
Tadinya udara yang bergantian masuk keluar dari lubang hidung Galak begitu teratur. Tidak ada yang berdesak-desakan atau memilih tertinggal. Namun, saat pintu kamar Galak terbuka, seolah dunia Galak berubah.
“Lagi-lagi dia …,” gumam Galak bergeleng-geleng kepala.
Sekarang Galak tak lagi keras kepala. Terserah Meta akan datang ke kamarnya kapan saja: entah siang atau malam, asalkan tidak menerkamnya. Galak sudah malas berurusan dengan kunci kamarnya yang berada di tangan Meta dan tak pernah ada habisnya.
Meta masuk ke kamar Galak dengan senyum secerah mentari pagi. Segelas teh berada di atas nampan yang ia pegang. Rupanya ia tengah bertingkah sebagai seorang istri yang baik.
“Sudah berapa karung gula yang kamu tuangkan?” tanya Galak.
Dengan ekspresi bodohnya, Meta berkata, “Apa maksud Sayang Galak?”
Meta pun meletakkan nampan itu di atas lemari kecil di samping ranjang Galak. Kemudian ia menjatuhkan pantatnya di atas ranjang, tepat di samping Galak.
“Aku kemarin melihat tujuh karung gula di dapur menghilang. Kamu enggak masukin semua gula itu ke tehku, kan?” canda Galak dengan ekspresi serius di wajahnya.
Meta bergeleng. “Enggak, kok. Meta cuma tuangin empat sendok teh. Lagian Sayang Galak,kan, kaya. Kalau gulanya habis, tinggal kasih duit ke pelayan, beres deh,” ujar Meta dengan memamerkan ringisan penuh kebanggaan.
“Maksudku teh buatanmu kemanisan,” jelas Galak membuyarkan candaannya.
__ADS_1
“Masak, sih? Enggak mungkin, ah!” elak Meta.
“Terus kamu kira lidahku yang jerawatan?” sindir Galak.
“Mungkin aja karena Sayang Galak minumnya di depan Meta. Meta kan manis. Pantas aja lidah Sayang Galak kewalahan.” Meta kembali memamerkan ringisan kebanggan.
Kelopak mata Galak menurun. “Kalau enggak percaya coba aja minum,” tuturnya.
Meta merasa tersinggung karena teh yang ia buat pakai cinta malah diejek sedemikian rupa. Ia pun bangkit dan menyicipi teh itu.
Setelah air jingga itu masuk ke dalam mulutnya dan bergulung di atas lidah, bola mata Meta langsung melebar. “Kayaknya kita harus ketemu Bu Astri kalau mau minum teh ini,” tukasnya.
“Kenapa?” tanya Galak.
Mulut Galak membuka. Ia terperangah. Teori macam apa ini?
Terdengar suara dering dari atas lemari yang sama. Galak bangun. Rupanya ponselnya yang berdering. Ia pun menarik ponsel itu dan berjalan ke sudut kamar.
“Ada apa, Nenek,” katanya menyambut suara yang sudah lama tak ia dengar.
__ADS_1
Galak diam untuk beberapa saat. Sesekali mengangguk dan mengeluarkan kata-kata singkat.
“Baiklah. Aku akan segera pulang,” tutur Galak sebagai ucapan selamat perjumpaan. Kemudian menenteng ponsel itu kembali ke atas ranjang.
“Dari siapa?” tanya Meta heran. Tidak biasanya ia melihat Galak menerima telepon dari seseorang selama tinggal di vila ini.
“Nenek,” jawab Galak.
Dahi Meta berkerut. “Emangnya kenapa? Apa sesuatu terjadi di sana?” tanyanya semakin penasaran.
“Enggak ….”
“Terus?”
“Kita harus pulang.”
“Tapi ini belum genap satu bulan,” protes Meta. Padahal ia masih ingin menikmati dunia di mana hanya ada ia dan Galak saja, tidak ada perusahaan atau pun si nenek tua.
“Aku juga enggak tahu. Nenek cuma bilang kalau ada yang harus aku tangani di sana,” jawab Galak.
__ADS_1
Sesuatu yang harus Galak tangani, tetapi apa itu?
Bukannya Vera selalu bisa menangani apa pun?