Suamiku Galak

Suamiku Galak
85. Teringat Meta


__ADS_3

Sesampainya di rumah, tetap saja Galak tidak sempat berpesta. Memangku mahkota keluarga Anggara, bukan berarti dia sudah mencapai kemenangan. Mahkota ini adalah tanggung besar baginya. Sebuah beban berat. Sehingga membuatnya disibukkan pikiran sepanjang malam.


“Kenapa Kak Arga enggak datang?”


“Apa yang dilakukannya?”


“Kenapa acara ini berjalan dengan sangat lancar?”


Tiba-tiba Ian datang membayanginya.


Laki-laki itu datang dengan keberanian, seolah pertemuan mereka di masa lalu sekadar imajinasi dan bukan kenyataan. Apa yang membuatnya sampai memiliki kepercayadirian sebesar itu?


Galak segera mencari Pama. Sayangnya, Vera mengatakan kalau Pama baru saja pergi. Galak pun ganti menghubunginya.


“Halo, Pama.”


“Iya, Tuan? Ada apa? Perlukah aku kembali?”


Galak menggelengkan kepalanya. “Itu tidak perlu.”


“Baik, Tuan.”


“Cari tahu atas nama undangan siapa Ian Marlon datang kemari.”


“Ian Marlon? Kenapa nama itu terdengar tidak asing?”


Galak mengangguk. “Dia laki-laki itu. Si tukang kebun.”


“Baik, Tuan. Aku akan mencarinya.”


Baru saja Galak hendak mematikan sambungan teleponnya, Pama menghentikan gerakannya.


“Tunggu, Tuan!”


Galak kembali menempelkan ponselnya ke telinga.


“Ada apa?”


“Bisakah aku melakukannya besok?”


“Memangnya kenapa kalau sekarang?”


“Karena malam ini aku akan berkencan.”


“Dengan Nenekku?”


“Kalau bersama Nyonya Besar, kami tidak akan berkencan. Karena dia akan langsung membelikanku pelaminan.”

__ADS_1


“Dasar kau ini!”


“Maaf, Tuan.”


“Baiklah. Tapi jangan lama-lama.”


“Terima kasih, Tuan.”


Galak mematikan sambungan teleponnya. Dia kembali ke kamar untuk menikmati tidurnya. Berusaha melupakan urusan dunianya, meski hanya untuk satu jam. Sayangnya, bahkan tidak sampai satu menit, matanya yang sempat terpejam langsung terbuka.


“Meta? Di mana perempuan itu?”


Galak terperancat. Dia meloncat dan langsung bangun. Jelas-jelas ranjangnya kosong dari manusia. Bagaimana Galak bisa melupakan kesepakatannya dengan Meta tadi?


Jadi, ke mana Meta? Perempuan itu tidak mungkin tetap di sekitar hotel dan menunggunya menyusulnya, kan?


Kalau memang itu yang terjadi, maka ini adalah bencana. Tapi, jika Meta tidak ada di sana dan entah ke mana, maka ini adalah kiamat.


Sial! Galak pun menarik kunci mobilnya dan bergegas keluar. Mobilnya segera melesat cepat menembus kegelapan jalan raya.


Sesampainya di depan hotel, benar saja, Meta masih di sana. Dia duduk berjongkok dengan telunjuk bergerak membentuk garis di atas tanah.


Galak pun keluar dari mobil tanpa memarkirkannya. Lagi pula, mobil itu akan segera dinaikinya.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Galak dingin.


Dengan tetap menggambar sesuatu, Meta menjawab, “Meta lagi masak piza.”


Sayangnya, kaki Meta tidak bergerak dari tempatnya.


“Ayo pulang!” Galak mengulangi seruannya.


Meta justru menggelengkan kepala. “Pizanya kan, belum jadi.”


“Piza apaan, sih? Kamu gila, ya?” Galak langsung memekik. Saat itulah, Meta menembakkan tatapan padanya.


Meta mengangkat telunjuknya dari tanah. Kemudian bangun sehingga menyamakan posisinya dengan Galak. Dia langsung menghempaskan tangannya sehingga pegangan itu terlepas.


