
“Kamu itu … perempuan macam apa yang mau mencium laki-laki tanpa rasa malu,” sindir Galak.
“Meta emang enggak punya rasa malu karena Meta udah ngumpulin rasa malunya Meta, terus dibuang ke laut satu jam lalu,” timpal Meta.
“Terus?”
“Meta emang perempuan, tapi Meta juga manusia dewasa seperti Sayang Galak. Jadi, Meta juga punya hasrat seksual yang harus Meta penuhi. Setelah Meta menandatangani surat kontrak dengan nenek sampai sekarang, Meta belum pernah dapat itu dari Sayang Galak. Jadi, kalau Sayang Galak emang enggak mau, maaf, tapi Meta udah enggak kuat.”
Apa Meta tadi berceramah?
Akan tetapi, apa isinya?
Galak tidak mengerti, tetapi ia yakin kalau isinya bukanlah sesuatu yang berfaedah.
“Terserah kamu. Jadi, pergilah. Aku mau tidur,” ujar Galak.
Akhirnya Galak membalikkan tubuhnya. Alis kanannya terangkat. Padahal baru beberapa saat lalu ia mengusir Meta, tetapi Meta menghilang dalam sekejap mata.
Apa Meta memang pergi sedari tadi?
Memangnya ke mana dia?
__ADS_1
Kenapa tidak pamit?
Seketika Galak menjadi cemas. Ini sudah malam, tetapi perempuan itu malah dandan semenor tadi. Kalimat aneh yang perempuan ucapkan tadi, seharusnya mengandung makna sesuatu. Akan tetapi, apa itu?
Galak bergegas keluar dari kamarnya. Ia mencari Meta di dalam kamar di depannya. Namun, kamar itu hanya dihuni oleh keheningan. Ia pun keluar dari sana juga. Kemudian mencari Meta ke mana-mana. Namun, ia tetap tidak menemukan apa-apa. Bahkan halaman yang menjadi tempat favorit Meta hanya berisi dedaunan hijau saja.
Edaran pandangan Galak berhenti pada Bu Astri yang datang dari luar dan hendak masuk ke dalam rumah.
“Bu Astri!” panggil Galak.
Seketika langkah Bu Astri berhenti. Dia menoleh ke sana kemari mencari asal suara orang yang memanggilnya. Sampai akhirnya arah pandangannya berhenti ke Galak. Bu Astri pun berlari kecil mendekati Galak.
“Meta ke mana?” tanya Galak.
“Enggak tahu, Tuan,” jawab Bu Astri.
“Masak Bu Astri enggak lihat dia di mana pun atau bahkan keluar dari tempat ini?” tanya Galak lagi.
“Enggak tahu, Tuan. Kebetulan saya di luar terus dari tadi. Emangnya kenapa, Tuan?” malah Bu Astri balik bertanya.
“Meta hilang enggak tahu ke mana,” jawab Galak. Ia pun bergegas pergi untuk mencari Meta lagi.
__ADS_1
“Tunggu, Tuan!” seru Bu Astri menghentikan langkah Galak.
Galak menoleh dengan ekspresi bertanya-tanya.
“Sebenarnya Nyonya tadi tanya sesuatu, Tuan,” ujar Bu Astri.
“Apa, Bu?” sahut Galak.
“Klub malam,” jawab Bu Astri.
“Klub malam?” Dahi Galak berkerut. Untuk apa Meta menanyakan tempat itu?
“Iya, Tuan. Nyonya tadi tanya klub malam terdekat di sini. Jadi, ya, saya kasih tahu alamatnya,” jelas Bu Astri.
Ah, sial! Sepertinya benar seperti dugaan Galak: Meta tengah berkeliaran di klub malam itu. Pantas saja perempuan itu berdandan menor seperti tadi.
Tanpa melanjutkan obrolannya dengan Bu Astri, Galak langsung pergi menuju mobilnya. Mobil mewah berwarna hitam itu pun keluar dari garasi dan pergi membelah kegelapan jalan raya.
Dulu Galak juga sering mengunjungi klub malam di sana. Itulah kenapa ia tahu benar betapa berbahayanya laki-laki di sana.
Galak mempercepat laju mobilnya. Sampai akhirnya, mobil itu terparkir di depat tempat yang ramai akan kerlap-kerlip lampunya.
__ADS_1