Suamiku Galak

Suamiku Galak
84. Meninggalkan Meta


__ADS_3

“Aku bisa saja menghancurkanmu setelah ini,” ancam Galak.


Ian kembali tersenyum. Sama sekali tidak tertarik pada mode serius ini. Berbeda dengan Galak yang memang selalu Galak meski tidak sedang galak.


“Setidaknya, kamu enggak akan membunuhku di sini, kan?” Ian malah bercanda.


“Aku bisa saja menyuruh anak buahku membunuhmu setelah ini,” Galak menambahkan.


Ian menggelengkan kepalanya berulang-ulang. “Kamu enggak bisa bunuh aku karena kamu enggak tahu jimat apa yang ada pada tanganku.”


Ian menunjukkan tangannya yang menggenggam. Kemudian membukanya.


Hanya kekosongan yang berada di hadapan Galak.


Tidak. Itu bukan sekadar kekosongan. Melainkan sosok tak terlihat.


“Sehebat apa jimat itu?” tanya Galak.


“Sangat hebat. Karena dia tidak akan melepaskan ikatanku begitu saja. Dia tidak akan membebaskanku dari jangkauannya. Sehingga dia tidak akan diam saja saat tahu sesuatu telah terjadi padaku. Bahkan jika aku sudah tidak ada di dunia ini,” jelas Ian.


“Wah. Aku harus mengujinya kalau begitu.” Galak menarik sudut bibir kirinya. Terpukau.


“Silakan saja.” Ian menyanggupi.


Ian melambaikan tangannya pada seseorang. Kemudian pamit meninggalkan Galak. Sedangkan Galak masih diam di tempat, memperhatikan punggung yang semakin menjauh. Sembari menerka-nerka pelindung apa yang mengelilingi Ian saat ini. Tidak mungkin sihir atau guna-guna. Galak tidak percaya itu. Ia hanya mempercayai uang dan kerja keras. Karena hanya dua hal itu yang saling berkaitan.


Tiba-tiba Galak menepuk dahinya. Ia baru mengingat Meta. Entah ke mana perempuan itu sekarang. Dan entah ekspresi apa yang menempel pada wajahnya sekarang? Mungkinkah perempuan itu sedang berlompatan di luar atau melambaikan tangan pada siapapun laki-laki yang ditemuinya? Atau justru berdiam saja dengan mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


Meta yang merengut lebih baik bagi Galak. Entah kenapa, ia begitu sebal membayangkan perempuan itu harus berpelukan dengan laki-laki lain.


Tidak bisa! Galak tidak akan pernah membiarkannya!


Saat Galak mulai melangkah untuk mencari istrinya, langkahnya langsung dihentikan oleh suara pembawa acara yang mengatakan bahwa acara telah dimulai. Galak tidak benar-benar berhenti saat itu. Dia tidak peduli. Dia bersikeras untuk mencari Meta. Namun, sekali lagi gerakan kakinya berhenti. Karena Vera dan Pama telah datang.


Galak bisa melawan seluruh dunia, tetapi tidak dengan Vera!


Terpaksa Galak tetap di ruangan itu. Berusaha mengalihkan pikirannya dari rasa penasarannya terhadap Meta. Entah apa yang sedang perempuan itu lakukan. Galak tidak bisa mengetahuinya sekarang. Karena peresmian dirinya sebagai ahli waris keluarga tengah diberikan.


Acara berlangsung dengan lancar. Tanpa ada hambatan maupun laporan gangguan. Ini baik, tetapi juga mengherankan. Di mana hal buruk yang sempat Vera khawatirkan?


Setalah acara selesai, Galak pulang bersama Vera dan Pama dalam satu mobil yang sama. Katanya, ada sesuatu yang Vera berikan. Sebuah kalung berlian yang besar dalam sebuah kotak persegi besar berwarna merah.


“Apa ini?” tanya Galak keheranan.


“Maksudku, untuk apa Nenek memberikannya padaku sekarang? Kenapa tidak tadi saja? Biar kukenakan dan kupamerkan ke orang-orang.”


Ingin sekali Vera memukul kepala cucunya sekarang.


“Dasar kamu ini! Kenapa tidak menyuruhku membawamu untuk operasi plastik?” balas Vera.


Galak manggut-manggut sembari menutup kotak itu. “Itu juga yang mau aku katakan. Tapi Nenek sudah mengatakannya lebih dulu.”


Karena Galak terus menyetujui pernyataan aneh Vera, tidak ada lagi yang bisa Vera katakan. Tentu saja dia tidak mau kalau sampai itu benar. Dia mungkin bisa memiliki keturunan aslinya dari rahim Galak, tetapi dia akan kehilangan cucunya.


“Aku memberikannya saat ayahmu menempati posisi sepertimu dulu,” ujar Vera mulai bercerita. Kemudian menarik satu tangan Galak yang tidak memegang kalung itu. “Kemudian kukatakan padanya, untuk memberikan kalung itu pada orang yang dicintainya.

__ADS_1


Ayahmu tersenyum puas. Dia berencana memberikan kalung ini pada ibumu. Tapi, karena petaka yang dibuat oleh ibunya Arga, dia justru memberikan kalung itu pada perempuan licik itu.


Jadi, aku mengambilnya kembali. Karena perempuan licik itu bukan perempuan yang ayahmu cintai.”


Galak menggeleng-gelengkan kepala. Untuk sejenak, dia terpukau dengan neneknya. Neneknya ini tegas, tidak punya rasa kasihan, dan mengagumkan.


“Nenek benar-benar kejam.” Itu pujian.


“Aku tidak lebih kejam dibanding perempuan tamak yang tega memisahkan dua manusia yang saling cinta.” Sedangkan ini sindiran.


Galak meletakkan kotak perhiasannya di sampingnya. Kemudian menggenggam tangan Vera dengan kedua tangannya.


“Itu cuma masa lalu, Nek. Bisakah kita melupakannya sekarang? Lagi pula, kita hidup untuk masa depan.” Galak berusaha membujuk Vera.


Vera melepaskan tangan Galak. Perhatiannya kembali ke depan. Sedangkan tatapannya menjadi tajam.


“Itu tidak akan pernah. Karena Arga menyimpan masa lalu itu sampai sekarang. Kehidupannya di masa depan tidak akan berubah. Dia justru tengah berusaha merebut masa depanmu.”


Sebenarnya, Galak tidak pernah menginginkan peperangan antar saudara ini. Bahkan, jika Arga menginginkan seluruh bagian kekayaannya, dia tidak akan masalah. Namun, Vera tidak akan pernah mengizinkannya. Dan Arga tidak pernah memintanya. Di sinilah Galak merasakan kerisauannya. Dia tidak setuju pada keinginan Vera, tetapi tidak tahu keinginan Arga.


“Oh, Kakak. Apa yang sedang kamu rencanakan sekarang?” gumamnya sangat lirik. Bahkan sekadar gerakan bibir. Dia tidak mau kalau Vera sampai mendengarnya.


Sesampainya di rumah, tiba-tiba Galak teringat sesuatu.


“Meta? Di mana perempuan itu?”


-oOo-

__ADS_1


__ADS_2