
Hai-hai 🤗 Babang Galak kembali lagi ...
Maaf, kemarin kugantungin 😥 naskahnya keliru ternyata, bukan yang baru kuketik. Tapi sekarang udah beres 👍
Cuz ....
💃💃💃
Galak melirik. Wajah Meta yang diimut-imutkan itu malah terlihat menyebalkan. Galak pun membuka ketiaknya. “Kalau gitu, sini … biar kupeluk.”
Meta auto menarik tangannya. Kini gantian ia yan berdengus sebal.
“Ganteng-ganteng, kok, jorok,” sindir Meta.
Galak sendiri tidak percaya bisa bertindak seperti itu. Namun, ia tetap mengabaikan Meta.
Sesampainya di taman, tempat itu begitu riuh dan ramai. Padahal masih sangat pagi. Itu pun Meta sudah terlambat rupanya.
Beberapa orang mulai menyadari kehadirannya. Saling memandang dan mulai membicarakan. Kilatan kamera bahkan bermunculan. Meski begitu, Meta tetap bertindak tenang. Ia masih bisa beraktivitas dengan tenang karena beginilah orang-orang Indonesia. Mereka memang penggemar, tetapi bukan fanatik. Sedangkan Galak mulai merasa risih dengan perhatian lancang seperti ini. Ia terbiasa diperhatikan dengan tubuh tegap dan penuh hormat.
Meta dan Galak menghabiskan aktivitas paginya di sana. Saat hari mulai menjadi siang dan orang-orang mulai berbubaran, mereka berdua pun begitu.
Perhatian Meta tertarik pada seorang penjual es lilin keliling. Ia lelah hidup susah. Namun, es lilin itu mengingatkannya pada masa-masa di mana kebahagiaannya adalah sederhana. Ia pun meminta Galak untuk membelikan es lilin itu untuknya.
Galak pun berjalan pergi meninggalkan Meta untuk membeli lima buah es lilin. Namun, saat ia kembali, Meta tidak ada di tempat tadi. Ia malah menemukan sebuah motor yang tergeletak di atas tanah, dengan menindihi seorang perempuan.
Galak bergegas mendekati perempuan itu dan menolongnya. Membangunkan sepeda itu, lalu menjauhkan perempuan itu dari motornya.
__ADS_1
“Apa yang terjadi?” tanya Galak khawatir.
“Tadi aku dijambret dan ….” Perempuan itu seolah tak berani melanjutkan katanya.
“Dan apa?” tanya Galak penasaran.
“Dan Mbak Meta malah ngejar. Maafkan aku. Aku enggak bermaksud celakain Mbak Meta.” Perempuan itu menyesal.
Ah, sial! Apa sih yang dilakukan rubah betina itu?
Galak langsung bangun.
“Ke mana mereka pergi?” tanya Galak.
Perempuan itu menunjuk ke jalan lurus di depan Galak. Galak langsung berlari tanpa tujuan. Ia hanya tahu kalau ia harus mengejar Meta.
-oOo-
Jambret itu berlari sangat kencang. Meta memang pandai berlari. Ia bahkan pernah menjuarai lomba semasa sekolah. Namun, dengan sepatu yang ia kenakan, kini ia tidak sedang berada di posisi menguntungkan. Sudah berat, Meta tidak bisa berlari nyaman lagi.
“Aaah!” jerit Meta.
Ah, sial! Kaki Meta terpeleset sampai high heels-nya patah. Kakinya terasa sakit. Meta menjadi kebingungan. Ia harus mengejar jambret itu, tetapi tidak dengan keadaannya sekarang. Sialnya, tempat ini tidak begitu ramai. Meta tidak yakin ada seseorang yang bisa ia mintai tolong.
Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundak Meta. “Waaah!” jerit Meta saking terkejut.
“Ini aku!” seru seseorang.
__ADS_1
Tangan itu terlepas. Kini seorang laki-laki gagah berdiri di depan Meta.
“Sa-sayang Galak!” teriak Meta.
“Aku bisa mendengar meski kamu berbisik. Jadi tenangkan suaramu,” timpal Galak.
“Meta enggak bisa tenang, Sayang Galak. Itu … itu ….” Meta menunjuk belakang Galak.
“Itu apa?” Galak malah keheranan.
“Itu jambretnya gimana? Kejar dong!” seru Meta.
“Biarin aj—“
“Kalau enggak ketangkep, kasihan yang punya tas. Buruan, kok!” tegas Meta.
Akhirnya Galak berbalik dan melanjutkan larinya. Menyelesaikan tujuan Meta yang terpotong.
Ah, sial! Apa yang sebenarnya Galak lakukan ini? Ini tidak seperti dirinya! Untuk apa ia repot-repot menolong orang lain?
Mengabulkan perintah Meta—
Entah apa yang Galak pikirkan sebenarnya.
Ah, iya …. Galak bahkan tidak sedang bisa berpikir.
-oOo-
__ADS_1