Suamiku Galak

Suamiku Galak
61. Jawaban Galak


__ADS_3

“Kalau Sayang Galak cinta sama Meta, cium Meta sekarang!” titah Meta.


Galak malah meluruskan pandangannya. Ingin sekali tertawa saat ini. Akan tetapi, bukankah menertawakan seseorang tepat di depan orang itu adalah tidak sopan?


Semua ini terasa lucu. Padahal Galak sudah menjelaskan, tetapi perempuan itu tetap berpikir semaunya.


Jemari Meta bergerak bersama detik yang terlewati.


Satu detik, Meta masih berharap; dua detik, Meta masih bertahan; tiga detik, Meta masih ingin menunggu, tetapi waktunya sudah habis.


Ah, sial! Meta tidak kuat berdiri di belakang Galak lagi, dengan terus menanti tanpa kepastian. Sedangkan air mata sudah memenuhi bendungan kelopak matanya. Kurang sedikit lagi banjir siap melanda.


Tidak-tidak. Meta tidak bisa mengguyur wajahnya di belakang Galak. Kalau Galak sampai melihat riasan wajahnya yang hancur karena air mata dan membuat wajahnya semakin terlihat jelek bagaimana?


Meta pun langsung berbalik dan pergi dari kamar itu tanpa mengeluarkan suara lagi. Ia hanya memberikan pamit dengan suara pintu yang tertutup.


Galak melirik lagi. Tahu kalau Meta sudah tidak ada di belakangnya, ia pun menoleh sepenuhnya.


“Kasman?” gumamnya.


Galak merasa keheranan. Padahal Meta masih baru tinggal di sini, kenapa perempuan itu sudah dekat dengan pekerja yang masih baru tinggal di sini. Entah kenapa, Galak menjadi tidak nyaman akan keberadaan Kasman sebelumnya.

__ADS_1


Tidak-tidak. Galak bukannya merasa cemburu. Ia hanya merasa curiga. Laki-laki itu bahkan menerima pemecatannya tanpa protes sedikit pun.


Kaki Galak melangkah mendekati laci. Kemudian tangannya bergerak untuk mengambil ponsel yang terbaring di atas tempat itu. Galak melakukan sebuah panggilan. Tak lama, panggilan itu pun tersambung.


“Pama. Cari tahu tentang Kasman: tukang kebun yang sempat bekerja di sini selama beberapa hari.”


-oOo-


Meta benar menangis. Namun, bukan suara tangisnya yang menguasai kamarnya, melainkan suara ranjang yang tersiksa akibat pukulan dari tangannya.


Sudah sejak sejam ini tangan dan kaki Meta bergerak memukul-pukul ranjang yang tidak berdosa ini. Seolah-olah ranjang itu adalah Kasman.


Ya. Semua ini gara-gara Kasman. Laki-laki itu terus menghasut Meta soal Galak yang mencintainya. Memangnya Meta pernah bertanya?


Ia bahkan meminta ciuman dari Galak ….


Ah, sial! Perempuan macam apa kamu ini, Meta?


Setidaknya bangunlah harga dirimu!


Akhirnya Meta berhenti memukuli ranjangnya. Kini ia terbangun. Di antara kerunyaman pikirannya, tiba-tiba saja Kasman masuk ke tengah-tengah pikiran.

__ADS_1


Kalau Galak tidak mencintai Meta, lalu kenapa laki-laki itu bisa cemburu?


Kalau Galak tidak cemburu, lalu kenapa ia sampai memecat Kasman?


Kalau Kasman tidak dipecat oleh Galak, itu tidak mungkin, kan?


Apa Galak benar-benar cemburu pada Meta?


Berarti, kan, Galak cinta sama Meta!


Apa laki-laki itu hanya berbohong tadi?


“Kalau Nyonya mau pastiin lebih jelasnya, coba Nyonya uji aja Tuan. Uji dengan godaan yang lebih berat.” Meta jadi teringat pada ucapan Kasman yang itu.


Tiba-tiba para ide mulai bermunculan di pikiran Meta.


-oOo-


Kira-kira apa, ya, yang mau Meta rencanain? 🤔


Niatnya mau update pagi 3part. Tapi kataku udah enggak kuat. Jadi, kulanjutin nanti siang mungkin.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya 🤗🤗🤗


__ADS_2