Suamiku Galak

Suamiku Galak
26. Pisah Ranjang 2


__ADS_3

Meta mengingat bagaimana Galak tidur di malam pertamanya. Laki-laki itu memilih tidur di atas sofa. Ia pun pergi ke ruang tamu. Namun, ia tak menemukan siapapun di sana.


Seorang pembantu lewat hendak pergi keluar. Meta pun menghentikannya, “Tunggu, Bu.”


Perempuan paruh baya itu menoleh. “Iya, Nya,” sahutnya. Ia pun melangkah mendekati Meta.


“Om Galak ke mana?” tanya Meta.


“Bukannya Tuan Galak suami Nyonya?” sahut pembantu itu.


Ah, iya. Meta baru ingat kalau ia sudah mengganti nama panggilannya kemarin.


“Sayang Galak ke mana?” Meta mengulangi pertanyaannya.


Pembantu itu mengernyitkan dahi. Sebenarnya sebutan itu terdengar aneh di telinga. Ia hanya bisa menggelengkan pelan kepalanya, tanpa sepengetahuan Meta. Pengantin baru memang aneh.


… Entah aneh atau alay.


“Aku belum lihat Tuan keluar kamar dari tadi Nyonya. Apa di kamar tidak ada?” sahut pembantu itu.


“Kalau Meta tahu Meta enggak bakal tanya,” gumam Meta.


Meta tersenyum. Menyembunyikan gumaman sinisnya. “Kemarin Sayang Galak enggak tidur di kamar,” jawab Meta.

__ADS_1


“Kenapa, Nya? Kalian bertengkar, ya?” Jiwa-jiwa kepo pembantu itu bangkit.


Meta tidak menjawab. Ia malah meninggikan senyumnya.


Pembantu itu langsung menundukkan kepala. “Maaf, Nya. Aku lancang,” ucapnya menyesal.


“Kira-kira ada di mana, kamu tahu?” tanya Meta lagi.


Pembantu itu diam sejenak. Memikir dan mengingat-ingat. Ia sudah berkeliling dan membersihkan rumah sepagi ini. Namun, ia tak mengingat sempat melihat jejak kaki muncul dari kamar utama, tapi ….


Pembantu itu mengangkat tatapannya. “Mungkin ada di kamar utama kedua, Nya,” tuturnya.


“Kamar utama kedua?” Meta mengernyitkan dahi. Sebutan itu terdengar tidak biasa.


“Tuan Arga itu siapa?” tanya Meta.


Kini gantian pembantu itu yang mengernyitka dahi. Bagaimana Meta bisa tidak tahu tentang keluarga Galak? Bukannya mereka sudah menikah?


“Tuan Arga kakak tirinya Tuan Galak, Nya. Anaknya istri Tuan Besar. Kalau Tuan Galak, kan, anak simpanannya—eh ….” Pembantu itu menutup mulutnya. Ia menunduk lagi. Menyesal sudah berbicara lancang.


Meta hanya meringis. Ia memang tidak tahu seluk beluk keluarga Galak. Secara, kan, pernikahannya seperti pernikahan kilat. Tiba-tiba mendapat tawaran dan setuju begitu saja.


“Kalau begitu, di mana kamar utama kedua?” tanya Meta mengalah.

__ADS_1


“Tepat di depan kamar utama, Nya.” Pembantu itu menunjuk ke belakang, meski kamar yang ia maksud takkan terlihat oleh telunjuknya.


“Terima kasih, ya,” tutur Meta.


“Ini sudah tugasku, Nya.” Pembantu itu mengangguk.


Meta mulai melangkahkan kakinya. Saat melewati pembantu itu, ia berhenti. Tiba-tiba terpikirkan sesuatu. Ia pun menoleh. “Oh, ya ….”


Pembantu itu menoleh. “Ada apa, Nya?” sambutnya.


“Nama Ibu siapa?” tanya Meta.


“Astri, Nya. Aku sudah bekerja di sini sejak Tuan Galak masih kecil,” jawab pembantu itu yang menyebut dirinya Astri.


Meta tersenyum ramah. “Semoga kita bisa berhubungan baik, ya,” katanya.


“Apa, Nya?” Astri tidak salah dengar, kan?


“Akan ada banyak hal yang bisa kita bicarakan nantinya,” tambah Meta tanpa menyahuti pertanyaan Astri tadi.


.


.

__ADS_1


Please tinggalin jempol ama komen, Guys! Biar makin semangat Sutornya ngehalu 😆🤗 Jangan lupa buat klik love 😉


__ADS_2