
Meta mengalihkan perhatiannya dari Astri yang baru saja pergi, ke arah Galak yang menatapnya dengan keheranan. Meta malah meninggikan senyumnya. Ia tidak langsung menjawab. Malah berjalan sampai duduk di samping Galak.
“Makasih,” tutur Meta.
Galak mengerti. “Kalau makasih banget, cepetan pergi. Aku capek dan butuh istirahat,” jelas Galak.
“Tapi kenapa Sayang Galak enggak obatin juga lukanya di rumah sakit tadi?” tanya Meta.
Luka?
Galak melirik ke atas.
Ah, Galak baru ingat akan lukanya. Ia terlalu memikirkan Meta sampai lupa pada diri sendiri.
“Luka kecil aja, kok,” jawab Galak berbohong. Tidak keren, dong, kalau dibilang lupa.
Meta mengambil kotak P3K dari atas meja tadi.
“Kamu mau apa?” tanya Galak.
“Kalau cuma luka kecil, Meta bisa obatin, kok,” tutur Meta.
Galak menyipitkan matanya. Apa pengacau ini benar-benar bisa menyembuhkan?
Meta memasangkan obat antiseptik ke dahi Galak, sesekali meniup, meski Galak tidak sampai menjerit kesakitan. Kemudian menutupinya dengan plaster.
__ADS_1
Setelah selesai, Meta meletakkan kotak P3K itu dan menggantinya dengan segelas air putih. Meta menyodorkan segelas air putih itu kepada Galak.
“Ini minuman buat Sayang Galaknya Meta,” tutur Meta.
Galak bernapas lega. Akhirnya Meta tidak membuat masalah seperti biasa. Ia pun mengambil gelas itu dan meminum air di dalamnya.
“Karena udah bantu Meta, Sayang Galak pengen hadiah apa?” tanya Meta.
“Jauh-jauh dariku,” jawab Galak. Kemudian ia meletakkan gelasnya ke atas meja.
“Enggak bisa, dong! Sayang Galak, kan, udah jadi suaminya Meta, berarti Meta enggak bisa jauhin Sayang Galak. Kita tetep harus deket kayak langit sama bintang,” ujar Meta.
“Langit sama bintang itu jauh,” jelas Galak.
“Tapi kelihatannya nempel, kok.” Meta tidak mau salah.
“Kalau gitu biar Meta yang minta hadiah,” tutur Meta.
“Buat apa?” tanya Galak.
“Kan, kaki Meta masih sakit. Dan orang sakit kudu dikasih hadiah biar cepet sembuh,” jelas Meta.
“Jadi kamu mau hadiah apa?” tanya Galak.
Meta menegakkan punggungnya, tengah melakukan persiapan. Kemudian mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
“Kamu ngapain? Bibirmu kelilipan?” sindir Galak.
“Maksudnya dicium! Masak Sayang Galak enggak peka-peka, sih?” gerutu Meta saking sebalnya.
“Ogah!” tolak Galak.
“Tapi Meta pengen hadiaaah! Biar cepet sembuh!” tegas Meta.
“Kamu terus-terusan gini, enggak papa. Lagian udah ada Kasman yang kuat gendong kamu sana-sini,” tutur Galak.
Meta tidak bisa menerima penolakan Galak begitu saja. Saat Galak bangkit dari duduknya, Meta langsung menarik keras tangan Galak sehingga Galak jatuh menibani dirinya. Entah karena keberuntungannya bagus atau Tuhan yang begitu menyayanginya, bibir Galak mendarat tepat di atas bibir Meta.
Seketika mata Galak membelalak. Tentu saja ia sadar dengan posisinya saat ini. Tanpa memberikan waktu lebih banyak lagi, Galak langsung melepaskan bibirnya dan ciuman itu tidak benar-benar terjadi.
Ah, sial! Ingatan itu kembali lagi!
Kurang agresif kamu, dasar payah!
Kurang agresif kamu, dasar payah!
Kurang agresif kamu, dasar payah!
Ejekan Meta mulai terngiang-ngiang di kepala Galak.
“Apa yang kamu lakuin itu?!” karena frustasi, Galak sampai meneriaki Meta.
__ADS_1
Meta mengerucutkan bibirnya. Ia kesal karena penolakan Galak. Memangnya apa yang kurang dari dirinya? Selain cantik, Meta adalah seorang pencium yang baik.
Meta tidak mau kalah begitu saja. Ia pun menjerit, “Sayang Galaaak …. Sakiiit ….”