Suamiku Galak

Suamiku Galak
37. Terima Kasih


__ADS_3

Setelah Galak pergi, Meta berjalan dengan melompat-lompatkan satu kaki menuju tepi jalan. Akhirnya ia duduk di trotoar. Kemudian berusaha melepaskan satu high-heels-nya yang patah.


Meta mengangkat high-heels sampai dekat dengan wajahnya. Ia menatap benda itu dengan tatapan sengit. Kesialan ini terjadi karena benda itu.


Ah, sial! Menjadi cantik terkadang memang menyebalkan ….


“Aaah!” rintih Meta. Bola matanya sampai berkaca-kaca. Kakinya benar-benar sakit. Ia tidak kuat terus seperti ini.


Meta menoleh ke kanan dan kiri. Kini ia benar-benar kesepian. Tidak ada siapapun yang bisa ia ajak berbicara. Padahal, kan, Meta sangat suka berbicara!


Kebosanan Meta terkikis sampai Galak kembali.


Meta terkejut melihat kedatangan laki-laki itu begitu cepat. Bukannya kalau bosan, seharusnya waktu berjalan lebih lama?


“Kok udah balik?” tanya Meta.


“Kamu enggak lihat ini?” Galak menunjukkan memar di dahinya.


“Itu kenapa?” tanya Meta.


“Itu artinya kalau jambret itu enggak lari, berarti udah ketangkep,” jelas Galak.


“Jadi udah ketangkep belum?” tanya Meta.


“Udah,” jawab Galak.


Meta melihat ke sekitar Galak. Namun, ia hanya melihat Galak sendiri di depannya.


“Terus jambretnya mana?” tanya Meta.

__ADS_1


“Aku masukin saku,” jawab Galak.


“Kok muat?”


Malah Galak yang terperangah. Meta tidak benar-benar bodoh, kan?


“Ya, sama polisi, lah. Buat apa aku geret-geret jambret, apalagi masukin saku?” tutur Galak.


“Terus kita pulang?” tanya Meta.


“Iyalah. Aku enggak cita-cita buat beranak di sini,” jawab Galak.


“Tapi Sayang Galak, kan, laki-laki. Mana bisa beranak?”


Galah berdesah berat sembari melirik ke atas. “Oh Tuhan …,” gumamnya.


Meta menunduk. Pandangannya menurun ke arah kakinya. Wajahnya menjadi sedih. Dia tidak bisa pulang dengan berjalan kaki sekarang.


“Naik,” tutur Galak.


Meta menoleh ke kanan kiri. “Naik apa? Kan, enggak ada mobil di sini.”


“Naik punggungku. Biar kugendong pulangnya.” Galak menepuk-tepuk punggungnya sendiri. Bersikap layaknya seorang laki-laki.


Wajah Meta menjadi semringah. Ceria seolah mentari. Dengan tertatih-tatih ia bangun dan menempelkan tubuhnya ke punggung Galak. Setelah siap, Galak pun bangun dan mulai berjalan. Sesekali menoleh ke jalan. Berharap ada taksi yang datang. Sayangnya tempat ini sangat sepi.


“Lagian kamu, kegayaan enggak bawa mobil,” sindir Galak kesal.


“Kan, olahraga,” jawab Meta tidak tahu takut.

__ADS_1


“Iya, olahraga. Cuma aku, tapi,” timpal Galak.


“Iya, dong. Meta, kan, lagi enggak bisa olahraga,” sahut Meta menyetujui.


“Pakai high-heels segala. Kamu kira olahraga naik panggung?”


Meta malah cekikikan. Mendengar suara cekikikan itu, kekesalan Galak menguap. Tanpa sadar, ia malah tersenyum. Terkadang, menyebalnya Meta cukup menghibur.


-oOo-


Galak merebahkan punggungnya di atas sofa. Kelopak matanya terbuka. Sedangkan pandangannya mengarah ke langit-langit ruang tamu.


Hari ini adalah hari yang paling melelahkan dalam hidupnya. Setelah paginya ia habiskan dengan berolahraga, ia harus berjalan dengan menggendong Meta sampai ke rumah sakit. Meta memang perempuan, tetapi ia benar-benar berat. Terlalu banyak makan daging selama menjadi Nyonya Galak Dirga Anggara telah membuat tubuhnya dipenuhi oleh kalori.


Tek!


Galak menoleh karena suara tadi. Astri baru saja meletakkan segelas air di atas meja dan sebuah kotak P3K. Sedangkan di samping Astri, berdiri Meta dengan sebuah kruk, yang sudah menyuruhnya.


“Bu Astri bisa pergi sekarang,” tutur Meta.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Galak.


.


.


.


Boleh minta komen positifnya, Kakak?

__ADS_1


kemarin aku ngedown banget, soalnya update 11bab dalam dua hari, tapi like ama komennya masih jarang😭😭😭 aku terus kepikiran sampai malem ....🤧🤧🤧 apa nih yang kurang dari ceritaku? 😭😭


__ADS_2