pikir ini lucu?”
“Kan, Sayang Galak sendiri yang enggak kasih Meta uang dan enggak bolehin Meta kerja. Terus gimana caranya Meta bisa cari uang?”
“Apa kamu masih enggak, ngerti?”
Meta menggelengkan kepalanya.
“Itu berarti aku nyuruh kamu buat diam!” tegas Galak.
“Maksudnya enggak usah bikin ulah!” jelas Galak.
Meta bangun. Ia menjadi semakin kesal. “Apa segitu buruknya, ya, Meta dihadapan Sayang Galak?” tanya Meta.
“Apa kamu belum tahu itu?” sindir Galak.
“Seenggaknya jangan terus terang gitu. Hatinya Meta, kan, jadi sakit,” rengek Meta.
“Tapi, aku enggak peduli! Terserah kamu sakit hati, kek, sakit corona, kek, yang penting jangan mati di sini,” ujar Galak.
__ADS_1
“Sayang Galak, kok gitu, sih? Bukannya Sayang Galak cinta sama Meta,” protes Meta.
“Cinta?” Galak malah tertawa pelan. “Aku enggak tahu apa-apa tuh, soal itu.”
“Intinya Sayang Galak tuh cinta atau enggak, sih sama Meta?”
“Enggak!”
“Tapi kata Kasman, iya.” Meta menunjuk ke belakang. Entah siapa yang sebenarnya ia tunjuk. Padahal Kasman tidak ada di sana.
Kepala Galak menggeleng-geleng. Ia pun berbalik sehingga membelakangi Meta. Kakinya sedikit melangkah ke depan sehingga menciptakan jarak di antara mereka. Sudut bibir kiri Galak terangkat.
“Aku tahu kamu emang bodoh, tapi aku enggak nyangka semudah itu kamu dibodohi,” timpal Galak sinis.
Tidak perlu dijelaskan, Meta sudah mengerti maksud Galak. Bola mata Meta berkaca-kaca. Entah kenapa, ia merasa sedih karena penolakan itu. Padahal Meta tidak begitu tertarik pada laki-laki mana pun sebelumnya.
“Sayang Galak,” panggil Meta dengan intonasi suaranya yang melemah.
Galak tidak menyahut. Ia hanya menoleh sedikit sehingga hanya mampu membalas lirikan saja.
“Kalau Sayang Galak cinta sama Meta, cium Meta sekarang!”
-oOo-
__ADS_1