
“Sejak kapan Pak Pama jadi keluarganya Nenek?” protes Galak.
“Sejak benih-benih cinta terasa di hati mereka ….” Meta malah nge-drama.
“Itu enggak benar, ya!” tegas Galak.
“Emangnya kenapa? Meski Nenek udah tua, dia masih berjiwa muda, kok. Iya, kan, Nek?” Meta melemparkan tatapannya ke arah Vera.
Galak menoleh sebal ke arah Vera dan Pama. Sedangkan Vera hanya tersenyum sinis. Ia tersanjung dengan pujian cucu menantunya. Namun, ia tertindas oleh tatapan mengintimidasi cucunya. Seharusnya Galak menyingkir saja dari dunia ini—
“Sudah-sudah,” tutur Vera melerai, “jangan bertengkar di meja makan. Kita makan saja dulu. Nanti kita lanjutkan obrolannya.”
Apa tadi itu obrolan, bukannya pertengkaran?
Ning dan Sri datang dari dalam. Mulai mengisi satu per satu makanan di atas meja.
Hidup bersama Galak memang menyebalkan bagi Meta. Namun, semua itu terbayar dengan kesenangan yang ia dapatkan. Salah satunya makanan. Sebelum berhenti menjadi aktris, Meta takkan bisa menikmat daging-daging lezat yang terhidang di atas meja.
Setelah makan-makan selesai dan meja bersih dari piring, Vera melirik ke arah Pama. Kemudian Pama mengeluarkan sebuah amplop dan menyerahkannya kepada Galak.
“Apa itu?” tanya Galak.
“Bukalah dulu,” sahut Vera.
__ADS_1
Alis kanan Galak terangkat. Ia membuka amplop itu. Dua tiket penerbangan ke luar kota berada di dalamnya.
“Untuk apa tiket ini? Nenek enggak berniat kawin lari, kan, sama Pak Pama?” sindir Galak.
“Jaga ucapanmu itu! Gini-gini orang tertua di keluarga ini,” sahut Vera memperingatkan.
Galak hanya melirik sinis. Kemudian memasukkan kembali tiket itu ke dalam amplop.
“Itu tiket untuk bulan madu kalian,” terang Vera.
Galak mendorong amplop itu ke Pama kembali. “Aku enggak tertarik Nenek,” tolaknya.
“Apa kamu tidak tahu banyaknya rumor yang mengelilingi pernikahan kalian?” Vera mengingatkan.
“Apa pun itu, kalian harus membersihkannya,” tegas Vera.
“Ayolah, Nenek. Semua akan padam pada waktunya. Kita hidup untuk diri kita sendiri. Kenapa harus memikirkan omongan orang lain?” rayu Galak.
“Kita hidup untuk diri kita sendiri. Tapi kita tidak hidup sendiri. Ucapan orang-orang berpengaruh besar pada nama baik kita. Kalau nama kita memburuk, jangan sampai kamu bilang kalau kita tidak harus memikirkan ucapan orang,” elak Vera.
“Nenek …,” rengek Galak.
Vera bangun. Pama pun bangun, lalu menarik kursi Vera ke belakang agar perempuan tua itu bisa keluar.
__ADS_1
“Siapkan koper kalian baik-baik. Besok pesawat akan terbang dan kalian hanya boleh kembali kemari bulan depan!” tegas Vera. Kemudian ia berbalik dan mulai melangkah.
Galak terperanjat. Ia langsung bangun. “Tapi itu terlalu lama, Nek!” protesnya.
Vera menghentikan langkahnya. Ia menoleh singkat. “Tapi bagaimana ini? Aku sudah memberikanmu cuti kerja satu bulan,” ejeknya. Kemudian melanjutkan langkahnya pergi.
Ah, sial! Nenek tua itu selalu melakukan apa pun yang ia mau. Mulai menikahkan Galak tiba-tiba, memaksa bulan madu; lalu sekarang, Galak masih harus bersama perempuan gila ini di kota asing.
“Ah, liburan ….” Meta menggeliatkan badan seolah-olah menghirup udara segar.
Galak melirik dengan kedua mata menyipit. “Apa kamu begitu senangnya?” sindirnya.
Meta bangun. “Iya, dong. Karena sibuk sama dua film baru, Meta enggak bisa liburan selama setahun ini,” ucapnya puas.
Meta keluar dari kursi. Ia berbalik bersiap melangkah. “Siap-siap, ah! Waktu dimulai dari sekarang!” Meta langsung berlari menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Meta membuka ruang pakaiannya. Melihat semua itu, ia menatap sedih. Ia mengembuskan napas berat seolah-olah tak ikhlas.
“Kenapa nenek mertua bilangnya sekarang? Kan, Meta enggak bisa nyiapin semua dalam semalam,” rengek Meta.
Meta mulai melangkah. Memilih dan memilah satu per satu pakaiannya.
“Maaf, ya, Guys. Meta cuma bisa bawa sedikit aja dari kalian buat ikut Meta bulan madu,” tutur Meta sendu.
__ADS_1
-oOo-