
Pagi semua 🤗🤗🤗
Kalau ini enggak pagi, berarti updatenya telat 😅😅
Tinggalkan jempol dan komennya ... Biar halu si Sutor makin ketinggian 😆😆
Cuz ....
💃💃💃
Meta berjalan dengan kakinya yang lemah ke arah ranjang. Kemudian ia duduk di atasnya. Tatapannya sayu. Ia bahkan mengembuskan napasnya dengan berat.
Baru saja ia menutup pintu kamarnya. Beberapa pekerja telah membersihkan barang-barang Galak dari kamar ini dan memindahkannya ke kamar utama kedua. Tersisa Meta, barang-barangnya, dan kesendiriannya.
Ini memang awal, tetapi Meta sudah sejauh ini dengan Galak. Ia menjadi khawatir, bagaimana kalau ia dan Galak semakin jauh? Bagaimana jika ia tidak berhasil mendapatkan anak dari Galak? Apa ia akan menjadi orang yang terlunta-lunta lagi? Diejek orang sana-sini karena karir dan pernikahannya hancur begitu saja?
Tidak bisa! Meta tidak bisa menerima itu semua! Sebelum waktunya habis, ia harus berjuang sekuat tenaga! Bahkan jika janur kuning sudah melengkung, pintu rumah tangga masih terbuka dengan sangat lebar ….
Tok-tok-tok! Seseorang mengetuk pintu kamar Meta.
Siapa lagi?
Bukannya para pekerja harusnya sibuk di kamar Galak?
__ADS_1
Meta bangun. Ia beranjak dari tempatnya dan melangkah ke arah pintu untuk membukanya.
Seorang perempuan paruh baya tak asing berdiri di depan pintu itu dengan wajah pucat pasi. Sedangkan di sampingnya sudah tergeletak sebuah karung goni kecil.
“Bu Astri ngapain di sini?” tanya Meta keheranan. Dahinya mengernyit.
“Tadi, kan, Nyonya yang suruh beli cabe rawit sekarung? Ini Nyonya. Tapi apa Nyonya masih ngidam?”
Apa Astri berpikir kalau ucapan Meta tadi serius? Meta bahkan baru mengingatnya sekarang. Namun, mau bagaimana lagi, namanya juga di bawah majikan.
Meta malah tersenyum. Ia ingin sekali tertawa melihat wajah pasi Bu Astri. Namun, itu disebut tidak sopan, kan?
“Tadi Meta udah dapet roti sobek,” jawab Meta.
“Maksud Meta, Meta enggak jadi ngidam cabe rawitnya. Soalnya Meta tadi udah dapet roti sobek. Udah lega sekarang. Enggak bakal ileran nanti dedek bayinya,” jelas Meta.
Seolah rantai yang mengikat perut Astri terlepas. Astri bernapas lega. Rupanya Nyonyanya ini tidak benar-benar gila.
“Terima kasih, Nyonya.” Astri menunduk hormat. Kemudian ia menunjuk karung di sampingnya. “Lalu bagaimana kabar selanjutnya dari cabe ini?” tanyanya.
“Terserah Bu Astri aja. Bu Astri bikin jus juga enggak papa,” jawab Meta.
“Jus?” Astri mengernyitkan dahi. Cabe rawit ini tidak terlihat oranye, kan, di pandangan Meta?
__ADS_1
“Meta cuma bercanda, kok, Bu. Jangan serius-serius. Nanti cepet tua kayak Sayang Galak,” sindir Meta.
“Tapi aku lebih tua dari Tuan Galak,” jelas Astri membenarkan.
“Tapi Bu Astri, kan, masih awet muda. Masih cantik. Masih kayak Nikita Willy,” puji Meta.
Astri menggigit bibirnya dengan pandangan menurun. Pujian Meta membuatnya merasa malu.
“Makasih, Nya,” kata Astri.
“Iya. Sama-sama,” sahut Meta.
“Kalau gitu, aku pamit dulu, Nya,” pamit Astri.
Astri mengangkat karung itu ke atas kepala. Kemudian berbalik dan hendak melangkah. Namun, ia langsung berhenti.
“Eh, tunggu, Bi!” tahan Meta.
Astri langsung menoleh. “Iya, Nya. Ada apa?” sahut Astri.
“Ada yang mau Meta tanyain,” ujar Meta.
“Emangnya, apa, Nya?” Astri menjadi penasaran.
__ADS_1
Meta keluar pintu untuk memerhatikan suasana. Ia melirik ke kanan-kiri. Melihat keadaan aman dan tak ada siapapun yang mengintai, ia membisikkan sesuatu kepada Astri, “Ayo masuk dulu, Bu.”