“Sayang Galak yang gila!” Meta balas memekik. Bibirnya memonyong. Keceriaan wajahnya yang sebelum tidak pernah pudar, kini tersembunyi dalam kemarahannya. “Bisa-bisanya Sayang Galak tinggalin Meta di sini? Kalau ada Om Kumis lewat, bagaimana? Apa Sayang Galak bisa tanggung jawab kalau Meta sampai jadi istri ketiganya?”


Seketika kekesalan Galak berkurang. Dia menyadari kesalahannya. Wajahnya pun menampilkan ekspresi penuh penyesalan. Kedua tangannya menyentuh pundak Meta. Kedua matanya memantulkan pengharapannya agar Meta memberikan maafnya pada Galak.


“Maafin aku. Tiba-tiba saja aku melupakanmu. Aku benar-benar enggak sengaja meninggalkanmu di sini.” Galak memohon.


“Jadi, Sayang Galak lupa sama Meta? Lupa sama janji kita?” Meta langsung membuang pandangannya ke arah samping.


“Maafin aku.” Galak mengulangi permohonannya.

__ADS_1


“Sayang Galak memang beda sama Sayangnya Saras si Ian. Si Ian saja enggak melupakan Saras. Dia tetap jemput Saras, peluk Saras, dan membawa Saras pulang.”


Galak melepaskan tangannya. “Kok, kamu jadi banding-bandingin aku sama rubah jantan itu, sih?”


“Karena yang sama-sama rubah itu Meta. Jadi, yang sama sama Ian itu Meta, bukan Sayang Galak.”


“Sudahlah.” Galak sudah muak pada pembahasan yang tidak ada habisnya ini. Dia menarik tangan Meta lagi. “Ayo pulang!”


Sayangnya, sekali lagi Meta tak mau bergerak.


“Sayang Galak enggak minta maaf sama Meta?” Intonasi suara Meta menurun.


“Kan, sudah tadi.” Galak menegaskan.


“Tapi, kan, Meta belum maafin Sayang Galak.” Meta lebih menegaskan dengan menaikkan intonasinya.


Seketika, asap-asap keluar dari kedua lubang telinga Galak.


OH, TUHAN! SAMPAI KAPAN PEMBICARAAN TIDAK BERFAEDAH INI AKAN BERAKHIR?‼


“Ya udah. Maafin aku aja. Beres, kan?!”


“Sayang Galak kok, jadi sewot, sih?”


Mungkin inilah yang dimaksudkan pepatah, bahwa perempuan selalu menang. Bagaimana laki-laki bisa menang jika si perempuan tidak mau mengalah? Lebih tepatnya, tidak menerima kekalahan.


“Terus aku harus gimana?!” Galak sudah sampai di tahap frustrasi. Sedikit lagi, dia akan menjadi gila.


Meta mengibaskan tangannya lagi sehingga tangan Galak terlempar. “Sayang Galak benar-benar galak! Enggak kayak Sayangnya Saras si Ian!”


“Ya udah! Sana! Ke Sayang Ian si Sayangnya Saras itu!” Galak yang mencapi tahap gila membentak-bentak Meta dengan menunjuk ke arah jalan.


“Apa Sayang Galak pikir, Meta enggak akan bisa lakuin itu?”


“Bahkan, kalau kamu lakuin itu, aku tetap enggak peduli!”


Galak berbalik. Dia bergegas memasuki mobilnya. Namun, dia tidak segera menyalakannya. Masih memberikan waktu bagi Meta untuk masuk.


Namun, dasar rubah betina, perempuan gila, sinting, keras kepala, dan seluruh sifat yang dimiliki penghuni neraka jahanam! Dia tidak bergerak dari tempatnya dan hanya menatap mobil Galak. Setelah beberapa lama, dia malah pergi ke arah jalan dan menghentikan sebuah taksi. Dia pun pergi dengan menaiki taksi itu.


Langsung saja Galak memukul dashboard mobilnya. Tahu begini, lebih baik dia pergi saja!


Sial!


-oOo-


Next part: Meta berkencan dengan Ian. Bagaimanakah reaksi Galak mengetahui itu?

__ADS_1


🌺🌺🌺


yuk, baca ceritaku yang judulnya Super Husband🤗ceritanya enggak kalah seru🤗


__ADS_2