
Babang Galak balik lagi di pagi hari ....
Eh, eh, cukup baca Babang Galak aja, ya 😉 habis ini langsung bersih-bersih. Dimarahin emak, lho ....
Cuz ....
💃💃💃
Para pelayan berdiri berjejeran. Semua menunduk dengan tubuh bergemetar. Tak ada yang berani mendongak. Karena saat kepala mereka terangkat, penglihatan mereka akan terbakar oleh api amarah yang berasal dari kepala Galak.
“Bulan besok gaji kalian akan dipotong!” tegas Galak melontarkan keputusan sepihaknya.
“Tapi, Tuan ….” Sebelum para pelayan itu berhasil melontarkan protes masing-masing, Galak sudah melangkahkan kakinya pergi.
Galak bergegas memasuki kamarnya.
Brak! Padahal hanya menutup pintu, tetapi terdengar seolah pintu itu terjatuh dari langit.
Galak melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. Berusaha meredamkan api amarahnya. Ia benar-benar marah saat ini. Padahal para pelayan itu sudah ia berikan gaji beserta bonus. Namun, apa yang mereka lakukan kemudian?
Padahal Galak hanya meninggalkan mereka untuk tidur siang sebentar. Namun, seluruh rak sepatu di dalam kamar Meta lenyap begitu saja. Kenapa mereka tidak mencegahnya?
Ah, sial! Ini adalah petaka!
Galak belum pernah kalah dari siapa pun sebelumnya. Ia selalu berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan sedari kecil. Namun, Galak bisa dikalahkan si Setan Meta begitu saja ….
Mimpi buruk apa ini?
-oOo-
Senyum belum juga pupus dari wajah Meta. Sedangkan kedua matanya belum menerbitkan purnama. Asyik sendiri dengan sabit yang dibuat oleh kedua pipinya. Meta tak henti-hentinya mengagumi sepatu baru berwarna emasnya.
“Apa Nyonya begitu senangnya?”
__ADS_1
Seketika senyum di wajah Meta pecah. Ia terkejut mendengar suara seorang laki-laki yang berasal dari belakangnya. Meta menoleh. Rupanya ada Kasaman di sana.
“Kasman …. Apaan, sih, Kasman ini,” sahut Meta.
“Apa Nyonya sudah berhasil merebut hati Tuan?” tanya Kasman.
Dahi Meta melahirkan kerutan. “Apa maksudnya Kasman?” tanya Meta.
“Semua orang yang bekerja di sini udah tahu, Nyonya,” ujar Kasman, “maksudku, tentang hubungan pernikahan Nyonya dan Tuan yang tidak harmonis.”
Benarkah?
Kenapa Meta baru tahu itu?
Bu Astri bahkan tidak mengatakan apa pun.
“Apaan, sih, Kasman. Enggak ada yang gitu, kok. Kami cuma bertengkar ringan kayak rumah tangga yang lain. Seperti kata pepatah, pernikahan tanpa pertengkaran itu seperti sop tanpa airnya: enggak jadi,” tutur Meta berusaha mengelak.
Sebenarnya Meta ingin tetap pada pendiriannya. Namun, tawaran Kasman terdengar menggiurkan.
“Bagaimana itu?” tanya Meta.
“Membuatnya cemburu.” Jawab Kasman.
Membuat Galak cemburu?
Itu tidak akan berhasil!
Galak, kan, tidak punya hati.
“Apaan, sih. Kasman cuma berlebihan. Di antara kami enggak ada apa-apa,” ujar Meta berbohong.
“Nyonya enggak percaya?”
__ADS_1
“Heh?”
Tiba-tiba Kasman langsung memeluk Meta. Meta berusaha melepaskan diri, tetapi Kasman terlalu kuat menahannya. Kasman tidak seperti seorang pekerja biasa kalau begini. Sialnya, kini keringat dan bau Kasman harus menular ke tubuh Meta.
Setelah beberapa saat, akhirnya Kasman melepas pelukannya.
“Kasman …. Apa yang kamu lakukan?” pekik Meta.
“Kalau besok pagi aku enggak datang ke sini, berarti Tuan cemburu,” tutur Kasman.
“Gimana kamu tahu?” tanya Meta.
“Karena nanti Tuan akan pecat aku,” jawab Kasman.
“Kenapa Sayang Galak harus mecat Kasman?” tanya Meta lagi.
“Karena Tuan habis lihat aku meluk Nyonya.” Kasman menunjuk ke arah di belakang Meta dengan tenangnya.
Meta langsung berbalik. Seperti yang Kasman maksudkan, Galak benar melihat dirinya berpelukan dengan Kasman. Hanya saja jarak mereka sangat jauh. Meski begitu, Meta bisa melihat jelas lirikan tidak suka yang terpantul dalam bola matanya. Kemudian pergi begitu saja.
.
.
.
.
.
Apa yang terjadi ama Galak, ya? 🤔
Selalu tinggalkan jempol dan komen 😍😚😚
__ADS_1