
Galak bergegas mendekati Meta. Ia pun membantu membangunkan Meta, lalu menggendong perempuan itu ke atas ranjang.
“Apa kamu pikir aku akan menganggapmu sebagai pahlawan dengan berbuat ceroboh seperti ini?” sindir Galak. Ia pun bangun setelah meletakkan Meta ke atas ranjang.
“Seenggaknya Sayang Galak mau kasih perhatiaannya ke Meta,” timpal Meta.
“Ini bukan perhatian, tapi simpati. Bahasa kasarnya disebut kasihan,” elak Galak.
“Yang penting, kan, Sayang Galak masih peduliin Meta,” tutur Meta.
“Jangan berharap tinggi sama aku karena aku enggak bisa kasih harapan apa pun ke kamu, kecuali apartemen, vila, dan jet pribadi,” tegas Galak.
“Kenapa Meta enggak bisa berharap tinggi? Meski Sayang Galak nantinya jadi mantan Sayang Galaknya Meta, sekarang, kan, Sayang Galak masih Sayang Galaknya Meta. Sayang Galak, kan, masih suami Meta.” Meta masih tidak mau kalah.
“Kamu enggak usah bertingkah sebagai istri setia yang mengagungkan pernikahan ini sebagai ikatan yang sangat suci. Karena sejak awal, kamu udah menandatangani dokumen kontrak itu sama nenek. Jangan merubahku menjadi antagonis dalam ceritamu. Karena sejak awal, kamulah yang membentuk pernikahan ini sebagai permainan,” sindir Galak.
Dirasa percakapan telah selesai dan konflik telah tercerahkan, Galak pun berbalik. Ia pergi dari kamar ini menuju kamarnya sendiri.
Kini tersisa Meta yang sendirian di dalam kamar bersama pikirannya.
__ADS_1
Ya, benar. Meta memang sudah menandatangani kontrak itu, bahkan lebih dulu dari pada Vera dan Galak.
Benar juga kalau pernikahan ini hanyalah permainan. Namun, kalau Galak berpikir Metalah yang mengawalinya, maka ia salah.
Meta tidak pernah menganggap pernikahan sebagai permainan. Itulah kenapa, Meta menolak Gana sebelumnya: karena Meta ingin berpikir dengan matang-matang untuk pernikahan yang akan dijalaninya seumur hidup.
Tiba-tiba Meta memutuskan menyetujui pernikahan itu begitu saja. Apa mereka pikir Meta benar-benar gila?
Kalau bukan karena Alma menjadi taruhan pertama, maka setidaknya Meta akan memiliki waktu untuk memikirkan pernikahan ini.
Mempertimbangkan kontrak itu, sebenarnya percuma saja. Karena pada akhirnya, Meta tidak memiliki pilihan lain selain jawaban ‘iya’.
Selama beberapa hari ini Meta hanya mendekam di kamar. Lagi pula, dengan perban di kakinya itu, apa yang bisa ia lakukan selain terjatuh?
Saat terjatuh, pun, dia bahkan tidak bisa mengharapkan seorang pahlawan akan menolongnya. Pada akhirnya, Galak hanya akan menyindirnya atau terus mencacinya.
Akhirnya Meta bisa bernapas lega saat perban di kakinya terlepas. Kini kakinya sembuh dan ia bisa bergerak bebas.
Pagi hari, saat Meta baru saja terbangun, Meta bergegas mengenakan baju monyetnya. Hari ini ia ingin berolahraga.
__ADS_1
Ah, iya … sepatu!
Meta belum memilikinya.
Sialnya, Meta sudah muak dengan Galak. Sama sekali tidak mau mengeluarkan sepatah kata pun untuk laki-laki itu. Dengan terpaksa, Meta harus menerima kakinya yang hanya bisa bertelanjang saja.
Saat Meta membuka pintu kamar, pintu kamar di depannya ikutan terbuka. Seorang laki-laki berpakaian santai keluar dari sana. Ekspresi wajahnya datar. Namun, bola matanya langsung melirik ke samping, seolah menghindari Meta. Rupanya ia bingung harus bertingkah bagaimana kepada Meta.
Hanya Meta yang tahu bagaimana harus bertingkah!
Meta langsung melangkahkan kakinya tanpa harus memandang laki-laki itu lebih lama lagi. Ia bersikap seolah-olah, laki-laki itu hanyalah pohon.
.
.
.
Adakah yang punya cita-cita buat beliin Meta sepatu 🤔
__ADS_1