
Babang Galak datang buat lanjutin cerita yang kepotong kemarin ....
Baru bisa update sekarang 🤧 soalnya dari kemarin nge-down mulu.
Tapi tetep kudu semangat!
Cuz ....
💃💃💃
“Sayang Galak kenapa?” tanya Meta. Karena penasaran, ia langsung membuka dokumen itu.
Dahi Meta mengernyit. Tulisan tak asing berada di sana.
“Kontrak pernikahan?”
Untuk apa Meta melihat tulisan itu lagi?
“Tanda tangani itu,” titah Galak.
Meta menoleh ke Galak sembari melemparkan tatapan bingung. Dalam hatinya mulai merasa tidak tenang. “Tapi, kan, Meta udah tanda tangan sama surat yang dari nenek,” ujar Meta keberatan.
“Aku yang akan bicara dengan nenek. Cukup tanda tangani itu karena pernikahan ini hanya atas dokumen itu,” jelas Galak.
“Tapi, Sayang Galak, kan, belum ngomong sama nenek!” tegas Meta.
“Apa kamu kira nenekku tidak akan mengabulkan permintaanku: cucu kesayangan satu-satunya?” timpal Meta.
Meta mengakui itu. Menikahkan Galak, pun, Vera masih mempertimbangkan kebahagiaan Galak. Makanya kontrak itu hanya sampai setahun.
__ADS_1
Meta mengembuskan napas berat. Kini ia memusatkan perhatiannya ke arah dokumen itu.
Hanya tiga bulan dan menjamin karir Meta yang tidak akan hancur?
Kenapa perjanjian ini jauh sekali dari yang Vera buat?
Meta menoleh. Ia memasang ekspresi bertanya-tanya.
“Setelah satu bulan, aku akan mendapatkan kekuasaanku sepenuhnya. Lalu kamu akan menjadi model utama di perusahaanku. Kamu tenang aja. Karirmu tidak akan hancur, justru semakin melambung,” tutur Galak seolah menjawab pertanyaan dalam hati Meta.
“Bukan itu maksudnya Meta,” elak Meta.
“Apa lagi?” Kini dahi Galak yang mengerut. Kemudian melebar lagi seperti orang yang merasa lega. “Oh … sebuah apartemen, vila, dan jet pribadi?” Galak malah menebak.
“Itu adalah jaminan dari pernikahan ini. Kita benar-benar menikah. Jadi, perceraian kita akan berjalan semestinya,” tutur Galak.
“Benarkah?” Meta tidak yakin.
“Kalau Sayang Galak sama Meta benar-benar menikah dan bercerai, terus kenapa kita enggak bisa bersikap seperti suami dan istri? Apa status suami istri kita enggak benar-benar juga?” tanya Meta. Ia mengangkat dokumen itu dan menunjukkan salah satu ketentuan di sana.
“Karena pada akhirnya, kita akan bercerai,” jawab Galak.
“Tapi, kan, kita masih dalam masa pernikahan?” sahut Meta.
“Pernikahan kontrak?” Galak malah terkekeh pelan. Hubungan ini benar-benar konyol. Padahal bukan komik atau pun sinetron.
“Apa yang bisa dibanggakan dari itu?” sindir Galak.
“Karena itu kamu menghinaku?” tuduh Meta.
__ADS_1
Galak bangun. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
“Aku tidak pernah melakukan itu. Bukannya aku sudah sangat menghargaimu? Bahkan mantan suami di mana pun, tidak akan sudi memberikan sebanyak itu kepada mantan istrinya,” tutur Glalak begitu angkuhnya. Kemudian mulai melangkahkan kakinya.
Meta tidak bisa menerima semua ini. Menghargai kata Galak? Menghargai apa? Laki-laki itu hanya menghargai perceraian saja. Lalu bagaimana dengan pernikahan ini?
Lagi pula pernikahan macam apa ini?
Tidak ada pertunangan, tidak ada malam pertama, bahkan kamar kedua mempelai terpisah masing-masing ….
Ini benar-benar penghinaan atas nama pernikahan.
Meta pun bangun dengan wajah kesalnya.
“Tapi aku bukan mantanmu, melainkan istrimu!” teriak Meta.
Galak mengabaikan teriakan itu. Dia tetap melanjutkan langkahnya.
Meta bergegas mengejar Galak sampai melupakan kakinya yang masih sakit. Akhirnya, dia malah terjatuh dalam satu kali langkah, Bruk!
Bukannya mencium Galak, Meta malah mencium lantai kamarnya.
“Aduuuh,” rintih Meta.
Akhirnya langkah Galak berhenti di depan pintu. Ia mengembuskan napas berat. Ulah apa lagi yang perempuan itu perbuat?
Galak pun menoleh. Rupanya Meta masih tergeletak di atas lantai tanpa bergerak.
Tuh, kan ….
__ADS_1
Sudah tahu kakinya terluka, malah berulah dengan mengejar Galak.