
“Baiklah. Aku akan mengikuti keputusan kalian saja.”
Vera mengucapkan jawabannya dengan jelas. Namun Meta dan Galak yang berdiri berdampingan malah saling menoleh keheranan. Seolah kesulitan mencerna setiap kata yang tertera.
“Tapi kenapa?” tanya Galak dan Meta bebarengan.
Gantian Vera yang keheranan. Saat orang tua merestui hubungan putra putrinya, bukankah sebagai putra maupun putrinya harusnya senang?
“Kalian enggak senang?” tanya Vera.
Galak dan Meta langsung mengganti ekspresinya menjadi datar.
“Bukan itu. Tapi Nenek kan, selalu memperingatkanku dalam hubungan ini,” jelas Galak.
“Itu jika kalian terhanyut dalam pernikahan ini, hanya karena kerja sama. Aku sebenarnya tidak suka pernikahan seperti itu terus berlanjut. Dan aku tidak mau jika Meta sampai memanfaatkan pernikahan ini untuk karirnya. Tapi karir Meta sudah selesai. Dan kalian mengaku saling mencintai. Jadi kenapa aku harus menghalangi?”
“Jadi, Nenek enggak masalah?” tanya Meta dengan lugunya.
Vera tersenyum. “Kalau perbedaan kasta yang menjadi prioritas utama, maka aku tidak akan merasakan kalau ibunya Galak lebih baik dibandingkan ibunya Arga yang memang anak dari pengusaha besar.”
Galak saling berhadapan dengan Meta. Kini mereka bisa sama-sama memamerkan senyum masing-masing.
Galak membuka tangannya. Menyambut pelukan dari Meta. Namun, baru sekali kakinya melangkah, Meta tak bergerak lagi. Gerakannya dihentikan ketukan dari luar pintu.
“Masuklah!” sahut Vera.
Seorang pelayan datang dengan membawa surat.
__ADS_1
“Maaf menganggu, Nyonya. Aku hanya mengirimkan surat ini untuk Nyonya Meta.”
Meta menerima itu. “Surat dari siapa?”
Pelayan itu bergeleng. “Aku juga tidak tahu. Aku menerimanya dari seseorang yang dikirimkan khusus, bukan kurir biasa. Makanya aku langsung kemari. Takutnya itu surat penting.”
“Terima kasih,” sahut Meta.
Pelayan itu menunduk. Kemudian pamit pergi.
“Surat apa itu?” tanya Galak.
Meta tak menjawab. Dia membuka amplop itu. Namun, bukan kertas yang didapatkannya, melainkan foto sebuah bayi.
“Bayi siapa itu?” tanya Galak.
“Ada tulisan.” Meta pun membacanya.
Aku baik-baik saja.
“Kakak Alma.” Nama itu keluar begitu saja dari mulut Meta. Rupanya, mulutnya lebih dulu mengenali tulisan kakaknya dibanding siapa saja.
Seketika senyum cerah merekah di wajah Meta. Dia begitu bahagia melihat foto keponakannya. Tidak perlu dijelaskan, dia bisa menafsir segala cerita yang terkandung dalam foto itu.
“Aku juga ingin memiliki satu yang seperti itu,” celetuk Galak.
“Haruskah kita membuatnya?” sahut Meta.
__ADS_1
“Apa kalian akan terus membicarakan itu di depanku?” sindir Vera.
Seketika ruangan dipenuhi gelak tawa.
-TAMAT-
Terima kasih untuk kalian semua yang masih bersama Suamiku Galak.
Jujur aja, aku mengalami banyak masalah dalam menuliskan cerita ini. Aku bukan manusia bermental baja sehingga mood menulisku bisa dijatuhkan dengan mudah. Tapi sekali lagi, aku berterima kasih kepada kalian yang masih mau bersamaku dan menanggapi sikap kekanakanku ini.
Aku tidak puas sekali tapi aku akan belajar berkali-kali.
Yuk, baca cerita baruku.
Judul: Terjebak Pernikahan Rahasia
Blurb:
Aku, Clarissa Aulia Fransiska, seorang artis papan atas yang jatuh karena skandal perselingkuhan. Di saat aku berusaha untuk bangkit, aku justru terjebak dalam pernikahan rahasia.
Bagai keluar dari mulut singa lalu masuk lubang buaya. Sebelum aku bisa memulihkan kehidupanku, aku justru terlibat dalam kehidupan Adimas Raden Pratama, Direktur Utama perusahaan Moza. Seorang iblis berwajah malaikat. Dia selalu tersenyum pada siapapun. Tapi padaku, dia tidak sungkan menunjukkan wajah aslinya. Dia benar-benar berbeda dari Adimas yang pernah menjadi bagian dari masa laluku.
Setelah menjalani kebersamaan dengannya dalam pernikahan rahasia ini, aku menemukan sesuatu, bahwa ingatannya tak pernah melepaskan masa lalu itu.
“Hanya karena kita menikah, jangan harap kamu bisa bertingkah sebagai istriku. Pernikahan ini hanya jalanku untuk mengikatmu. Aku kan, enggak mau uangku yang banyak lepas gitu aja.”
-Adimas Raden Pratama-
__ADS_1