
“Ngidam-ngidam, hamil sembilan bulan tahu rasa kamu,” sindir Galak dengan suara seperti lirihan, tetapi mampu didengar Meta.
Meta langsung bangun. Bola matanya memantulkan bintang-bintang gemerlapan. “Enggak papa, enggak papa. Asal Sayang Galak yang hamilin, Meta siap, kok. Sepenuh hati malahan.” Meta menyibakkan rambutnya ke belakang sehingga menampilkan leher jenjangnya.
Galak menggeleng-gelengkan kepala. Bagaimana ia memiliki istri yang begitu kurang ini?
Oh Tuhan …. Kalau Engkau tidak bisa memberikan Meta otak, setidaknya berikan dia rasa malu sebanyak-banyaknya. Bagaimana bisa, ada perempuan yang mengatakan itu tanpa malu?
“Ora sudi!” seru Galak.
“Aish!” desis Meta. Ia kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
“Hei!” teriak Galak. Ia bergegas mendekati ranjang, lalu memukul bagian ranjang di samping Meta dengan handuk.
“Keluar, kok!” usir Galak. Ia menunjuk ke arah pintu kamarnya.
“Meta, kan, belum puas liat roti sobek,” tolak Meta.
__ADS_1
“Roti sobek apaan, sih?” tanya Galak tidak mengerti.
“Itu, lho ….” Meta mengerucutkan bibirnya. Sedangkan pandangannya melirik ke arah garis-garis kotak cokelat yang mewarnai bagian depan Galak.
Galak melirik ke bawah, ke tubuhnya sendiri. Kini ia mengerti maksud Meta. Ia langsung menutupi dadanya kembali dengan handuk. Memeluk dadanya erat-erat. Takut-takut kalau Meta akan menerkamnya sekarang juga.
“Aish …. Kamu itu enggak punya malu banget, sih!” sentak Galak.
“Ngapain malu. Sama suami sendiri, aja,” gumam Meta tidak merasa bersalah.
Galak mengembuskan napasnya berat. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mengusir perempuan sialan ini. Ia berbalik dan pergi ke lemari. Sebenarnya kopernya yang berada di kamar utama memang belum dipindah. Namun, ia masih menyimpan beberapa baju lamanya di sana. Meski mungkin akan terasa kekecilan. Ia pun mengambil setelan pakaian dari sana. Lalu membawanya ke kamar mandi. Mungkin itu adalah satu-satunya tempat yang aman baginya dari Meta. Di mana mata dan mulut Meta takkan sampai di sana. Ia pun mengganti pakaiannya di sana.
Usai mengganti pakaiannya dan keluar dari kamar mandi, terlihat Meta masih tak bergerak sedari tadi. Galak terus berjalan dan berusaha mengabaikan perempuan itu. Baru saja keluar dari pintu, si kuntilanak kembali menggelandoti lengannya. Pantas saja langkah Galak menjadi berat.
“Sayang Galak mau ke mana?” tanya Meta dengan wajah diimut-imutkan. Ia bahkan mengerjap-erjapkan matanya.
“Mau sarapan. Jadi, lepasin,” sahut Galak dengan suara melemah. Ia sudah lelah terus berteriak gara-gara Meta.
__ADS_1
“Terus kita olahraga, ya,” ajak Meta.
“Enggak dulu. Aku masih capek,” tolak Galak. Ia sungguh lelah karena sejak mendarat kemari, ia belum bisa beristirahat dengan baik. Selalu ada pengecoh di setiap siang dan malamnya.
“Tapi Meta ngidam olahraga di taman,” rengek Meta.
“Besok aja,” dalih Galak.
“Beneran besok, ya? Janji?”
“Iya-iya. Udah lepasin.”
Meta melepaskan tangannya. Akhirnya Galak bisa bernapas lega. Selama sehari ini, pun, Meta tidak lagi mengganggunya. Karena usai sarapan, Galak kembali ke kamar untuk merapikan kamarnya.
Galak hanya menyuruh pembantu mengemasi barang-barangnya yang berada di kamar utama, lalu memindahkan ke kamarnya. Kemudian Galak yang mengurusi segalanya. Kamar adalah tempat pribadinya. Tidak mungkin ia akan membiarkan orang lain menyentuh barang-barang di sana.
-oOo-
__ADS_1