
Benarkah Meta hanya membawa sedikit dari pakaiannya? Memangnya berapa ukuran sedikit Meta?
(Babang Galak ngapain ya, Gaes? 🤔 )
Galak berdiri bersandar di samping mobil, dengan bagasi yang terbuka. Sebuah koper besar sudah Sri masukkan ke dalam sana.
Dalam posisi menunggu pun, Galak tetap terlihat keren. Mengenakan kaus kasual yang dipadukan jaket dan celana berbahan denim. Tak lupa kacamata hitam yang menyembunyikan tatapan risaunya.
Benar. Di balik ketampanan itu, sebuah kerisauan tengah bersembunyi. Ini sudah lama sejak koper Galak masuk ke dalam bagasi, tetapi koper Meta belum juga mengikuti. Perempuan itu bahkan tidak menunjukkan batang hidungnya.
Berulang-ulang jam yang melingkari tangan diliriknya. Entah apakah jarum menit benar-benar sudah berputar.
“Heh-heh!” Akhirnya tatapan Galak menaik karena desahan itu. Terlihat Meta ngos-ngosan dari dalam rumah denggan menggeret dua koper besar. Apa yang sebenarnya perempuan itu lakukan? Jika mengangkat sendiri, lalu untuk apa Galak membayar Ning dan Sri setiap bulan? Lalu koper itu ….
Apa perempuan Gila ini membawa isi seluruh dunia di dalam sana? Kenapa besar dan banyak sekali?
Galak mengembuskan napas lelah. Ia muak berurusan dengan Meta. Makanya ia memilih mengalah. Ia pun mengangkat kedua koper itu, satu per satu, ke dalam bagasi.
“Ayo, buru—“
__ADS_1
Saat Galak berbalik, Meta sudah tidak ada lagi. Pandangan Galak berkeliling. Ia sampai mencari Meta ke dalam mobil. Namun, perempuan itu tak ia temukan juga. Galak melangkah maju hendak memasuki rumah. Langkahnya berhenti karena Meta telah kembali ….
… Bersama dua koper lain.
“Heh-heh.” Meta ngos-ngosan dengan tubuh membungkuk. Padahal ia sudah memoles riasan ke wajahnya. Semua usahanya luntur begitu saja.
“Apa-apaan ini?” pekik Galak.
Meta mengangkat kepala. “Apanya?”
“Apa maksud kedua koper ini? Bukannya tadi sudah ada dua koper?” tanya Galak.
Meta langsung berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Ah, sial! Apa yang sebenarnya perempuan itu lakukan?
Galak tidak mengerti, tetapi ia tidak berpikir baik tentang ini. Ia turut masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di kamar, Galak terperanjat. Bukan hanya satu atau dua, bahkan kamar ini seolah lautan koper.
“Apa-apaan ini?!” sentak Galak.
__ADS_1
Meta yang hendak menarik dua koper lagi, terkejut. Gerakannya berhenti. Ia menoleh ke Galak dengan ekspresi datar.
“Om Galak kenapa?” Meta malah mengedip-edipkan mata seolah tak bersalah.
“Apa maksud semua koper-koper ini?” tanya Galak.
“Oh ini—“ Meta melirik ke kanan kiri “—barang-barang yang mau Meta bawa.”
“Kamu itu mau liburan atau pindahan, sih?” sindir Galak.
“Ya, liburan, lah! Kata nenek mertua, kan, bulan madu,” jelas Meta.
“Kalau gitu kurangi barang-barangmu,” titah Galak.
“Enggak bisa! Enggak bisa!” Meta merentangkan kedua tangan lebar-lebar. Seolah melindungi kopernya dari monster menakutkan. “Meta, kan, liburannya sebulan. Jadi, barang yang Meta bawa pasti banyak, lah. Belum make-up pagi, make-up malam, gaun tidur setiap malam, gaun kencan sebulan, baju olah—“
Sebelum Meta menyelesaikan kata-katanya, Galak sudah memikulnya di atas bahu. Kalau mendengarkan ucapan perempuan ini sampai selesai, liburannya takkan pernah terjadi.
“Eh-eh, Om! Apa yang Om Galak lakuin?” pekik Meta.
Galak tak menyahut. Membiarkan Meta menjerit di samping telinga, bahkan memukulinya berkali-kali. Kemudian melemparkan perempuan itu ke dalam mobil bagian penumpang. Usai mengunci pintu mobil, Galak melemparkan kedua koper Meta dari bagasi.
__ADS_1