
“Maaf, Tuan. Tapi aku tidak menemukan jejak apa pun yang ditinggalkan Kasman,” ujar Pama sembari menunduk. Ia tengah berdiri di depan Galak.
“Jadi, kamu jauh-jauh datang kemari hanya untuk mengabarkan kegagalan?” sindir Galak.
Ya. Kasman jauh-jauh mengunjungi vila dan masuk dalam bagian kisah bulan madu Galak hanya untuk memberikan jawaban kepada Galak tentang rasa penasarannya kepada Kasman.
“Memangnya ada apa dengan pekerja ini, Tuan?” tanya Pama turut penasaran.
“Dia bukan pekerja biasa. Dia sangat berani mendekati Meta bahkan memeluknya. Makanya aku sampai memecatnya,” timpal Galak.
Pama menyipitkan matanya. “Apa ini bisa kusebut cemburu?” tanya Pama.
“Enggak,” jawab Galak, “ini bukan kebiasaan baik. Maka berusahalah belajar dari dia.”
Pama menunduk. “Baik, Tuan.”
“Lalu formulir pendaftaran pekerja … apa kamu udah lihat?” alih Galak.
“Dia hanya tukang kebun, Tuan. Kami tidak mencarinya melalui seleksi atau dari sekolah mana dia lulus. Kami hanya mencari siapa yang mau bekerja saja,” timpal Pama.
Baru kali ini Galak mendengar itu. Ia merasa sangat terkejut. “Bagaimana bisa kalian bertindak seceroboh ini? Pekerja, kan, juga masuk dalam wilayahku. Seharusnya kalian amat berhati-hati kepada mereka yang akan tinggal di bawah kekuasaanku. Kita enggak pernah tahu bagaimana musuh yang menyelinap di balik selimut,” tegur Galak.
Pama hanya tersenyum tipis. Entah ia yang ceroboh atau Galak yang berlebihan.
__ADS_1
Setelah menenangkan amarahnya, Galak kembali menoleh. “Apa tidak ada informasi lain soal Kasman?”
“Sebenarnya ada orang kepercayaanku yang melihat seorang laki-laki mirip Kasman memasuki perusahaan Tuan Arga, kakaknya Tuan. Jadi kami menyelidiki orang itu. Dan ini yang bisa kami dapatkan.” Pama menyerahkan sebuah map kepada Galak.
Usai menerima, Galak memerhatikan isi map itu baik-baik. Ia mengangkat beberapa foto yang mengisi map itu. Alis kanannya terangkat. Laki-laki yang berada di dalam foto itu benar-benar mirip dengan Kasman. Hanya saja penampilannya yang jauh berbeda. Laki-laki ini sangat rapi dan terawat. Para pelayan di sini tidak akan percaya kalau laki-laki itu adalah Kasman, bahkan Galak demikian.
Galak mengalihkan perhatiannya ke arah biodata. Sekali lagi alis kanannya terangkat. Ian Marlon: bukankah nama itu terlalu jauh jika dibandingkan dengan Kasman?
Galak terdiam. Ia tengah berpikir dan berusaha menyatukan setiap kepingan puzzle yang ia temukan.
“Apa ada sesuatu, Tuan?” tanya Pama merasa penasaran.
Galak menutup map itu. Kemudian menoleh ke Pama. “Tidak ada. Kamu bisa kembali sekarang,” timpalnya.
Usai kepergian Pama, Galak mengembuskan napasna sembari menurunkan tangannya yang masih memegang map. Galak yakin laki-laki tampan bernama Ian Marlon dan Kasman adalah laki-laki yang sama. Akan tetapi, kenapa laki-laki itu malah berusaha mendekatkan Galak dengan Meta? Bukankah seharusnya sebaliknya?
Entah apa yang sebenarnya Arga rencanakan. Kakaknya Galak itu tidak pernah bisa diterka.
Galak berbalik. Saat itulah ia mendapati Meta dengan sebuah nampan berisi dua gelas teh dalam pegangan tangan.
Alis kanan Galak terangkat. “Apa yang kamu lakukan?” tanyanya.
Meta menoleh ke samping. Kemudian memusatkan perhatiannya lagi ke Galak. “Lho, tadi bukannya tadi Pak Pama ada di sini?” tanyanya.
__ADS_1
“Udah pulang,” jawab Galak.
Binar di mata Meta menurun. Ia sedih melihat teh buatannya tak sampai diminum.
“Anterin tehnya ke kamarku,” ujar Galak. Kemudian mulai melangkah.
Meta langsung berbalik. Pandangannya mengikuti punggung Galak yang bergerak. “Sayang Galak mau minum semua?”
“Iya,” jawab Galak.
“Sayang Galak!” panggil Meta.
Langkah Galak berhenti. Mulutnya mengeluarkan decakan. Ia merasa muak dengan semua ini. “Ada apa?” tanyanya sembari berbalik sehingga menoleh ke Meta.
Meta berlari kecil, tetapi tidak sampai ke Galak. Kemudian berjongkok tepat di depan sebuah benda.
“Bukannya ini foto Kasman?” tanya Meta.
Galak menurunkan lirikannya. Rupanya ada satu foto Kasman, eh, maksudnya Ian yang terjatuh. Galak bergegas memungut benda itu.
“Tapi Kasman kok ganteng banget, ya? Udah kayak Sayang Galak,” imbuh Meta.
“Dia bukan Kasman. Lagian aku yang lebih baik dari siapapun!” tegas Galak. Ia segera berbalik dan mulai melangkahkan kakinya pergi.
__ADS_1
-oOo-