
Hai, Kakak 🤗🤗
Boleh tinggalin jempol ama komennya? 😥😥
Sekadar penyemangat 😭😭 si Meta, kan, semangatnya cukup ama Galak, tapi kalau aku ama kalian 😭😭😭
Cuz ....
💃💃💃
Baru saja Meta mengangkat kemejanya. Kini tidak jadi. Ia kembali menurunkannya.
Galak kembali mengacak-acak rambutnya sendiri. Kini ia serba salah. Ia tidak sudi kemejanya dikenakan rubah betina itu, tetapi ia tidak bisa membuat Meta membuka kemejanya sekarang juga.
“Kenapa kamu pakai kemejaku?” tanya Galak galak.
“Kan, Meta enggak bawa baju,” jawab Meta.
“Ya, kamu bisa beli, kan?” sindir Galak.
__ADS_1
“Kemarin, kan, udah malam. Meta, kan, cantik, terkenal; kalau ada yang culik Meta gimana? Bukan ngerendahin, ya, Om, tapi harga Meta tuh lebih mahal dari ginjal Om Galak, lho,” jawab Meta.
“Kalau gitu pakai aja bajumu yang kemarin,” dalih Galak.
“Enggak mau, Om. Baju Meta yang kemarin udah kotor, udah bau keringat, bikin gatal-gatal lagi. Kan, percuma Meta udah mandi segar-segar, pakai sabun wangi, dandan cantik-cantik kalau bajunya enggak keren,” Meta berhasil menjawab lagi.
Ah, sial! Seharusnya Galak bisa menahan amarahnya kemarin. Setidaknya tidak perlu melemparkan dua koper Meta dari bagasi. Kini ia terpojok di jalan buntu sendirian.
Galak mengembuskan napas berat. Tidak ada pilihan, terpaksa ia harus mengorbankan sesuatu sebelum semuanya semakin rumit.
Galak berjalan ke arah kopernya dengan tetap memalingkan wajah dari Meta. Koper itu memang tertutup, tetapi saat membukanya, isinya seolah-olah bumi usai peperangan. Galak bisa mengerti apa yang telah terjadi. Ingin sekali ia melemparkan seseorang ke lautan sekarang. Untung saja lautan sangat jauh dari sini.
“Pakai ini!” titahnya.
“Enggak mau,” tolak Meta. Ia tidak menarik celana itu. “Celana Om Galak gede banget. Enggak muat sama Meta.”
“Ya, pokoknya pakai aja, ini dulu,” paksa Galak.
“Tapi Meta udah nyaman, kok, pakai ini,” bela Meta. Ia menarik kedua sisi kanan-kiri dari kemejanya.
__ADS_1
“Aku yang enggak nyaman!” tegas Galak.
“Kenapa? Bukannya Om Galak suka, ya, sama yang panas-panas? Apa Meta kurang panas?” tanya Meta.
Galak sendiri tidak tahu kenapa hidupnya menjadi seperti ini. Ia hanya ingat, kalau penolakan Meta di hotel dulu, adalah hari terakhirnya bersama perempuan. Entah bagaimana semua itu berubah menjadi trauma.
“Dibilang pakai, ya, pakai, kok! Kita harus belanja habis ini!” seru Galak.
Akhirnya Meta menarik celana itu.
“Belanja di mana? Belanja apa? Apa kita mau kencan? Atau persiapan malam pertama?” cecar Meta.
Galak tidak menyahut. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala, lalu pergi keluar dari kamar itu. Ia tidak bisa bersama rubah betina yang gila sekali ini lebih lama lagi.
Usai pintu tertutup, Meta menyipitkan mata. Ia keheranan akan tingkah Galak yang ia kenal ini?
“Kenapa susah sekali? Bukannya menurut rumor, Om Galak itu maniak cewek alias playboy kelas kakap? Tapi dia malah enggak mau nyentuh Meta sama sekali. Emangnya apa yang salah sama Meta? Cantik: iya, imut: iya, manis: apalagi, udah istri lagi?”
Heh. Sepertinya Meta harus berusaha memperbaiki diri lebih keras lagi. Ia juga harus memikirkan cara untuk mendapatkan anak dari Galak. Kalau tidak, ia akan terusir begitu saja dengan manis yang telah nenek tua itu habiskan.
__ADS_1
-oOo-