Suamiku Galak

Suamiku Galak
65. Bukan Mimpi


__ADS_3

“Apa segitunya kamu mau ciuman dariku?” tanya Galak.


“Heh?” Meta tidak terlalu mengerti dengan pertanyaan Galak ini.


“Kalau cuma itu yang kamu mau, mungkin aku juga bisa kasih yang lebih,” ujar Galak.


“Apa maksudnya, Sayang Ga ….”


Sebelum Meta menyelesaikan kalimatnya, ia sudah terkejut melihat Galak melepaskan kaus yang Galak kenakan dan melemparkannya sembarangan.


Galak memang melemparkan kausnya seolah laki-laki yang jantan. Namun, dalam setiap kali detik melangkah, terdapat waktu berjam-jam di pikiran Galak. Seolah waktu berputar dengan sangat lambat. Galak menggunakan kesempatan itu untuk bertarung dengan pikirannya.


“Aku pasti bisa, aku pasti bisa,” begitulah hati Galak menyuarakan semangat untuknya.


Sampai saat ini, hanya keraguan yang mengikat keberanian Galak. Suara-suara aneh itu belum berdengung di telinganya. Galak berharap suara itu tidak akan muncul, hanya untuk malam ini.


Detik kembali melangkah. Galak langsung mengunci kedua tangan Meta yang berada di atas ranjang, Perempuan itu terlihat sangat terkejut. Namun, Galak tidak memberikan waktu untuk perempuan itu menikmati kejutannya. Karena dalam sekejap mata, Galak sudah mendaratkan ciumannya. Kemudian memejamkan kelopak mata dan berusaha untuk menikmati ciuman itu.


Ini benar-benar tidak mudah. Bibir Galak terasa kaku. Seolah tidak kuat bergerak, apa lagi untuk ******* bibir tipisnya Meta.


Kurang agresif kamu, dasar payah!


Kurang agresif kamu, dasar payah!


Kurang agresif kamu, dasar payah!

__ADS_1


Ah, sial! Suara terkutuk itu bahkan sudah berdengung di telinga Galak. Sepertinya Galak benar-benar mendapat kutukan dari Tuhan karena terlalu sering menjelajahi bibir perempuan yang berbeda.


Galak belum menyerah. Ia tak mau melepaskan bibirnya dari bibir Meta. Gerakannya tertatih-tatih, begitu lamban sampai Meta kesulitan bernapas.


Ah, sial! Akhirnya ciuman itu terlepas. Galak tidak kuat lagi. Kini tubuhnya bahkan bergemetar. Ia pun bangun sebelum Meta menyadari keanehannya. Kemudian langsung pergi dari kamar ini.


Meta mengerjap-erjapkan kelopak matanya. Ia berusaha menelaah apa yang terjadi baru saja. Semua ini seperti mimpi. Terasa begitu aneh.


Tangan Meta bergerak menyentuh bibirnya. Bibir tipis itu masih bisa merasakan kehangatan yang Galak tinggalkan. Akan tetapi, bagaimana ciuman itu hilang dalam sekejap saja?


Meta bangun. Perhatiannya memusat pada kaus yang tergeletak sembarangan di atas lantai. Meta pun beranjak dari atas ranjang. Ia berjalan mendekati kaus itu. Ia pun menariknya.


Kaus itu adalah bukti atas tindakan Galak baru saja. Laki-laki itu hampir saja meniduri dirinya. Lalu kenapa tidak terjadi apa-apa?


Apa yang sebenarnya salah dari Meta?


“Apa kamu menghinaku?” gumam Meta.


Meta terperangah. Ia berpikir kalau Galak menganggap ciumannya payah.


Meta tidak bisa menerima penghinaan ini. Ia pun bergegas mengambil kunci dari dalam tumpukan celana dalamnya, lalu keluar dari kamarnya sendiri, dan masuk ke dalam kamar Galak tanpa permisi.


Sesampainya di dalam kamar Galak, Meta tidak menemukan seorang pun mengisi tempat itu. Namun, bukan juga keheningan yang mengisi. Karena dari dalam kamar mandi, terdengar suara air deras yang berjatuhan dan suara keras seseorang yang melampiaskan kemarahan.


“AAARGH …!”

__ADS_1


Itu benar Galak yang berteriak. Meta sampai merasa ketakutan.


Apa yang sebenarnya terjadi sampai membuat Galak sebegitu marahnya?


Meta menjadi keheranan. Namun, Meta tidak bisa menemukan jawabannya di sana. Tak lama, pintu kamar mandi itu hendak terbuka. Meta langsung keluar dari kamar itu dan bergegas masuk ke kamarnya sendiri. Ia langsung menyembunyikan dirinya di balik selimut.


Baiklah. Kalau Meta tidak bisa mendapatkan ciuman Galak malam ini, ia akan mencari ciuman itu di dalam mimpi.


-oOo-


Brak!


Dahi Galak melahirkan kerutan. Ia tidak salah dengar, kan?


Itu terdengar seperti suara pintu yang menutup. Namun, Galak tidak melihat tanda-tanda pintunya telah dibuka.


Galak pun berjalan cepat dengan hanya mengenakan mantel mandi, menuju pintu kamarnya. Ia membuka pintu itu dan mencoba mencari sesuatu di luar. Namun, seekor semut pun tak ada yang berkeliaran.


Apa tadi sekadar prasangka Galak saja?


Eh, tunggu ….


Apa Galak tadi lupa mengunci pintu kamarnya?


-oOo-

__ADS_1


ah... udah ketebak 😖😖😖😖


__ADS_2