
Meta menyadari kalau Galak tidak sedang berada dalam keadaan baik-baik saja. Ia pun mengalungkan kedua tangannya di balik leher Galak. Kemudian mulai menggerakkan bibirnya sendiri, seolah membalas dan mengatakan, “Tenanglah. Aku baik-baik saja ….”
Bibir Galak tidak bergetar lagi. Semakin lama ia mulai terbiasa dengan ciuman ini. Ia bahkan terhanyut oleh suasana yang Meta ciptakan. Selangkah … selangkah … dan selangkah secara perlahan, kaki Galak bergerak. Kaki Meta yang terdorong akhirnya menabrak ranjang. Lutut itu pun tertekuk. Meta yang awalnya hanya duduk akhirnya terbaring di atas ranjang itu.
Terlarut dalam kenikmatan, Meta turut memejamkan matanya. Membiarkan gerakan apa yang akan tangan Galak lakukan selanjutnya ….
Sudah banyak perempuan yang Galak jatuhkan di atas ranjang, baru kali ini Galak merasakan kepuasan ini. Bukan kepuasan secara hasrat, melainkan hati. Seolah hatinya yang kerap menjerit, kini berhasil merengkuh keinginan.
Ketenangan ….
Tidak! Ini adalah awal dari masalah!
Galak akan menginginkan lebih dari sekadar kecupan, yaitu kebersamaan.
Akan tetapi, sepertinya ini akan amat sulit untuk Galak dapatkan.
__ADS_1
“Aku menyukaimu …,” itulah gumaman Galak yang tak pernah sampai ke telinga Meta. Terlalu lirih dan begitu mudah ditenggelamkan dalam suara desahan.
-oOo-
Senyum … itulah gerakan pertama kali Meta saat pikirannya sadar. Bau asli kulit seseorang lebih dulu menyapanya dibandingkan cahaya. Bahkan setelah kedua matanya terbuka, dinding bahkan tak sampai pada pandangannya. Semua ini karena sebuah dada berwarna cokelat yang menjadi penghadang.
Kebahagiaan ini adalah bukti bahwa keberuntungan yang terjadi kemarin malam bukanlah mimpi.
Akhirnya … perjuangan Meta berhasil mendapatkan pencapaiannya.
Sungguh … Meta tidak sabar menantikan hari itu ….
Hari di mana si nenek tua itu tidak akan bisa menjauhkan langkah kaki Meta dari rumahnya, bahkan jika Galak tidak mencintainya.
Dada itu terasa bergerak. Seketika Meta memejamkan matanya lagi. Ia berusaha menyembunyikan kebenaran tentang dirinya yang telah bangun dari Galak yang akhirnya terbuka juga matanya.
__ADS_1
Galak sedikit terkejut mendapati seseorang berada dalam pelukannya. Setelah berhasil mengingat apa yang terjadi kemarin malam, ia malah tersenyum, lalu tertawa dengan pelan. Entah lelucon apa yang sempat masuk dalam kehidupannya. Hanya untuk meniduri satu perempuan saja, ia harus bertemu dengan para tawon yang entah datangnya dari mana. Entah bagaimana semua yang terjadi kemarin malam, malah mengalir begitu saja.
Galak kembali memejamkan matanya. Tidur dalam kehangatan ini membuatnya merasa sangat nyaman. Ia bahkan tidak bermimpi. Entah kenapa tidurnya bisa nyenyak sekali.
-oOo-
Tadinya Galak sedang sibuk mengeringkan rambutnya mengenakan handuk. Ia baru keluar dari kamar mandi dan masih mengenakan mantel mandi berwarna putih. Ia menoleh ke atas ranjang, memastikan keadaan Meta saat ini. Akan tetapi, ranjang itu malah terisi kekosongan yang bersembunyi di balik selimutnya. Ke mana Meta pergi?
Pandangan Galak bergulir ke arah lain. Sampai akhrinya berhenti pada seorang perempuan yang tengah berdiri di depan lemari. Apa yang sebenarnya dilakukan perempuan itu?
Lalu ….
Lalu dari mana kemeja warna putih yang menempel di tubuhnya berasal?
Entah kenapa, kemeja itu tidak terlihat asing bagi Galak.
__ADS_1
Ah, sial! Sepertinya rubah betina itu berulah lagi!