
“Tunggu!” suara Galak akhirnya muncul lebih dulu.
Meta yang baru mengangkat langkahnya beberapa kali, akhirnya menghentikan, memberikan kesempatan sedikit saja.
“Kamu mau ke mana?” tanya Galak.
Meta terperangah. Ia tak menyangka bisa mendapatkan pertanyaan itu di pagi yang indah ini.
Lagi pula, siapa Galak menanyai itu kepada Meta?
Toh, Galak hanya menikah tanpa merubah statusnya sebagai suami.
“Bukan urusan Sayang Galak, eh …, maksudnya CALON MANTAN SAYANG GALAK,” elak Meta.
“Setidaknya sarapan dulu sebelum pergi. Jaga kesehatanmu baik-baik,” saran Galak.
Meta mengembuskan napasnya. Entah bagaimana laki-laki itu dengan tidak tahu malunya setelah merendahkan Meta, malah terus menanyai Meta seolah anggota keluarga.
Meta pun berbalik. Kedua tangannya berkacak di pinggang.
“Terserah Meta sehat atau enggak, itu bukan urusannya Calon Mantan Sayang Galak. Toh, Meta cuma nikahin Calon Mantan Sayang Galak, bukan jadi istrinya Calon Mantan Sayang Galak. Meta juga enggak lagi mengandung anaknya Calon Mantan Sayang Galak. Jadi Calon Mantan Sayang Galak tenang aja,” tutur Meta.
Galak melirik sinis ke arah Meta. Entah apa yang sebenarnya perempuan itu katakan ….
__ADS_1
“Enggak ada yang baik dari sesuatu yang berlebihan, termasuk rasa percaya dirimu itu. Aku bukannya khawatirin kamu, tapi khawatirin diriku sendiri. Kalau kamu sampai mati gara-gara enggak makan, nanti dikiranya aku yang bunuh kamu,” sindir Galak.
Ah, sial! Kenapa Meta harus bersikap jual mahal, sih, tadi? Sudah tahu harganya diri sendiri murah ….
Eh-eh, tapi, kan, jet pribadi harganya mahal ….
Hore! Meta harganya mahal!
Galak membelokkan arah pandangannya ke arah berlawanan dari arah: di mana Meta tadi hendak pergi. Terserah apa keputusan Meta selanjutnya.
Pada akhirnya, Meta turut berjalan di belakang Galak. Mengikuti terserah ke mana laki-laki itu akan pergi. Meta hanya bisa memasang ekspresi wajah manyun.
Di meja makan, berbagai macam makanan sudah dihidangkan. Namun, rupanya masih ada hidangan lain yang Bu Astri lupa menyajikan.
Bu Astri yang sedari tadi berdiri pada jarak yang jauh dari meja makan, segera mendekati Meta. Meta tidak pernah memanggilnya saat hendak makan. Bu Astri menjadi khawatir sendiri. Takut-takut kalau ada yang kurang.
“Iya, Nya. Apa ada sesuatu yang Nyonya butuhkan?” sahut Bu Astri.
“Bukan sekadar dibutuhkan, tapi ada yang kurang di sini!” tegas Meta sembari menunjuk seluruh makanan yang dihidangkan di sana.
Alis kanan Galak terangkat. Setelah diperhatikan baik-baik, sepertinya tidak ada yang berbeda dari hari-hari biasanya. Sebenarnya apa yang kurang?
… Lebih tepatnya, ulah apa yang tengah Meta tambahkan.
__ADS_1
“Maaf, Nya. Sepertinya aku kelupaan. Tapi apa, ya, Nya?” tanya Bu Astri pasrah.
“Racun,” jawab Meta.
Dahi Bu Astri mengernyit. Racun yang Meta maksudkan tidak seperti yang Bu Astri pikirkan, kan?
“Racun untuk apa, ya, Nya?” tanya Bu Astri.
“Ya, racun untuk dimakanlah,” jelas Meta.
“Ta-tapi, racun, kan membunuh. Siapa yang akan memakannya?” Bu Astri menjadi khawatir. Bagaimana kalau Meta sampai ngidam yang aneh-aneh? Bu Astri masih sanggup dengan cabai rawit, tapi racun ….
“Udah. Bu Astri bisa pergi aja,” tutur Galak mengambil alih pembicaraan.
Bu Astri segera pergi tanpa ba-bi-bu, sebelum Meta memaksanya melakukan sesuatu yang lebih aneh lagi.
.
.
.
Gimana 3 part yang barusan ku publis menurut kalian? 😁😁
__ADS_1
Semoga memuaskan 🤗🤗🤗