
“Dari mana saja kamu?!” seru Galak menyambut kedatangan Pama.
Dia langsung bangun. Memperhatikan Pama yang habis dihujani air keringat.
“Maaf, Tuan. Tadi aku pergi tanpa bilang-bilang.” Pama menunduk.
“Jadi, ke mana kamu tadi?”
“Tadi aku melihat laki-laki mencurigakan keluar dari kantor Tuan Arga. Aku mendengar mereka menyebutkan seorang perempuan berulang-ulang. Entah kenapa, aku terpikirkan tentang Nyonya Meta. Jadi aku mengikutinya dengan menaiki taksi.”
“Jadi, apa yang kamu dapatkan?”
“Keberadaan Nyonya Meta.”
Galak langsung berjalan keluar dari area mejanya. Dia menyambut jawaban Pama dengan binaran mata dan senyum semringah.
“Jadi, ada di mana dia?” tanyanya antusias.
“Di salah satu vila miliki Tuan Arga. Sepertinya dia disekap di sana selama beberapa hari ini.”
“Lalu, kamu berhasil mengeluarkannya?”
Arga bergeleng. “Aku tidak melakukan apa pun. Aku juga belum melihat pasti apa Nyonya Meta benar ada di sana.”
Seketika senyum Galak jatuh. “Bukannya kamu yang tadi bilang dia ada di sana?”
“Maaf, Tuan. Sebenarnya itu hanya dugaan saja.”
“Lalu kenapa kamu tidak mengeluarkannya?”
“Terlalu banyak penjaga di sana. Jadi aku perlu bantuan untuk menjelajahi tempat itu.”
“Kalau gitu lakukan segera!”
“Baik, Tuan. Aku akan mengirim beberapa pengawal ke sana.”
“Tunggu!”
“Iya, Tuan.”
“Aku ikut.”
“Tapi, Tuan baik-baik aja, kan?”
“Apa maksudmu?”
“Sepertinya Tuan terlalu mengkhawatirkan Nyonya Meta.”
Galak terdiam. Dia tertohok.
__ADS_1
“Aku … aku ….” Galak sampai tidak bisa memberikan jawabannya.
“Kalau Nyonya Vera sampai tahu, ini bisa menjadi masalah besar, Tuan.”
“Apa perasaanku yang harus kamu pikirkan sekarang?!”
“Maaf, Tuan. Aku akan mencari Nyonya Meta.”
Pama pun pergi dari tempatnya.
Meski Galak berniat menunda keheranannya ini, akhirnya dia menghabiskan beberapa waktunya dengan memikirkan perasaannya. Apa arti kekhawatiran ini? Ini tidak seperti Galak biasanya yang tidak peduli pada orang di sekitarnya.
Apa Galak benar jatuh cinta kepada Meta?
Galak tidak begitu mengerti akan definisi cinta. Tapi dia sangat mengerti bahwa dia tidak mau kehilangan Meta lagi.
-oOo-
Setelah melakukan berbagai rencana, akhirnya Galak bisa memasuki vila Arga dengan selamat. Sedangkan para pengawalnya dan Pama berhasil mengalihkan perhatian para penjaga di sana.
Vila ini sangat besar. Arga memang hebat karena berhasil menjadi sukses tanpa memungut warisan orang tua. Menyadari seberapa besar tekad kakaknya, Galak jadi tahu seberapa besar rasa sakit yang diterimanya.
Tindakan Arga memang salah. Namun sekali lagi, Galak kesulitan untuk marah padanya.
Galak menjelajahi seluruh ruangan di sana. Namun, ada sebuah pintu yang dikunci. Dia pun mendobraknya sekuat tenaga. Tidak mudah. Namun dia berhasil setelah peluh keringat mengguyur tubuhnya.
Semringah langsung memenuhi wajah Galak saat melihat seorang perempuan yang menghuni tempat itu memiliki keadaan yang baik-baik saja.
