
BUKAN UPDATE
Hai-hai 🤗
Apa kabar?
Udah lama banget, yak?🤭
Kalau aku lanjutin cerita ini, kira-kira bakal ada yang baca gak yak?
please dijawab 😥 Jawaban kalian penentu kelanjutan cerita ini 🤧🤧
Jujur aja, aku merasa minder. Saat orang lain bikin cerita-cerita dakwah, aku justru bikin cerita kocak penuh dosa kayak gini 🤧🤧 tapi, kembali ke tujuan awal, cerita ini dibuat untuk hiburan!
Jadi, adakah yang masih mau mendukungku dan menemaniku 😥😥
Terima kasih 😁
PART DI BAWAH BUKAN UPDATE. TAPI, ULANGAN BAB SELANJUTNYA
Galak membalikkan badannya. Kini ia melangkah masuk ke dalam kediaman keluarga besarnya. Ia langsung menuju ruang kerja Vera. Usai mengetuk pintu, ia pun masuk ke dalam. Rupanya perempuan tua itu sudah menunggunya sedari tadi.
“Ada apa, Nek?” tanya Galak usai menempatkan pantatnya di atas kursi di depan Vera.
“Setidaknya ceritakan dulu bulan madumu,” timpal Vera.
“Ayolah, Nenek. Lagi pula bulan madu ini hanya formalitas untuk pernikahan kami. Tidak ada liburan atau apa pun yang menyenangkan,” jelas Galak.
“Tapi aku mendengar banyak hal tentang bulan madu kalian: mungkin seperti pernikahan bahagia,” sindir Vera.
“Nenek bukannya bermaksud menginginkan cucu dariku, kan?” tebak Galak.
__ADS_1
Vera malah tertawa pelan. “Aku tidak mengharapkan apa pun darimu dengan perempuan gila itu. Tapi kalau sudah terjadi, apa boleh dikata?”
Galak membebaskan napas yang sempat mengunjungi dadanya. “Tenang aja, Nenek. Setelah tiga bulan sejak pernikahan, kami akan berpisah. Tidak akan ada yang terjadi di antara kami,” bela Galak.
“Terjadi apa-apa juga tidak apa-apa. Mungkin anak kembar tiga akan cukup meramaikan istana kosong ini.”
Galak hanya melirik ke arah Vera. Rupanya neneknya masih belum berhenti menggodanya.
Setelah kediaman berdiri di antara sepasang nenek dan cucu itu, Vera mendorong sebuah undangan ke arah Galak sembari mengusir kediaman ini. Benar saja. Usai Galak menarik undangan itu, keheningan terpecahkan pekikannya, “Apa-apaan ini, Nenek?” Galak terperanjat membaca undangan pesta yang menautkan dirinya, tanpa sepengetahuannya.
“Lagi pula kamu akan segera berpisah dengan Meta. Jadi mempercepat penobatanmu sebagai ahli waris keluarga ini adalah jalan terbaik untuk sekarang,” ujar Meta berusaha menjelaskan tanda tanya yang bersemayam dalam otak Galak.
Dengan mulutnya yang masih terbuka, Galak kembali melemparkan lirikannya ke arah Vera. Ia tahu kalau perpisahannya dengan Meta sekadar alasan saja. Galak bahkan baru menceritakan tentang percepatan perpisahan ini baru saja. Masak undangan sudah dicetak saja?
Galak bahkan menduga kalau undangan yang sama sudah ditebar ke mana-mana.
Galak meletakkan undangan itu dengan posisi berbalik sehingga namanya bersembunyi di atas meja.
“Aku mengenal baik kedua cucuku. Kamu memang bukan orang yang ambisius, tapi tidak dengan kakakmu. Jika dia sudah menginginkan sesuatu, maka kekalahan tidak akan berani mengisi kamusnya,” timpal Vera.
Dahi Galak berkerut. Ia masih tak mengerti apa hubungan semua ini?
“Apa maksud Nenek?” tanya Galak.
“Kakakmu pasti sedang merencankan sesuatu untuk menggagalkan penobatan ini jika lebih lama lagi,” jawab Vera.
“Untuk apa kakak melakukan itu? Jika dia mau, dia bisa mengambil haknya begitu saja.”
“Apa kamu pikir aku akan membiarkannya?”
Seketika mata Galak melebar. Kini ia mengerti bagaimana alur cerita ini berjalan.
__ADS_1
“Bahkan aku tidak akan membiarkannya menyentuh sepeser pun warisan peninggalan kakekmu,” imbuh Vera.
“Jadi … jadi Nenek tidak mendapatkan persetujuan apa pun dari kakakku?” tanya Galak.
“Untuk apa aku meminta persetujuan anak orang lain dalam mengatur harta suamiku,” jawab Vera sembari memalingkan wajahnya. Sebenarnya ia enggan mengakui ini kepada Galak.
Benar. Rupanya benar seperti yang Galak pikirkan. Ini adalah cerita tentang keegoisan Vera.
“Anak orang lain bagaimana? Kak Arga itu masih anak kandung ayahku!” tegas Galak.
Vera mengangkat wajahnya kembali. “Kalau bukan karena ibunya yang tamak akan uang, ayahmu sudah menikah lebih dulu dengan ibumu,” Vera lebih menegaskan.
“Pada akhirnya aku terlahir di antara pernikahan pertama ayahku. Apa itu masih kurang?” tanya Galak.
“Kenyataannya kamu tidak pernah memiliki hak untuk menyebut anakku sebagai ayah dalam hukum negara,” Vera menambahi.
Ah, sial! Selalu saja Galak kehabisan kata-kata saat berdebat dengan Vera! Padahal terlalu banyak pembangkangan yang mengisi pikirannya. Sekali lagi Galak hanya bisa memalingkan wajahnya.
“Jangan terlalu memikirkan Arga. Dia sudah bahagia bersama istri dan anaknya yang akan lahir sebentar lagi. Lagi pula dia sudah kaya dengan hasil usahanya sendiri. Jadi, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan tentang pembagian warisan ini,” bujuk Vera.
Pembagian warisan?
Galak ingin sekali terkekeh mendengarnya. Warisan ini bahkan tidak dibagi kepada siapa-siapa, hanya diberikan penuh kepada Galak.
Oh, kakaknya itu ….
Pantas saja setelah melangkah pergi dari rumah ini, Arga tidak pernah menghubungi Galak lagi. Seolah-olah kebersamaan semasa kecil tidak pernah terjadi.
-oOo-
maap ya, kakak. karena ada tugas revisi mendadak, untuk sementara story ini kuhiatusin 😭😭😭
__ADS_1