
Meta berbalik lagi. Ia melanjutkan langkahnya yang terhenti. Meninggalkan Astri yang semakin bertanya-tanya akan tingkah anehnya.
“Apa-apaan Nyonya baru itu, sih? Kalau enggak mau didengerin, enggak usah ngomong. Pendem aja dalam hati,” gerutu Astri saking sebalnya.
-oOo-
Ah, sial! Meta memang licik, tetapi Tuhan tidak memberikannya otak yang sempurna.
Astri tadi sudah bilang, kan, kalau pintu kamar ini dikunci?
Lalu kenapa Meta kemari dengan berjalan dan bertingkah seolah dirinya adalah orang keren?
Sekarang bagaimana ini? Tidak mungkin, kan, Meta menemui Astri untuk meminta kunci? Bawahannya itu pasti akan menyebutnya payah dan menyebarkannya ke sana kemari.
Lalu bagaimana Meta bisa masuk? Kalau dia memaksa membuka pintu itu atau menggedor-gedornya seperti tukang rentenir, maka bukan hanya Astri, tapi seluruh orang di Indonesia raya merdeka-merdeka ini akan tahu kalau ia adalah orang payah.
Meta berjalan menjauhi tempat itu. Ia pergi keluar untuk mencari Astri. Ia ingat kalau Astri tadi pergi keluar.
Sesampainya di halaman, Meta menemukan Astri tengah mengobrol dengan seorang tukang kebun laki-laki yang terlihat seusia dirinya. Meta mengernyitkan dahi. Kedua orang itu tidak terlihat memiliki hubungan yang normal. Sedangkan laki-laki itu berwajah datar dan terlihat dingin, si Astri malah terus berbicara dengan bibirnya yang memerah, sesekali menyenggol seolah-olah mereka adalah dua orang yang akrab. By the way, mereka tidak pacaran, kan?
“Bu Astri!” panggil Meta.
__ADS_1
Mendengar suara panggilan, Astri menghentikan tawanya. Ia menoleh ke sana kemari mencari asal suara.
“Bu Astri!” panggil Meta lagi.
“Oh!” Akhirnya Astri menemukan asal suara itu.
“Iya, Nya!” sahutnya.
Astri menoleh ke laki-laki muda yang tadi diajaknya bicara. “Nanti lagi, ya, Man,” pamitnya.
Laki-laki itu hanya tersenyum tipis. Dalam hati ia berkata dengan penuh penyesalan, Masih lagi?
Astri berlari kecil mendekati Meta yang berdiri di teras rumah. “Ada apa, Nya?” tanya Astri.
Astri membelalakkan matanya. Padahal belum lama sejak pernikahan tuannya, tapi Nyonyanya sudah ngidam—
“Nyonya hamil?” tanya Astri.
“Enggak,” jawab Meta.
“Tapi—“
__ADS_1
“Aku, kan, cuma bilang kalau aku ngidam,” jelas Meta memotong ucapan Astri.
“Tapi, kok, ngidamnya sekarang?” tanya Bu Astri.
“Iya. Ngidamnya sekarang, hamilnya nanti. Biar bayinya enggak ngileran nanti. Kan, kasihan rahimku yang cantik kalau diilerin di sana,” jelas Meta.
Astri memaksakan senyumnya. Sejak awal Nyonyanya memang aneh. Sepertinya ia harus mulai terbiasa dengan ini.
“Jadi, Nyonya ngidam apa?” tanya Astri.
“Cabe rawit satu karung,” jawab Meta.
Astri kembali membelalakkan matanya. “Nyo-nyonya beneran ngidam itu?” tanyanya tidak percaya.
Meta menganggukkan kepala.
“Tapi, kalau Nyonya enggak kuat, gimana?” tanya Astri khawatir. Kalau sampai terjadi apa-apa dan tuannya tahu kalau dirinya adalah seorang kaki tangan, apa yang akan terjadi pada nasibnya? Bagaimana kelanjutan kisah kasihnya yang berjudul Kepentok Cinta Tukang Kebun?
Meta menaikkan kedua sudutnya. Kedua tangannya memegangi pundak Astri. “Tenang aja, Bu. Meta enggak apa-apa, kok. Meta pasti kuat. Kan, Ibu yang ngabisin.”
--Eh?
__ADS_1
Jadi, Meta benar-benar berniat menyelesaikan kisah kasihnya si Astri?
“Buruan, gih, Ibu beli. Biar Meta tunggu di sini,” ujar Meta dengan tenangnya. Seolah-olah satu karung hanya berisi tiga atau empat cabai. Meta bahkan tidak kuat mencicipi satu saja.