Seketika perempuan itu menoleh. Namun hanya sekilas. Kemudian mengembalikan perhatiannya ke arah sebelumnya. Dia tidak tampak senang karena Galak akan mengeluarkannya dari sini. Lebih tepatnya, dia tidak senang melihat Galak sama sekali.
Galak keheranan. Dia bergegas mendekati Meta. Rupanya, perempuan itu tengah menikmati sepotong piza.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Galak keheranan.
“Justru itu yang seharusnya Meta tanyakan sama Mantan Sayang Galak.” Meta membalikkan ucapannya.
“Aku hanya membebaskanmu dari sini. Kamu disekap, kan?”
“Apa seseorang yang disekap akan menikmati piza selezat ini?” Meta menunjukkan pizanya. “Aku bahkan disediakan kamar yang luas, pakaian yang indah, dan berbagai fasilitas mewah lainnya.”
Galak menyapu pandangannya ke sekitar. Melihat keadaan di sekitarnya tampak seperti di rumah biasanya turut membuatnya heran.
“Bukannya Kakak melakukan semua ini untuk membalas dendam padaku?”
“Kakak Arga memang membalas dendam sama Mantan Sayang Galak, tapi bukan sama Meta. Dia cuma bilang kalau Meta tidak perlu menunjukkan diri ke publik dan dia akan memberikan apa pun yang Meta mau. Contohnya piza ini.”
Galak tercengang. Dia khawatir mati-matian memikirkan perempuan ini, tapi perempuan ini baik-baik saja dan tampak bahagia. Tapi bukan berarti Galak mengharapkan perempuan ini menderita.
“Jadi kamu senang?”
__ADS_1
“Tentulah.Kakak Arga enggak kayak Mantan Sayang Galak yang pelit. Sayangnya udah punya istri.”
Galak menjadi kesal. Bagaimana Meta bisa membanding-bandingkannya dengan laki-laki lain?
Galak langsung bangun dan mencekal tangan Meta.
“Ayo keluar!”
“E-e-eh …. Piza Meta belum habis.”
“Nanti kubeliin seratus loyang. Tenang aja.”
“Meta yang enggak mau. Gimana perut kecil Meta bisa menyimpan makanan sebanyak itu?”
Meta menggeliatkan tangannya. Berusaha melepaskan diri.
“Mintalah apa pun. Tapi kamu harus keluar dari sini.”
“Enggak mau!” tolak Meta bersikeras. Membuat Galak semakin keheranan.
Meta mencebikkan bibirnya. Akhirnya dia bisa melepaskan tangannya dari Galak.
“Kalau Meta ikut Mantan Sayang Galak pergi dari tempat ini, lalu Meta mau ke mana? Meta harus tinggal di mana? Meta harus makan apa? Meta udah enggak punya keluarga dan karir Meta udah hancur karena skandal sialan itu.”
“Aku?”
“Apa Mantan Sayang Galak yang akan memberikan Meta rumah, makan, dan pekerjaan?”
“Aku akan memberikanmu rumah dan makanan, tapi tidak dengan pekerjaan?”
“Lalu setelah pemberian Mantan Sayang Galak habis, apa Meta harus mati secara perlahan?”
“Pemberian dariku enggak akan habis karena aku akan terus memberikanmu sebagai istriku.”
“Ma-Mantan Sayang Galak ….” Meta tercengang.
Galak tersenyum lagi. Kemudian mengusap rambut Meta. “Bukan Mantan Sayang Galak. Tapi Sayang Galak.”
“Ma-maksudnya—”
“Aku enggak akan menceraikanmu.”
Meta hampir tersenyum. Tapi bayang-bayang Vera menghentikannya.
“Tapi bagaimana sama Nenek? Bukannya dia yang mengusulkan perceraian ini?”
“Aku yang akan berbicara dengannya.”
“Apa Nenek akan setuju?”
__ADS_1
Galak mengedikkan bahu. Karena yang terpenting dalam usaha bukanlah hasilnya, tetapi seberapa besar kerja kerasnya. Jika seseorang bekerja keras, maka hasil akan mengikutinya.
-oOo-