Suamiku Galak

Suamiku Galak
45. Kemarahan Meta


__ADS_3

“Apa yang Calon Mantan Sayang Galak lakuin, sih?” pekik Meta. Dia merasa keberatan.


“Kamu yang apa yang kamu lakuin?” Galak membalik ucapan Meta.


“Meta cuma mau bunuh diri Meta,” tutur Meta.


“Apa kamu enggak tahu kalau kamu membunuh dirimu, sama aja kayak kamu bunuh aku?” protes Galak.


“Karena Meta tahu makanya Meta lakuin itu. Kalau Meta bunuh Galak, kan, Meta yang masuk penjara,” jelas Meta yang rupanya bisa berpikir cerdas juga.


Ah, sial! Meta memang menyebalkan. Galak pun bangun. Ia sudah muak dengan semua ini. Salahnya sendiri memaksa Meta turut bergabung di meja makan. Kalau tidak, setidaknya Galak bisa makan dengan tenang. Sekarang selera makan Galak benar-benar hilang.


Galak keluar dari area meja makan itu.


“Bu Astri,” panggil Galak.


Bu Astri yang tadinya sudah menjauh, kini mendekat lagi.


“Iya, Tuan,” sahut Bu Astri.


“Antar makanan untukku ke kamarku!” titah Galak.


“Ta-tapi, kenapa, Tuan?” tanya Bu Astri.


“Apa kamu tidak lihat itu?” Galak menunjuk ke belakang.


Arah pandangan Bu Astri mengikuti telunjuk Galak. Telunjuk itu mengarah ke Meta yang masih di atas kursinya.

__ADS_1


“Apa aku bisa tenang kalau makan di tengah-tengah tsunami? Bukannya kenyang, malah aku yang mati,” sindir Galak.


“Tsu-tsunami?” Meta terperangah. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


Jadi, Galak menyindirnya?


Berani sekali Galak itu!


Meta tidak terima. Ia pun bangun.


“Bu Astri,” gilirann Meta memanggil.


Bu Astri langsung menoleh. “Iya, Non,” sahutnya.


“Meta juga!” seru Meta mengikuti Galak.


“Apa enggak jelas?” sentak Meta. Padahal ia belum pernah menjelaskan.


Bu Astri diam. Ia bingung harus bereaksi bagaimana.


Meta menjadi semakin sebal. Kenapa semua orang tidak ada yang peka kalau menyangkut dirinya?


“Maksudnya Meta, Meta juga maunya makanannya di antar ke kamar!” tegas Meta.


Meta pun keluar dari area makan itu. Ia malah berjalan lebih cepat sampai mendahului Galak.


“Nyonya!” panggil Bu Astri.

__ADS_1


Langkah Meta berhenti. Ia mengembuskan napasnya dengan kesal sembari berbalik. “Apa, Bu?” sahut Meta.


“Nyonya kok enggak pakai alas kaki? Ketinggalan, ya?” tanya Bu Astri.


Meta menurunkan pandangannya. Ia melihat ke arah kakinya yang masih bertelanjang.


Ah, iya. Meta baru mengingat itu.


“Bukan urusan Bu Astri!” seru Meta. Ia kembali membalikkan tubuhnya. Kemudian mulai berjalan.


“Lagi pula, aku enggak akan mati cuma karena enggak pakai alas kaki,” gumam Meta.


Meta mempercepat langkahnya. Dia tidak mau berada dalam satu tempat yang sama dengan Galak lebih lama lagi.


Meta tidak jadi berolahraga. Kini dia malah masuk ke dalam kamarnya. Meta langsung melemparkan diri ke atas ranjang. Kemudian menendang-tendang tangan dan kakinya ke ranjang itu. Dia benar-benar merasa gemas karena Galak.


Jika terus seperti ini, Meta sangat setuju dengan kontrak perjanjian selama tiga bulan itu. Bersama Galak yang galak itu, percuma saja, kehidupannya tidak akan bahagia.


Untung saja Galak tidak lebih menyebalkan dari akarnya. Setidaknya, laki-laki itu masih memikirkan jaminan untuknya. Tidak seperti si akar yang hanya mengambil keuntungan dan menimpakan seluruh kerugian kepada Meta.


Tidak apa-apa, Meta. Meski kamu tidak bisa menjadi nyonya besar, kamu masih punya kesempatan untuk menjadi menantu presiden nantinya.


-oOo-


SEMANGAT META!


Btw, boleh minta jempol sama komennya, kan 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2