
Meta pun berbalik dan berjalan lebih dulu memasuki kamar.
Sebenarnya Astri merasa janggal dengan tingkah Meta. Meski begitu, ia tetap masuk ke dalam kamar itu bersama sekarung cabe rawitnya.
Meta duduk di atas ranjang sedangkan Astri berdiri di depannya.
“Boleh ini kuletakkan di sini, Nya?” tanya Astri sembari melirik ke arah atas.
“Iya, silakan,” jawab Meta.
Astri pun menurunkan sekarung cabe itu dan meletakkannya di samping kakinya.
“Ada apa, Nya?” tanya Astri.
“Bu Astri udah berapa lama kerja di sini?” tanya Meta.
“Udah lama, Nya. Lebih tepatnya kurang tahu. Yang pasti, waktu itu Tuan Galak masih kecil banget. Dulu, mendiang nenekku yang kerja di sini. Karena nenekku udah enggak kuat, jadi, gantian aku yang kerja di sini,” jawab Astri sejelas-jelasnya.
“Jadi, Bu Astri kenal banget sama Sayang Galak?” tanya Meta lagi.
“Enggak cuma Tuan Galak, Nya; seluruh keluarga di sini aku kenal,” jawab Astri.
“Jadi, Bu Astri pasti tahu kenapa Sayang Galaknya Meta bisa segalak itu,” tebak Galak.
__ADS_1
“Apa maksud Nyonya?” Astri tidak mengerti.
“Sayang Galak itu galak banget. Apa dari kecil dia galak?” Bibir Meta mengerucut.
“Bukan cuma dari kecil, Nya. Dari bayi dia udah Galak, Nya,” timpal Astri.
“Enggak kayak gitu maksudnya Metaaa ….” tegas Meta.
“Eh, maaf, Nya.” Astri langsung menundukkan kepala.
“Maksud Meta sikapnya yang galaaak …. Kasar dan suka marah,” jelas Meta.
“Ah, masak sih, Nya?” Astri tidak percaya. “Setahuku Tuan Galak itu orangnya ramah, kok. Keluarga di sini tuh baik-baik, Nya. Makanya aku bisa betah tinggal di sini.”
“Iya, Nya. Dulu dia sering, kok, nyapa mbak-mbak di sini. Kalau sekarang, mungkin karena udah nikah sama Nyonya,” tukas Astri.
Meta menyipitkan mata. Kalau itu bukan karena ramah, tetapi memang Galak sedang mencari mangsa.
“Nyonya besar juga sering bilang gini, ‘aku memang majikanmu, tapi aku bukan dewa. Jadi hormati aku seperti manusia biasanya’.” Astri berusaha menirukan Vera.
“Oh, gitu, ya. Makasih, ya, Bu Astri. Bu Astri bisa pergi sekarang,” usir Meta dengan senyum semringah di wajah.
“Baik, Nya.” Astri menunduk untuk yang kesekian kali. Kemudian kembali mengangkat karungnya dan meletakkan ke atas kepala. Lalu ia pergi dari kamar itu.
__ADS_1
Meta masih duduk. Ia tengah berpikir keras. Sebenarnya ia tengah membayangkan bagaimana jadinya kalau Galak menjadi sosok yang ramah dan tersenyum seceria pepsodent. Namun, semua menjadi terasa aneh.
-oOo-
Meta bangun lebih pagi dari biasanya. Bahkan mentari belum menyibakkan selimutnya. Namun, Meta sudah rapi dengan baju monyet berwarna kuningnya. Rambut pirangnya terikat erat dan tinggi. Hanya tersisa sepatu. Sayang sekali hanya high-heels yang ia kenakan di pesawat, satu-satunya alas kaki yang ia miliki. Ia tidak mungkin menggunakan itu untuk berolahraga, kan?
Sebenarnya itu tidak baik dan mustahil. Namun, Meta terpaksa. Ia belum belanja lagi. Lagi pula Galak sangat susah untuk diajaknya pergi.
Dasar Sayang Galaknya Meta itu ….
Ramah dari mana? Kalau dia ramah, berarti Meta adalah Sinta.
Meta menggeliatkan tubuhnya. Melakukan pemanasan ringan agar tubuhnya menjadi lebih lemas. Kemudian ia keluar dari kamarnya menuju pintu kamar tepat di hadapannya.
.
.
.
Emang Galak itu galak? 🤔🤔
Tapi cakep, kok 😅😅
__ADS_1