Suamiku Galak

Suamiku Galak
58. Saat Galak Berulah 2


__ADS_3

“Sayang Galak enggak serius, kan?” tanya Meta. Meski ia sudah dijatuhkan dari atas jurang, ia masih mengharapkan gajah terbang akan datang. Padahal Upin sama Ipin, kan, sudah bilang kalau itu tidak ada.


“Aku enggak serius …,” jawab Galak.


Meta bernapas lega.


“… Tapi aku juga enggak bohong,” imbuh Galak.


Krek! Hati yang melayang di atas kepala Meta langsung pecah.


“Apa Sayang Galak enggak tahu tawaran apa ituuu,” rengek Meta. Kalau bukan karena sayang kecantikannya, Meta akan merobek-robek wajahnya sendiri saking gemas.


“Impian setiap artis, mungkin kamu salah satunya,” jawab Galak dengan tenangnya.


“Sayang Galak, kan, tahu kalau itu adalah tawaran yang berharga banget. Kenapa Sayang Galak malah tolak?” protes Meta.


“Mereka mau wawancara soal pernikahan kita, tapi aku enggak mau umbar-umbar soal kehidupan pribadi. Lagi pula aku enggak tertarik kalau wajah tampanku harus dinikmati banyak orang,” ujar Galak dengan angkuhnya.


“Tapi, itu, kan, karirnya Meta. Bukannya Sayang Galak sendiri yang bilang enggak akan ganggu karirnya Meta?” tanya Meta berusaha mengingatkan.


“Aku malah akan mendukung karirmu, tapi bukan sekarang, melainkan kalau kita udah cerai. Ingat juga, kalau selama pernikahan berlangsung, enggak ada yang namanya kerja, apalagi karir kamu yang berjalan,” timpal Galak.


Meta mengerucutkan bibirnya. Hanya saja bola matanya tidak sampai mengeluarkan kristal kaca-kaca.


Merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Galak pun mengangkat langkah kakinya. Ia pergi meninggalkan Meta.

__ADS_1


“Sayang Galak!” panggil Meta.


Langkah kaki Galak berhenti. Ia menoleh. “Ada apa lagi?” tanya Galak.


Meta menurunkan tatapannya ke arah sepasang kakinya yang bertelanjang. “Meta udah enggak punya sepatu. Sepatu Meta, kan, rusak,” tutur Meta berbohong.


“Terus?” tanya Galak seolah tidak peka.


“Beliin Meta sepatuuu …,” pinta Meta.


Apa Meta pikir Galak akan membelikannya sepatu begitu saja?


Apa lagi, setelah apa yang Meta lakukan kepada sepatu-sepatu pemberian Galak ….


“Ogah!” seru Galak.


“Terus sepatu Meta, gimana?” tanya Meta.


“Ya, belilah!” timpal Galak.


“Tapi, kan, Meta enggak punya uang,” lapor Meta.


“Ya, cari, lah,” ujar Galak.


“Kan, Sayang Galak sendiri yang nolak ladang uangnya Meta,” tutur Meta.

__ADS_1


“Kalau gitu cari ladang lainnya!” timpal Galak dengan suaranya yang terlalu rendah sampai terdengar samar-samar. Rupanya Galak sudah pergi. Meninggalkan Meta yang tengah sibuk berpikir.


Meta tidak boleh bekerja dan Galak sudah menolak ladang uangnya. Lalu bagaimana Meta harus membeli sepatu? Ia bahkan tidak memiliki sepeser uang lagi. Semua uang hasil penjualan sepatu dari Galak sudah ia gunakan untuk membeli sepatu emasnya.


Dasar Kasman sialan! Tahu saja ia mana barang yang mahal. Kelihatannya saja polos.


-oOo-


Hatchi! Hatchi!


“Kamu kenapa, Honey?” tanya Saras dengan ekspresi wajah khawatir.


Setelah merasa bersinnya mereda, Kasman mendongak. Ia tersenyum semringah.


“Enggak papa, kok, Sayang,” jawab Kasman menenangkan.


“Kalau kamu kena virus corona, gimana? Nanti enggak ada yang beliin aku sepatu sama mobil lagi.” Saras semakin khawatir.


Kasman menyentuh sepatu emas yang telah Saras gunakan. Kemudian ia bangun. Tangannya berpindah ke pundak Saras.


“Ini bukan karena virus corona, tapi karena ada yang memikirkan aku,” ujar Kasman.


Dahi Saras mengeluarkan kerutan. “Siapa?”


“Kamu.”

__ADS_1


“Aaah, Honey. Apaan, sih.” Saras memukul-pukul pelan dada Kasman saking terbawa perasaan.


-oOo-


__ADS_2