
Aku minta jempol ama komennya, boleh, kan, Guys 🤗🤗🤗
Cuz ....
💃💃💃
“Itu, kamu udah pengalaman,” sindir Galak, “harusnya kamu juga tahu kalau sekali pakai langsung sobek itu berlebihan.”
Galak membuka pintu di sampingnya. Ia keluar lebih dulu. Ia berdiri di depan mobil untuk menunggu Meta keluar. Namun, Meta malah diam di tempat.
Galak menoleh dengan heran, tetapi matanya menjadi tajam. Sebenarnya ia kesal dengan tingkah Meta yang bertele-tele.
“Keluar!” titah Galak.
Meta dengan bibir mengerucutnya malah menggeleng-gelengkan kepala.
“Keluar, kok!” seru Galak.
Meta masih sama seperti tingkahnya sebelumnya.
Ah, sial! Galak sudah muak dengan semua ini. Ia mau pergi ke pasar, hanya karena ia berusaha mencegah agar rubah betina itu tidak lebih mengusik kehidupannya. Namun, sepertinya ia malah harus bekerja lebih keras.
Galak berjalan cepat mendekati pintu di samping Meta. Ia membuka pintu itu, lalu menarik Meta keluar.
__ADS_1
Bak! Galak sampai membanting pintu mobilnya.
“Ayo buruan!” seru Galak.
Meta mengembuskan napas berat. Tidak ada pilihan lain. Sepertinya ia memang harus mengikuti apa kata Galak.
Galak melangkah lebih dulu. Tiba-tiba Meta memeluk lengan kanannya.
“Apa yang kamu lakuin?” pekik Galak.
Meta tidak menjawab.
“Lepasin, kok!” seru Galak. Ia menggoyang-goyangkan tangannya agar Meta mau terlepas. Namun, tidak, perempuan itu memberikan Galak pelukan yang terlalu erat.
“Kalau Meta lepasin, berarti kita enggak jadi belanja di sini,” ancam Meta.
Ah, sial! Ini tidak seperti Galak. Biasanya Galak tidak akan mempan dengan ancaman. Perempuan ini hanya memberikan ancaman ringan, tetapi Galak malah tidak berkutik. Ia pun melanjutkan langkahnya tanpa memaksa lagi.
-oOo-
Awalnya Meta memang tidak tertarik dengan pasar beserta isinya. Ia tidak yakin akan memakai apa nantinya, bahkan memilih yang mana pun, Meta tidak mau memikirkannya. Semua itu berubah sampai sebuah toko menarik perhatian Meta.
Di dalam pasar, terdapat sebuah toko pakaian. Sebaris baju monyet bercelana panjang yang terpajang di bagian depan itulah yang menarik perhatian Meta. Sebenarnya itu hanya barang obralan. Namun, melihat corak mereka yang beraneka ragam, perhatian Meta sampai tidak melihat papan itu. Meta tidak peduli. Ia malah sibuk memilih corak mana yang akan ia beli. Ia memang suka sekali dengan pakaian seperti itu. Meta bahkan memiliki desain sendiri untuk pakaian yang ia kenakan di pesta.
__ADS_1
Galak berdiri di depan toko itu sembari melipat kedua tangan di depan dada. Padahal itu hanya baju yang tak seberapa. Kenapa Meta begitu lama memilihnya?
Meta beranjak dari tempatnya. Sebenarnya ia belum selesai memilih. Namun, ia malah bergerak mendekati Galak.
“Apa?” sambut Galak.
“Meta bingung pilih baju yang mana?” lapor Meta.
Galak melirik ke arah barisan baju itu. “Terserah kamu ambil yang mana. Kayaknya sama aja.” Begitulah Galak melihat pakaian-pakaian itu. Tidak ada yang istimewa.
“Tapi semuanya bagus. Meta bingung mau pilih yang mana?” jelas Meta.
“Kamu ambil semua kalau gitu. Gitu aja kok ribet,” sindir Galak.
“Emang boleh?” Meta masih ragu.
Akhirnya Galak melepaskan kedua tangannya. Kini ia berdiri tegak dengan posisi badan lurus menghadap Meta.
“Kamu ngeraguin aku?” tuduh Galak.
“Maksud Om?” tanya Meta.
“Enggak cuma baju itu. Aku bahkan bisa beli seluruh barang yang mengisi toko ini,” jelas Galak menyombongkan diri. Bersikap hemat hanya akan merendahkannya.
__ADS_1