Suamiku Galak

Suamiku Galak
13. Malam Pertama


__ADS_3

Akhirnya Meta balik lagi .... 🤗


... Sama Babang Galak 😎


Happy reading ....


Cuz ....


💃💃💃


Galak melepas tangannya. Ia bangun. Wajahnya menjadi kesal. “Katamu gandengan. Tadi udah kugandeng masih salah,” sahutnya.


Meta ikut bangun. “Om Galak, kok, enggak peka-peka, sih?” protesnya.


“Makanya yang jelas kalau ngomong!” seru Galak.


“Perlu dijelasin seberapa?” tanya Meta.


“Sejelas-jelasnya,” jawab Galak.

__ADS_1


Meta menghela napasnya sejenak. Kemudian menghadap Galak. Galak masih menatapnya dengan alis kanan terangkat. Ia keheranan tanpa tahu kalau sedetik kemudian, ia tumbang di bawah Meta. Tiba-tiba Meta menerkam Galak, eh, maksudnya mendorong Galak sampai terjatuh ke atas ranjang dengan dirinya berada di atas.


“Om Galak udah peka belum? Kalau belum, biar Meta jelasin.” Meta memajukan bibirnya semonyong-monyongnya.


Galak menjadi ketakutan. Ia langsung mendorong Meta. Kemudian bergegas bangun dan menjauh dari ranjang.


“Najis!” pekik Galak. Kemudian bergegas pergi dari kamar dengan tubuhnya yang tiba-tiba merinding.


Galak pergi ke ruang tamu. Meski masih ada kamar lain, ia memilih tidur di sofa. Entah sejak kapan udara di sekitarnya terasa panas.


Galak menolak Meta …. Ini benar, kan? Namun, sejak kapan hasrat Galak tidak bisa ditarik oleh perempuan?


-oOo-


Setelah Galak pergi dari kamar, Meta tertawa pelan agar suaranya tak terdengar dari luar. Tingkah Galak benar-benar lucu baginya. Ia tak menyangka bahwa ada orang yang lebih lucu dari seorang Meta.


Hihi ….


Setelah beberapa lama, Meta ikutan bangkit. Ia penasaran dengan keadaan Galak. Ia pun pergi keluar kamar dan mencari Galak di seluruh ruang kamar. Sayangnya, seluruh tempat itu tak berisi satu orang manusia pun. Meta malah menemukan Galak terbaring di sofa ruang tamu.

__ADS_1


Ekspresi wajah Meta menurun. Kilatan matanya menjadi sayu. Ia merasa tidak nyaman dengan cara Galak yang tidur tanpa selimut, hanya menghangatkan diri dengan pelukan tangannya sendiri. Meta pun berbalik. Ia berjalan pergi ke kamar. Mengambil selimut yang ada di sana. Kemudian membawanya kembali ke Galak dan menutupkannya di atas tubuh Galak. Barulah ia kembali ke kamar. Menyelimuti diri sendiri dengan jas yang Galak tinggalkan.


-oOo-


Kelopak mata Galak mengerjap-erjap. Padahal lampu menyala selama dua puluh empat jam, tetapi ia merasa asing dengan cahaya di sekitarnya. Ia bangun perlahan-lahan.


Galak memijat lehernya sendiri. Tidur di atas sofa benar-benar tidak nyaman. Kemudian menoleh ke arah jendela. Rupanya siang sudah berjalan entah sejak kapan.


Galak menurunkan kakinya, hendak bangun. Tiba-tiba sebuah selimut jatuh dari pangkuannya. Alis kanan Galak terangkat. Ia tidak ingat pernah memungut selimut itu, tapi tidak mungkin, kan, selimut itu terbawa dari dunia mimpinya?


Entahlah. Galak tidak terlalu memikirkannya. Ia bergegas pergi dengan meninggalkan selimut itu begitu saja. Nanti pembantu di rumahnya pasti akan membenahinya. Kalau tidak, masih banyak orang lain yang tidak keberatan untuk memungut selimut itu, menggantikan posisi mereka.


Sesampainya di kamar, Galak melihat Meta masih tertidur di atas ranjang. Jam berapa ini?


Galak melihat ke arah jam dinding. Rupanya ini masih terlalu pagi. Jarum pendek di sana masih mengarah ke angka tujuh.


Tiba-tiba rasa kantuk Galak kembali. Galak pun melemparkan tubuhnya di atas ranjang dan memulai mimpinya lagi. Lagi pula ia masih cuti.


-oOo-

__ADS_1


__ADS_2