
Babang Galak belum balik😞tapi tetep baca, yak😂✌
💃💃💃
Alis kanan Vera terangkat. Kedua tangannya masih terlipat di depan dada. Sedangkan Pama masih setia di belakangnya. Ia turut mengangkat alis kanannya.
“Kenapa selimut bisa ada di sana?” Vera keheranan melihat selimut masih tergeletak sembarangan di atas sofa.
Pama melirik ke arah jam yang melingkar di atas tangannya. “Ini sudah jam sepuluh dan pintu rumah sudah terbuka. Tapi rumah ini masih begitu sepi, Nyonya,” Pama menambahi.
“Kalau gitu, minta penjelasan. Panggil kedua pembantu kita kemari,” titah Vera.
Pama melirik sinis ke punggung Vera. Orang kaya memang aneh. Kalau bisa memanggil sendiri, kenapa malah menyuruh orang yang berada di belakangnya?
Mau bagaimana lagi? Orang kaya, mah, bebas; sedangkan bawahan hanya bisa mengembuskan napas dengan pasrah.
“Baik, Nyonya,” sahut Pama.
Pama mengangkat kedua tangannya di sisi kiri. Kemudian menepukkannya dua kali, plok-plok!
Tak lama, kedua perempuan paruh baya dengan seragam yang sama keluar dari dalam. Mereka hanya menunduk, tidak berani mengangkat kepala.
“Iya, Nyonya,” sahut kedua pembantu itu bersamaan: Ning dan Sri.
“Kenapa kalian menghadap aku? Pama yang memanggil kalian,” jelas Vera.
__ADS_1
Ning dan Sri bergerak serong sedikit sehingga kaki mereka menghadap Pama. “Iya, Tuan,” sahut mereka.
“Tapi Nyonya besar yang menyuruhku memanggil kalian,” lempar Pama.
Kaki Ning dan Sri bergerak kembali. Mungkin inilah yang disebut pasrah ….
“Iya, Nyonya,” sahut Ning dan Sri dengan suara lebih lemah. Jika kali ini dilempar lagi, mungkin kaki mereka akan melesat begitu saja.
“Apa yang kalian kerjakan?” tanya Vera.
Ning dan Sri bernapas lega. Mereka tidak perlu mengangkat kaki. Lagi pula lutut mereka sedang nyeri.
“Membersihkan rumah dan memasak seperti biasa, Nyonya,” jawab Ning.
“Lalu apa maksudnya ini?” Vera menunjuk selimut yang masih di atas sofa.
“Ma-maafkan aku, Nyonya.” Sri langsung bersujud di bawah kaki Vera sebelum temannya ikut terkena imbasnya. “Maafkan aku. Aku tadi sudah membersihkan tempat ini. Lalu melupakan selimut itu begitu saja.”
Vera melirik ke arah Pama. “Pama. Bangunkan dia.” Lirikan Vera beralih ke arah Sri.
Pama menunduk berusaha membantu Yuni bangun.
“Kalau gitu, lekas perbaiki. Aku akan memaafkanmu kali ini,” tutur Vera tanpa suara meninggi.
Yuni semakin menunduk. “Terima kasih, Nyonya.” Kemudian berjalan pelan untuk membenahi sofa tadi.
__ADS_1
“Oh, ya,” tahan Vera, “jangan lagi bersujud di depanku. Orang kaya juga manusia, bukan dewa.”
“I-iya, Nyonya.” Sahut Sri.
“Nyonya begitu baik,” puji Pama.
“Hanya saja aku tinggal di bumi. Kalau tidak, orang-orang sudah menyebutku dewa.” Vera malah menyombongkan dirinya.
Arah pandang Vera beralih ke arah Ning. “Di mana cucu dan menantuku?” tanyanya.
“Mereka belum bangun, Nyonya,” jawab Ning.
Kerutan dahi menambahi kerutan di wajah tua Vera. Ia keheranan. Tidak biasanya cucunya belum bangun jam segini.
Kaki Vera melangkah tanpa aba-aba. Dia menjadi penasaran. Langkah itu mengarah menuju kamar Galak. Vera membuka pintu kamar itu begitu saja.
“Sepertinya aku tidak menikahkan cucuku untuk itu.” Vera melirik ke arah Pama yang setia mengikutinya. Sedangkan telunjuknya mengarah pada sepasang pengantin baru yang tidur dalam posisi berpelukan di atas ranjang.
.
.
.
.
__ADS_1
Digantung lagi, Guys 😂
Tinggalkan jempol, ya 😉