Suamiku Galak

Suamiku Galak
86. Tuntutan Perceraian


__ADS_3

Padahal, tadi Meta pergi dengan menaiki taksi. Namun sekarang, dia justru berdiam dalam mobil dingin, di mana Ian sudah berkendara di sampingnya.


“Terima kasih ya, Ian,” ucap Meta mencairkan kediaman.


Ian mengangguk. “Tapi, kenapa kamu malah sendirian di pinggir jalan? Galak ke mana?”


“Jangan sebut nama Sayang Galak!”


Mendengar nama itu, Meta langsung mencebikkan bibirnya. Dia menoleh ke samping dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


“Bukannya kamu sendiri yang nyebut Sayang Galak tadi?”


Meta pun menoleh. “Meta nyebut Sayang Galak buat nunjukin ke Ian kalau Ian enggak boleh sebut Sayang Galak.”


“Itu aja dua kali.”


“Ish, Ian. Meta nyebut Sayang Galak Sayang Galak sampai dua kali, buat menegaskan kalau buat enggak nyebut Sayang Galak sebagai Sayang Galak. Bilang aja laki-laki berengsek.”


“Met. Kamu nyeremin kayak gini.”


“Bodo.”

__ADS_1


“Tapi kamu ada masalah sama laki-laki berengsek itu?”


Dalam hati Ia bersorak sorai karena berhasil menyebut Galak sebagai laki-laki berengsek dengan aman dan sentosa.


“Nanti aja ya, Ian. Takutnya kamu meledak juga gara-gara ceritanya Meta. Kan enggak enak kalau Meta jadi Meta Guling. Kan, belum dibumbuin.”


“Emangnya **** guling? Lagian, tubuhmu tuh kurus, Met. Enggak cocok. Cocoknya jadi tusuknya.”


Ian pun mengarahkan mobilnya menuju sebuah bar. Sepertinya segelas wiski bisa menenangkan Meta untuk malam ini. Namun, kebenarannya tidak begitu. Karena sesampainya di bar itu, Meta terus merasa kurang sampai bartendernya hafal sama pesanan Meta.


“Apa dia baik-baik saja?” Bartendernya mulai ragu saat Meta sudah teler dengan kepala berada di atas meja.


Ian menoleh. Dia juga tidak yakin kalau Meta masih baik-baik saja sampai sekarang.


“Satu lagi!” Meta mengangkat telunjuknya.


Ah, sial! Ian semakin mengkhawatirkan perempuan ini.


“Met. Udah, ya. Kita pulang saja. Aku antarkan kamu ke rumahmu.”


“Sayang Galak nyebelin! Dasar manusia galak!”

__ADS_1


Setelah mengumpat Galak habis-habisan, Meta tak lagi bersuara. Dia benar-benar tidak sadarkan diri. Dia tidak sadar sedang apa, berada di mana, dan apa yang terjadi kemudian. Tahu-tahu, dia sudah terbangun di atas sebuah ranjang yang asing.


Meta berusaha membangunkan kepalanya. Ini benar-benar terasa sakit. Di sampingnya, dia menemukan senampan makanan yang diletakkan di atas sebuah nakas. Terdapat sebuah surat pula di sana.


“Redakan peningmu.”


Hanya tulisan itu. Tanpa tertera dari siapa dan untuk siapa.


Meta sendiri tidak bisa mengingat apa pun tentang kemarin malam. Karena saat dia berusaha mengingat, kepalanya malah semakin sakit. Meta pun berusaha mengabaikan saja.


Meta memakan semua kudapan itu. Setelah itu, dia memilih mandi dulu. Barulah dia pulang. Sebelumnya, dia sudah berusaha mencari siapapun yang ada di sini. Namun, dia malah hanya menemukan kekosongan.


Meta tidak ingat kejadian kemarin malam. Itulah kenapa, dia berjalan ke rumahnya dengan begitu tenangnya. Dia mulai merasakan ketidaknyamanan saat pekerja di rumah Vera memperhatikannya dengan tatapan aneh. Mereka bahkan tidak memberikan salam untuknya. Meta menjadi khawatir. Dia pun bergegas memasuki rumah dan mencari Galak ke mana-mana.


Saat di kamar, Meta hanya mendapati kekosongan. Dia baru dibuat terkejut dengan kedatangan Galak di belakangnya.


“Sa-Sayang Galak—”


“Kita harus bercerai.”


“A-A-Apa?”

__ADS_1


-oOo-


__ADS_2